Adian tersentak begitu sebuah buku tebal diletakkan dengan kasar di samping pria itu. Mendongkak, Adian melihat sang primadona kampus yang juga sedang menatapnya dengan sinis.
"Apa? Kosong kan tempatnya? Gak ada yang punya?" Adian hanya bisa mengangguk dengan cepat. Tidak ingin berurusan dengan Lillian Grace, sang primadona kampus.
Berurusan dengan Lillian, sama saja menyeretnya harus terkenal ke seluruh penjuru gedung kampus. Adian tidak mau itu. Cukup dengan menjadi pria yang tidak banyak diketahui atau dikenal orang-orang kampus Adian sudah sangat beruntung.
Tidak masalah jika dirinya dikatakan kurang bergaul atau nerd, toh Adian tidak mempermasalahkannya. Dia juga senang-senang saja. Adian hanya tidak ingin menambah urusan hidupnya.
"Minus berapa lo?" Adian kembali terkejut karena tiba-tiba Lillian sudah mengambil paksa kacamata miliknya. Memutar-mutar benda tersebut lalu memakainya tanpa rasa bersalah.
"Cocok nih. Gak tebal-tebal banget." Lalu wanita itu memakai kacamata itu tanpa melihat Adian yang terdiam kaku.
"Lilli, boleh aku minta kacamata aku?" Dengan ragu dan terbata Adian meminta barang miliknya. Pria itu tidak akan bisa melanjutkan membaca buku didepannya tanpa kacamata pria itu.
"Parah banget ya kalau gak pake ini? Gue mau pake juga." Adian mengangguk. Menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Kamu bisa pake kalau aku udah selesai baca ini." Lillian menatap buku tebal yang Adian angkat.
"Lo suka baca buku begitu?" Adian kembali mengangguk. Novel atau buku yang menarik untuk pria itu, Adian menyukainya. Membuat pria itu seperti berada di dunia yang berbeda.
"Tentang apa sih?" Lillian merebut buku yang ada di tangan Adian, membaca sekilas sinopsis yang tertera pada sampul buku tersebut.
"Berat banget. Coba deh sekali-kali baca yang romance. Biar lebih berwarna. Gak bosan lo baca fantasy?" Adian bukan tidak ingin mencoba genre lain, namun romance adalah genre terakhir yang akan Adian baca.
Kenapa? Karena Adian tau, membaca romance, sama saja membayangkan kisah percintaan miliknya sama seperti yang tercantum di dalam novel. Mulus dan berakhir bahagia.
Sedangkan kenyataannya, mematahkan pemikiran Adian tersebut. Dikarenakan dia suka membaca buku dan penyendiri, Adian kerap mendapat sebutan nerd. Bahkan tidak banyak yang mau berteman dengan pria itu.
Dan melihat Lillian kini duduk berdampingan dengannya, membuat Adian hanya bisa terdiam kaku.
"Nih, gue punya. Besok lo balikin tapi." Adian menatap novel yang dikeluarkan Lillian dari dalam tas wanita itu.
Bingung juga aneh.
"Besok gue ambil, Di." Setelah mengatakan itu Lillian langsung pergi. Tidak lupa meletakkan kacamata Adian di atas novelnya tadi.
Wajah Adian seketika berubah warna menjadi merah. Apa yang terjadi barusan?!
***
Adian tersentak, meletakkan dengan kasar novel milik Lillian pada nakas di sampingnya. Wajah pria itu berubah merah padam, nafasnya pun berderu dengan hebat.
Matanya kembali melirik novel milik Lillian, menggeleng, Adian kemudian mengambil ponsel juga earphone miliknya. Bergegas menyetel musik untuk di dengarkan.
Adian pikir novel yang diberikan Lillian adalah novel fiksi pada umumnya. Bergenre romance yang menceritakan kisah cinta pada umumnya.
Ternyata dugaan Adian meleset. Sebelum membaca isi buku, Adian sudah lebih dulu membaca sinopsis yang ada pada sampul buku tersebut. Memang tidak ada yang aneh.
Keanehan baru terjadi begitu Adian membaca lebih jauh halaman demi halaman novel Lillian. Awalnya Adian bersikap biasa saja, adegan ciuman juga beberapa kali pernah Adian baca pada novel miliknya yang bergenre fantasy.
Namun di dalam novel Lillian, bukan hanya ciuman, namun secara detail bentuk sentuhan fisik ada di sana. Adian jelas malu. Tidak pernah sekalipun terpikir untuk membaca buku yang menuliskan secara detail hal tersebut.
"Lilli..." Gumam Adian. Pria itu bahkan sampai menutup mata saking malunya teringat beberapa kalimat di buku milik Lillian.
Namun tidak beberapa lama, pria itu dengan cepat meraih kembali novel Lillian. Melanjutkan bacaannya.
"Nanggung..."
𝙶𝚒𝚖𝚊𝚗𝚊? 𝙸𝚗𝚒 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚛𝚎𝚔𝚘𝚖𝚎𝚗𝚍𝚊𝚜𝚒 𝚗𝚎𝚛𝚍 𝚜𝚊𝚖𝚊 playgirl.
𝙻𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝 𝚐𝚊𝚔?
