Monika mendesah lega begitu menghempaskan tubuhnya pada kursi malas yang ada di ruang tamu apartemennya. Akhir pekan seperti ini biasanya akan dihabiskan Monika untuk pagi, membereskan apartemen dan malamnya akan keluar untuk bersenang-senang.
Monika mengambil ponselnya yang tergeletak di atas sofa dekatnya. Hampir dua jam Monika tidak menyentuhnya karena sibuk dengan membereskan apartemen, akhirnya kini Monika bisa memainkan benda pipih tersebut.
Belum lima menit berselancar di aplikasi instagram, dering ponsel Monika membuat wanita itu menarik nafas kesal. Nama sang Daddy terlihat di sana. Dengan malas Monika menggeser pada icon berwarna hijau untuk menerima panggilan dari sang Daddy.
"Seorang pengawal sudah aku kirim ke apartemenmu." Setelah kalimat itu, panggilan dari Daddy Monika langsung terputus secara sepihak.
"What?!!!" Monika berteriak kesal. Menatap ponselnya dengan amarah yang membuncah.
Monika langsung membuka ponselnya begitu sebuah pesan dikirimkan oleh Daddy-nya.
Roi.|
Monika mengernyit heran. Tidak ada keterangan jelas sang Daddy mengirim pesan selain sebuah nama. Monika mendesah begitu sebuah pesan kembali masuk dalam ponselnya.
Ada beberapa foto yang dikirimkan sang Daddy. Foto-foto yang di mana dua hari lalu Monika sedang berada di sebuah club dengan seorang pria. Foto lain yang merupakan acara yang diadakan Monika di apartemennya. Tentu dengan pakaian Monika yang sangat kekurangan bahan.
Aku membebaskanmu, Monika. But, not with gigolo and alcohol.|
Monika langsung menelfon sang Daddy. Berniat menjelaskan semuanya. Apa yang ketahui Daddy-nya tidaklah benar. Memang benar Monika clubbing, namun untuk gigolo, Monika tidak bermain dengannya.
"Sialan!" Monika melempar ponselnya karena sambungan telefon malah dialihkan pada operator. Kali ini Daddy-nya benar-benar sudah tidak bisa mempertimbangkan perilaku Monika yang sudah kelewat batas.
Monika akui dalam keluarga sang Daddy, hanya dirinya cucu perempuan. Sedangkan sang Mami, hanyalah anak tunggal. Karena hanya sendiri perempuan, wanita itu sangat dimanjakan. Karena hal ini pula Monika suka berlaku sesuka wanita itu.
Bunyi bel apartemen terdengar kala Monika menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi malas. Akhir pekan begini, teman-temannya tidak bertamu, yang ada mereka akan membuat janji untuk bertemu di suatu tempat.
Monika mendesah. Bunyi itu terus terdengar selama lima menit. Dengan malas Monika melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen. Membuka pintu lalu menatap pada seorang pria dengan tubuh tinggi melebihi Monika dengan memakai pakaian casual.
"Siapa?" Tanya Monika bersedekap. Menatap keseluruhan bagian tubuh pria dihadapannya.
"Roi." Kepala Monika bergerak miring. Seperti pernah mendengar nama tersebut. Setelah mengingat lebih semenit, Monika langsung terpekik begitu tahu kalau pria dihadapannya kini adalah seorang pengawal yang dikirimkan oleh Daddy-nya.
"Jadi benar, lo pengawal yang dikirim Daddy?" Roi tidak menjawab. Matanya menelusuri pakaian yang dipakai Monika.
Hot pans yang hampir memperlihatkan pantat wanita itu. Dan sebuah tanktop yang sangat longgar yang tidak lagi menutup bra coklat susu milik Monika.
Roi langsung melangkah masuk tanpa persetujuan Monika. Pria itu kemudian menatap isi apartemen Monika yang sudah rapi dan bersih. Di belakangnya Monika mendengus kesal. Sifat Roi yang seenaknya membuat Monika langsung tidak menyukainya. Tampan sih, tapi tidak etis.
***
Pukul setengah sepuluh malam, Monika sudah bersiap dengan dress hitam kekurangan bahannya. Malam minggu, Monika dan teman-temannya sudah membuat janji untuk bertemu di sebuah club ternama. Mereka akan bersenang-senang di sana. Melepaskan penat sebelum kembali bertemu dengan senin.
