Rey pernah dengar, menikah itu seumur hidup. Jadi haruslah pandai memilih pasangan yang akan dinikahi nantinya.
Namun bagaimana jika pilihan itu datang dari orang tua? Bukan pilihan sendiri? Harusnya kita sebagai anak mengutarakannya bukan? Memilih sesuai pilihan sendiri.
Namun, tidak ada rasa menyesal dalam diri Rey karena menyetujui pilihan dari orangtuanya. Justru, pria itu ingin terus mengucapkan rasa terima kasih.
Karena apa?
Selama hampir setahun menikah, Rey merasakan, nyata beruntungnya memiliki seorang Miciela Gatha sebagai seorang istri.
Walaupun pada awalnya seorang Madhava Rey tidak begitu menyukai pernikahan yang disetujui oleh pria itu karena pilihan sang orang tua.
"Mas sudah pulang?" Walaupun Rey memiliki seorang Adik perempuan yang juga memanggilnya dengan sebutan 'Mas'. Namun entah kenapa jika Gatha yang memanggil Rey demikian, terdengar merdu di telinga Rey.
"Ya." Rey menjawab seadanya. Gengsi pria itu terlalu tinggi untuk meminta Gatha menyalami tangannya. Atau bahkan mengambil tas yang berada di tangan pria itu.
Gatha mengenal Rey bukan seminggu, hampir setahun berumah tangga bersama pria yang ada dihadapannya kini, Gatha sudah mengerti apa yang harus di lakukan.
Wanita itu mendekat pada Rey yang berdiri tidak jauh dari pintu masuk dapur. Mengambil tas laptop yang berada pada tangan Rey. Masih dalam diam, mengambil salah satu tangan Rey untuk dikecup buku tangannya.
"Selamat datang." Ucapnya dengan sebuah kecupan mendarat pada rahang Rey.
"Ekhm. Ya." Diam-diam, Gatha menahan senyum lebarnya yang melihat wajah tersipu Rey.
"Mau makan?"
"Belum. Mas ke atas dulu."
"Mau mandi ya?"
"Ya." Gatha langsung mengikuti langkah Rey. Menengok ke belakang beberapa saat untuk memastikan kalau dapur sudah ditinggalkan dalam keadaan aman.
"Bagaimana kalau mandi bersama?" Gatha mengaduh begitu merasakan benturan dikening wanita itu.
Rey tiba-tiba langsung berhenti disaat Gatha mengikuti langkah pria itu dari belakang.
"Gak mau ya?" Gatha bertanya dengan nada lesu. Berpura-pura memasang tampang kecewa pada Rey.
"Itu, Adek udah gak marah lagi?" Ingin sekali Gatha mencubit gemas kedua pipi Rey. Namun harus bertahan demi melancarkan aksinya.
"Dari dua hari lalu udah selesai kok marahnya. Cuma Mas aja yang gak sadar. Mas mau gak?" Rey mengalihkan tatapannya begitu Gatha mendekat dan mengedipkan salah satu mata wanita itu.
"Mas mau makan." Bahu Gatha langsung terkulai lemas. Mengikuti Rey yang kembali ke dapur.
"Hari ini aku masak ayam saus. Gak terlalu pedas karena Mas gak kuat makan pedas kan. Coba deh." Rey diam. Memperhatikan Gatha yang mulai melayaninya.
Jauh dalam hati pria itu sangat berterima kasih. Gatha tidak hanya mengingat hal-hal kecil dari Rey. Tapi wanitanya itu juga sangat perhatian pada Rey.
Buktinya kini, mengambil makanan untuk Rey. Tidak lupa mengisi gelas dan diletakkan di sebelah piring Rey. Bahkan wanita itu duduk sambil menunggu Rey melahap suapan pertama.
"Terima kasih." Gatha hanya tersenyum. Menopang dagu, memperhatikan Rey yang sedang makan.
"Mas menyesal gak, nikah sama aku?" Entah kenapa pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Gatha. Membuat Rey yang baru saja menyelesaikan makananya, menoleh dengan raut wajah datar pada wanita disamping pria itu.
"Kenapa bertanya begitu?" Kepala Gatha menggeleng. Topanganya sudah lepas. Kini jemarinya bermain di atas meja, mengetuk-ngetuk di sana.
"Ingin bertanya saja. Soalnya, selama ini Mas gak ada bedanya." Kening Rey berkerut. Memikirkan perkataan Gatha.
