Neighboar (b)

59.2K 673 2
                                        

Jantungku berdegup kencang. Sebenarnya ini bukan kali pertama, namun selalu saja bereaksi seperti ini. Kakiku rasanya bergetar setiap kali memijak pada rumah ini. Rasanya begitu aneh.

Tanganku mengetuk pintu kayu yang ada di hadapanku, seharusnya pemilik rumah tidak sedang keluar karena aku melihat mobil putih masih terparkir di halaman.

Aku greget, bawaan di tanganku hampir jatuh kalau saja pintu di hadapanku tidak terbuka. Seseorang yang sejak tadi aku tunggu, kini berdiri, menatapku dengan wajah bantalnya.

"Lho, Na? Ada perlu?" Aku mengangguk lalu menggeleng. Lalu tersenyum kikuk melihat kebodohanku sendiri.

"Ini, mau ngasih ini." Raka, tetanggaku menatap sesuatu yang ada di salah satu tanganku.

Pagi tadi aku membuat kue kering untuk cemilan, namun karena kelebihan, aku membaginya dengan Raka, tetanggaku.

"Duh, udah repot gini, makasih banyak ya." Aku mengangguk, menyerahkan setoples kue kering pada Raka.

"Kamu, gak olahraga?" Pertanyaan itu entah kenapa langsung terlontar. Apa karena aku tidak ingin mengakhiri pertemuan singkat ini? Entahlah. Melihat Raka rasanya tubuhku bereaksi aneh, bersemangat.

"Hari ini gak, banyak kerjaan." Padahal ini weekend tapi Raka selalu sibuk dengan pekerjaannya. Aku hanya bisa mengangguk, meremas ujung kaos yang aku pakai sebelum pamit.

***

Bosan, itu yang aku rasakan. Seminggu ini entah kenapa aku tidak bersemangat untuk beraktivitas. Aku yang biasanya lebih bersemangat untuk ke cafe, memantau pekerjaan, malah lebih memilih mendekam di kamar.

Seminggu ini Raka tidak berada di rumah. Pria itu sedang meninjau langsung salah satu proyek. Begitu mendengar ucapan pria itu, tubuhku langsung lemas tidak bertenaga. Rasanya tidak bersemangat karena Raka tidak ada.

Aku mencintai pria itu. Mungkin terdengar konyol karena aku jatuh cinta hanya karena perhatian yang pria itu berikan. Sejak pertama kali Raka membantu keperluan rumah yang aku sendiri tidak tau cara memperbaikinya, pria itu selalu siap kapan saja untuk dimintai tolong.

Ku harap Raka tidak menyadari, karena beberapa alasan memang sengaja aku buat agar pria itu bertamu ke rumahku. Agar aku bisa melihat lebih lama wajah pria itu tanpa perlu mengintip di balik jendela atau sengaja menyapu di luar rumah.

Aku tau ini terdengar kekanakan, padahal umurku sudah 24 tahun. Jatuh cinta... terkadang seperti itu bukan?

Aku menatap ponselku, sebenarnya aku memiliki nomor Raka, hanya saja rasanya aneh kalau menanyai kabar pria itu. Kami tidak terlalu sering bertukar kabar melalui ponsel. Aku lebih suka berbicara langsung pada pria itu.

Namun aku langsung membulatkan mata melihat sebuah pesan baru saja masuk. Raka mengirim pesan padaku. Aku sendiri hanya bisa melongo bodoh.

Sibuk?

Aku mengerjap. Apa mungkin Raka salah mengirim pesan? Tanganku gatal ingin membalas pesannya, namun aku tidak ingin terlalu senang kalau ternyata pesan tersebut memang salah kirim.

Dibaca aja nih.
Gina?

Ternyata Raka memang mengirim pesan untukku. Buru-buru aku membalas karena tidak ingin membuat pria itu menunggu.

Iya.
Gak sibuk kok.

Pesan tersebut langsung terbaca oleh Raka. Jantungku berdegup, merasakan debaran aneh.

Astaga!

Boleh telfon?

Astaga! Apa ini? Pertanyaan dari Raka membuat aku berteriak histeris. Untung rasa hanya ada aku sendiri di rumah.

Aku mengibaskan tangan untuk mengipasi wajahku yang mungkin saja sudah semerah tomat. Jatuh cinta itu... aneh ya.

Boleh.

Tidak perlu menunggu waktu lama karena setelah chat itu terkirim, bunyi dering ponselku langsung terdengar. Sebelum mengangkat panggilan dari Raka, aku memperbaiki penampilanku lebih dulu, berharap tidak ada sesuatu yang aneh yang nantinya akan membuat diriku malu.

Setengah jam kemudian aku bernafas lega, panggilan telefon yang ternyata video call dari Raka sudah berakhir. Tidak banyak yang kami lakukan. Raka hanya bertanya kegiatanku, lalu aku juga bertanya balik pada pria itu.

Namun ucapan yang pria itu lontarkan sebelum mengakhiri telefon membuat aku rasanya melayang. Skeptis dan tidak percaya.

Ternyata benar ya, rindu itu berat. Apalagi cuma bisa lewat telefon.

Astaga... aku tidak ingin terlalu memikirkan perkataan pria itu, namun tetap saja, hanya itu yang terus berputar di kepalaku.

Aku membenamkan wajahku sepenuhnya di bantal, menguburkan sedalam mungkin. Mungkin saja aku bisa tidur untuk menghilangkan pikiran tentang Raka.

𝐒𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐒𝐭𝐨𝐫𝐲 ( 𝗘𝗻𝗱)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang