.
.
.
.
.
Igel merasa Ares menjaga jarak dengan mereka, laki-laki mungil itu membatasi interaksi mereka. Bahkan saat Alden mencoba berbicara lebih dekat, Ares seperti mencari pengalihan.
"Bang Ares kenapa sih?" Alden menggerutu saat makan malam, karena lagi-lagi Ares menolak untuk makan bersama mereka.
"Ngapain sih lo masih peduli sama dia? Dia aja gak peduli sama kalian!" Leo yang mendengar Alden menggerutu menyahut sarkas.
"Udah lah Le, kamu jangan gitu. Kalau bang Ares gak peduli sama kita, dia gak akan masakin kita makan malam." Leo menatap sebal pada Alden, karena kembarannya itu membela Ares.
"Kalian nerima dia? Kalian serius?" Leo menatap saudara-saudaranya tidak percaya.
"Gak ada salahnya nerima Ares Le, selama ini dia juga gak pernh macem-macem." Leo semakin sebal saat mendengar Alta ikut membela Ares.
"Terus aja bela dia mas, dia itu bukan siapa-siapa kita! Ares itu cuma anak hasil perselingkuhan papa sama ibu nya yang pelacur!"
Brak
Semua terkejut saat Igel membanting sendoknya setelah Leo mengatakan itu. Mereka cukup was-was saat melihat Igel marah, karena bungsu dari kembar tiga itu hampir tidak pernah benar-benar marah.
"Lebih baik lo diem bang! Lo gak tau apapun soal masa lalu papa, mama sama bunda nya bang Ares!" Rius langsung menatap lekat pada Igel yang baru saja membuat semua saudaranya terdiam bingung.
"Mau apapun masa lalu mereka, dia tetap anak dari pelakor Rigel!" Igel mengepalkan tangannya, dia hanya khawatir jika Ares mendengar ucapan Leo.
"Jaga ucapan lo bang Le! Kalau gue buka fakta keluarga kita, gue bisa jamin lo gak bakal punya muka buat ketemu bang Ares!" ucapan Igel semakin membuat Leo meradang.
"Apa maksud kamu Gel? Apa yang kita gak tau soal keluarga kita?" Igel mengepalkan tangannya saat mendengar pertanyaan Alta.
"Apa ini ada hubungannya sama omongan kamu ke bang Ares malam itu Gel?" Igel langsung menoleh ke Alden saat kakak nya.
"Yang mana?" Alden menghela nafas panjang.
"Yang kamu bilang kalau kita ngerebut tempat bang Ares disini, kamu bilang gitu waktu bang Ares tidur." Igel tersenyum miring, begitu juga Rius. Karena memang hanya mereka berdua yang tau segala fakta tentang keluarga mereka.
"Iya, kalau kalian mau tau suruh mama sama papa pulang dan minta mereka jelasin semuanya. Dan begitu kalian tau, apa kalian masih punya muka ketemu sama bang Ares? Bahkan gue aja ngerasa gak pantes buat natap wajah bang Ares!" Igel mengatakan hal itu dengan tegas, bahkan sempat membuat Alden dan Alta sedikit terkejut.
"Kenapa lo selalu ngebela dia Gel! Dia itu bikin keluarga kita berantakan!" Igel segera berdiri dari duduknya.
"Bang Ares bukan orang yang ngebuat keluarga kita berantakan, tapi kita-"
"Igel berhenti!" ucapan Igel spontan berhenti saat mendengar suara lirih di belakangnya.
"Bang Ares." bukan hanya Igel yang terkejut, tapi semua yang ada disana juga terkejut. Terutama Rius yang melihat wajah pucat Ares.
"Jangan pernah mengatakan apapun yang bukan hak kamu Gel, masa lalu orang tua kita bukan hak kamu untuk mengatakannya." Igel menatap Ares dengan tatapan bersalah.
"Tapi bang Leo harus tau bang!" Ares memberi gelengan dengan senyum manis.
"Kesalahan orang tua kita bukan hal yang patut untuk di ceritakan pada putra-putranya. Biarkan mereka bertahan dengan ketidaktahuan, agar tidak ada lagi yang tersakiti karena fakta itu." setelah mengatakan hal itu Ares memilih untuk pergi ke halaman belakang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Constellation (Sudah Terbit)
FanfictionAntares tidak menyangka bahwa kehilangan sang bunda akan membawanya pada duka yang mendalam. Kecelakaan lalu lintas yang terjadi tepat di depan matanya membuat Antares kehilangan cahaya hidup nya. Antares tidak pernah mengenal siapa ayahnya, karena...
