.
.
.
.
.
Alden sukses mendiamkan Leo saat tau apa yang terjadi pada Ares, tentang hukuman Langit juga tentang Leo yang memukul Ares.
Alden marah karena Leo bertindak semaunya sendiri, bahkan Alden juga marah pada Langit. Beruntung Langit dan Mega mendengarkan penjelasan Alden dan Alta tentang penyebab sakitnya Alden seminggu lalu.
"Mas Alta, bang Ares belum pulang ya?" Alden yang baru saja masuk kedalam rumah dan melihat Alta keluar dari dapur langsung bertanya.
"Belum, katanya dia ada kelas sampai sore." Alden merengut, seminggu ini dia jarang melihat Ares dirumah.
"Alden jarang lihat bang Ares dirumah mas, biasanya jam segini atau gak malam Alden pasti liat bang Ares dirumah." Alta hanya bisa mengelus kepala Alden.
"Kita udah jelasin ke papa Den, berdoa aja semoga papa cepet cabut hukuman Ares." Alden mengangguk.
"Tapi bang Ares gak salah mas, bang Ares malah bela-belain jemput Alden, bahkan gendong Alden ke kamar meskipun kaki nya lagi terkilir." Alta ingat, setelah Ares menyerahkan kunci mobil juga kartunya. Alta mendapat laporan dari Igel kalau ternyata kaki Ares terkilir dan bengkak lumayan parah, namun Ares malah mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Awas aja kalau papa gak cabut hukuman bang Ares, Alden mau marah!"
.
.
.
.
.
Leo uring-uringan, semua karena Alden mendiamkan dia. Hanya karena Ares di hukum, dia di diamkan oleh tiga orang saudaranya.
"Kenapa lagi lo Le?" Leo menoleh saat pundaknya di tepuk teman sekelasnya.
"Alden marah sama gue."
"Masih masalah yang sama? Atau ganti lagi?" Leo berdecak melihat teman sekelasnya.
"Masih masalah yang sama, cuma gara-gara anak selingkuhan kembaran gue marah ke gue."
"Gak mau lo hajar aja?" Leo mengernyit sebelum melayangkan pukulan pada kepala temannya itu.
"Lo yang bener aja kalau ngasih ide Bambang! Gue nonjok dia sekali aja sampai sekarang gue di diemin Alden, apa lagi gue hajar!" teman sekelas Leo itu tampak merengut sambil mengelus kepalanya.
"Nama gue Bastian njir, bukan Bambang! Lagian ya kenapa dua kakak lo itu ngebela kakak baru lo?" Leo mengedikan bahu nya.
"Mana gue tau, pingin gue tonjok tapi nanti makin ribet urusannya." Bastian tertawa melihat wajah kesal Leo.
"Lo pingin ngehajar orang? Anak Merdeka nantangin tawuran, ikut?" Leo mengangguk tanpa pikir panjang.
"Ikut, kapan?"
"Besok, kita bolos jam sepuluh." Leo tersenyum miring saat mendengar ucapan Bastian.
"Kabarin gue aja."
.
.
.
.
.
Ares menatap tabung obat nya lekat, hanya tinggal beberapa butir. Berarti Ares sudah harus kembali melakukan pengobatan, tapi Ares tahu jika biaya pengobatannya sangat mahal. Ares segera menyimpan obatnya saat ponsel nya berbunyi.
Ares memang mempunyai tabungan, juga uang peninggalan dari sang bunda, tapi Ares tidak bisa hanya mengandalkan itu saja.
"Sen." Rasen yang kebetulan ada di studio bersama Ares langsung menoleh.
"Apa?" Rasen mendekati Ares, memeriksa apakah sahabatnya itu perlu sesuatu.
"Gak apa, manggil doang." Ares mengatakan itu sambil fokus pada layar ponselnya.
"Daffa bilang kamu bajingan." Rasen mendelik saat Ares menunjukan chat room nya dengan Daffa.
"Ya tuhan Ares! Daffa sialan, kenapa dia ngajarin Ares ku ngomong kasar!" Rasen dengan cepat mengambil ponselnya sendiri dan menghubungi Daffa, meninggalkan Ares yang hanya tersenyum tipis.
KAMU SEDANG MEMBACA
Constellation (Sudah Terbit)
FanfictionAntares tidak menyangka bahwa kehilangan sang bunda akan membawanya pada duka yang mendalam. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi tepat di depan matanya membuat Antares kehilangan cahaya hidup nya. Antares tidak pernah mengenal siapa ayahnya, karena...
