Bosan. Itu yang gue rasakan akhir-akhir ini. Gue gak punya kegiatan yang bisa membuat gue sibuk, fokus pada satu hal. Yang gue lakukan hanya diam, melamun, maratapi nasib. Sebenarnya bukan gak punya pekerjaan sama sekali. Hanya saja, rasanya ada yang kosong. Gak lengkap. Gue punya pekerjaan, gue suka. Gue udah terjun di dunia kerja ketika gue berusia delapan belas tahun. Namun diumur gue yang menginjak usia dua puluh tujuh tahun ini, gue merasa ada yang kosong walaupun gue punya semuanya.
Apa?
Gue masih sendiri. Diusia yang matang, hampir memasuki kepala tiga, gue masih sendiri, alias jomlo. Bukan tidak tertarik atau memiliki kelainan, hanya saja, untuk pasangan hidup, menurut gue, semua manusia itu sama. Memilih. Gak ada yang mau begitu saja. Pasti akan memilih, mencari baiknya. Pasangan hidup, hanya untuk sekali seumur hidup, harus memilih yang menurut kita yang terbaik.
Gue beberapa kali, bukan, gue gak hitung lebih jelasnya sih. Tapi, beberapa wanita memang sudah menyatakan perasaan mereka pada gue, mengajak gue untuk memulai suatu hubungan. Gue menolak. Dengan alasan yang menurut gue menjadi masalah sendiri untuk gue. Pekerjaan.
Bodoh bukan?
Gue merasa kurang karena tidak memiliki pasangan hidup untuk berbagi cerita keseharian gue. Tapi di satu sisi gue menolak mereka yang ingin mengenal gue lebih jauh. Itulah letak masalahnya.
Di zaman gue kuliah dulu. Gue punya satu. Satu wanita yang pernah menjadi kekasih gue. Gue gak ingat dengan jelas alasan kenapa hubungan gue dan kekasih gue berakhir. Sejak saat itu gue gak pernah lagi memulai suatu hubungan yang lebih dengan wanita.
Tapi, ada yang membuat gue terganggu.
Gue punya Mami yang super aktif dan terkenal.
Kenapa? Karena hampir semua warga kompleks mengenal Mami gue. Tapi bukan itu yang menjadi masalah untuk gue. Beberapa hari lalu, Mami mengenalkan teman kuliahnya dulu. Mereka memutuskan untuk berlibur selama seminggu penuh di villa milik Paman gue yang letaknya di Bogor.
Letak masalahnya itu adalah anak teman Mami. Gue akan merasa baik-baik saja kalau Mami dan temannya hanya berlibur tanpa membuat gue repot. Hanya mereka berdua tanpa membuat gue pusing dengan manusia lain.
Entah dosa atau kesalahan apa yang gue perbuat dulu, kini gue dihadapkan dengan wanita yang super aktif kelewat Mami. Plus apa yang keluar dari bibir tipis itu, tidak ada saringan sama sekali.
Ajaib.
Namanya Sena. Tapi gue gak terlalu suka memanggilnya dengan nama wanita itu. Gue memanggilnya Nana. Karna first impression gue ketemu Sena, melihat wajahnya yang imut, apalagi bibir kecil dan tipisnya, entah kenapa gue langsung memakai nama itu untuk memanggilnya.
"Kenapa lagi?" Gue langsung melayangkan pertanyaan begitu melihat Nana yang tiba-tiba
berlari saat gue baru saja masuk ke dalam rumah.
"Selamat datang." Gue tertegun. Entah kenapa, tiba-tiba tubuh gue berhenti untuk melakukan pergerakan.
Gue merasa senang. Mami selalu menyambut gue saat gue pulang, tapi, melihat kini Nana yang melakukannya, orang lain selain Mami, rasanya.... aneh juga mengetarkan tubuh gue.
Seakan gue memang pulang pada rumah yang tepat. Menemukan jawaban dari kekosongan yang gue rasakan akhir-akhir ini. Dengan refleks, gue melengkungkan senyum, menarik tubuh Nana untuk bisa gue peluk.
Gue menghirup aroma sampo Nana yang begitu wangi. Rasa lelah yang gue bawa dari rumah sakit, hilang dalam sekejap begitu gue memeluk Nana. Rasanya nyaman juga hangat.
"Gue pulang, Na."