"Maksud Adek?"
"Ya, kayak suami pada umumnya." Rey semakin bingung dengan Gatha.
"Miciela Gatha." Gatha tau, jika Rey sudah memanggilnya seperti itu, bukti bahwa kesabaran pria itu sudah sangatlah tipis.
"Romantis dan peka. Selama ini Mas gak pernah romantis-romantis sama aku. Malah aku yang sering banget membangun hal romantis sama Mas. Tapi Mas terlalu kaku dan cuek. Terus kalau di kasih kode juga, Mas gak peka..."
"Contohnya kayak tadi. Harusnya kan Mas gendong aku, terus kita mandi bareng. Tapi Mas malah milih makan di sini. Beda banget sama suami pada umumnya."
"Adek mau Mas kayak begitu?" Gatha mengangguk.
"Mas mungkin gak bisa berubah seperti yang Adek mau. Mas dari dulu sudah begini, jadi akan tetap begini. Lagian, apa selama ini Mas gak pernah romantis sama Adek?"
"Gak tuh."
"Terus, siapa yang setiap malam peluk Adek sampai pagi. Yang tetap usap-usap kepala Adek setiap Adek ganggu Mas kerja. Atau yang rela kena cubit sama gigitan di lengan saat Adek lagi datang bulan." Mata Gatha berotasi. Berpura-pura tidak mendengar kenyataan yang dibenarkan dalam ucapan Rey.
"Mas harus gimana lagi biar Adek percaya kalau Mas pernah romantis? Walaupun tipis-tipis." Istri Rey itu hanya diam. Lalu selang beberapa saat berdiri, tanpa kata meninggalkan Rey di dapur.
Rey hanya bisa menghela nafas. Lalu memejamkan mata untuk menambah kesabaran menghadapi Gatha.
"Adek mau jalan-jalan keluar gak?" Pertanyaan Rey terdengar di telinga Gatha tidak beberapa lama setelah wanita itu merebahkan tubuh di kasur.
"Lagi gak mau."
"Marah lagi ya sama Mas?" Dengan sabar dan penuh kelembutan, Rey bertanya. Tangannya mengelus rambut Gatha. Mencoba membujuk wanitanya.
"Beneran gak mau walaupun Mas ngajak sambil makan ice cream?"
"Em... iya. Gak mau."
"Yaudah. Adek di rumah aja ya. Mas mau beli ice cream dulu." Mendapat anggukan kepala dari Gatha, Rey kemudian bangkit. Berjalan keluar dari kamar.
Gatha memberengut. Usaha Rey hanya sampai sana. Tidak membujuknya lebih jauh sampai ego Gatha hilang dan memilih ikut bersama Rey. Wanita itu bangun, lalu mengambil ponsel Rey yang tergeletak di atas nakas.
"Ayo!" Gatha menoleh. Menatap pada pintu kamar. Di mana Rey berdiri di sana dengan sebuah jaket di tangan pria itu.
"Mas belum pergi?"
"Mau bareng Adek." Gatha lalu turun dari ranjang, berjalan cepat pada Rey.
"Kenapa balik lagi?" Gatha bertanya seraya memeluk Rey dengan mengendus wangi pria itu.
"Soalnya Adek pasti gak mau ditinggal sendiri. Adek pasti kesal kan sama Mas?" Tanpa sadar Gatha mengangguk. Semakin mengeratkan pelukannya pada Rey.
"Adek pake jaket dulu, terus kita jalan-jalan."
"Mas kesal ya punya istri kayak aku?" Di tengah-tengah Rey yang memakaikan jaket pada tubuh Gatha, wanita itu bertanya seraya memasang wajah tidak enak pada Rey.
"Gak kok. Mas gak pernah kesal punya Adek. Malah Mas senang lho."
"Iyakah?" Rey mengangguk. Menarik resleting jaket Gatha agar menutupi tubuh wanita itu.
"Ayo! Keburu tengah malam. Adek gak baik lama-lama main di luar."
"Makasih ya Mas. Aku beruntung banget jadi istri Mas Rey." Rey hanya mengangguk sembari menepuk puncak kepala Gatha.
"Ya, apapun untuk istri kecil Mas ini. Dan juga si baby." Gatha tersenyum. Melihat bagaimana tulusnya Rey menanamkan kecupan pada perut Gatha yang sedikit membesar.
