Adaline

15.8K 253 1
                                        

"Theo." Theo langsung mendongkak mendengar namanya di panggil.

Adaline di sana, berdiri di hadapan Theodora dengan mata yang terlihat sayu, tidak ada pancaran yang bermakna di sana.

"Apa?" Theo bertanya dengan malas. Menopang dagu lalu kembali sibuk dengan benda pipih yang ada di salah satu tangan wanita itu.

"Berapa duit." Dahi Theodora mengerut, menimbulkan garis lurus di sana.

"Apa? Lo mabok? Gak jelas banget." Adaline terkekeh, lalu merebut ponsel Theo yang membuat fokus wanita itu tidak sepenuhnya pada Adaline.

"Lo, lont*, di bayar berapa?" Wajah Theodora langsung berubah merah, perasaannya bercampur aduk begitu mendengar ucapan Adaline.

"Gue bukan lont* ya!"

"Terus apa? Kemarin gue liat lo keluar dari hotel sama pria, lagaknya kayak dosen di sini." Theo merasa malu juga marah. Dengan kesal mengambil paksa ponsel miliknya pada Adaline.

"Mau lo apa?!"

"Kenalin gue sama salah satu teman simpanan lo itu." Theodora langsung tersenyum mengejek. Menatap Adaline dari atas hingga bagian bawah tubuh wanita itu, menilainya.

"Kenapa lo? Butuh duit berapa?"

Adaline mendengus, mengibaskan tangannya di depan wajah.

"Gue tunggu malam ini."

***

Adaline mengedarkan pandangan wanita itu pada setiap sudut ruangan yang kini wanita itu pijaki. Hampir setengah jam dirinya berada di sana, namun pesan dari Theodora belum masuk ke dalam ponsel wanita itu untuk memberi tahu target Adaline malam ini.

Adaline mendesah. Kembali memesan minuman pada gelasnya. Matanya senantiasa mengedarkan pandangan juga melirik ponsel pintarnya yang berada di atas meja bar.

Selang beberapa menit, Adaline tersenyum tipis begitu melihat sebuah pesan masuk dari Theodora. Tanpa banyak kata, Adaline meneguk langsung minuman yang baru saja di tuangkan bartender pada gelas miliknya.

Kakinya langsung bergerak, turun dari kursi bar menuju salah satu meja yang berada di sudut. Dengan percaya diri, Adaline menghampiri satu orang yang duduk di balik meja itu, tersenyum tipis lalu mendudukkan bokongnya di samping pria yang terlihat cukup tampan tersebut.

"Adaline?" Adaline tersenyum. Adaline sudah menyiapkan kalimat basa-basi untuk memulai percakapan, namun target wanita itu sudah lebih dulu membuka suara.

"Ya."

"Senang berkenalan denganmu." Adaline mengangguk. Menerima uluran tangan kekar itu, sekilas Adaline merasakan remasan ringan pada tangannya.

"Kamu masih ingin di sini atau?"

Adaline langsung menolehkan kepalanya begitu mendengar kembali suara pria di sampingnya. Adaline meneguk pelan minuman berwarna bening yang masih tersisa setengah pada gelasnya, lalu mendekat untuk membisikkan kalimat sensual di dekat telinga targetnya.

"Langsung saja."

Dalam langkahnya menuju sebuah kamar yang sebelumnya sudah di pesan, Adaline meremas dressnya dengan perasaan campur aduk. Dalam hati wanita itu berusaha meyakinkan kalau apa yang malam ini terjadi adalah bagian dari pilihan yang wanita itu ambil sendiri.

𝐒𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐒𝐭𝐨𝐫𝐲 ( 𝗘𝗻𝗱)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang