Laura tau, Revin tidak menyukainya. Namun, mengetahui langsung dari sang empu, Laura rasanya tidak bisa menjabarkan bagaimana perasaan wanita itu.
Laura tau, keberadaannya disini dianggap sebagai pajangan, benda mati. Harusnya Laura tidak mengikuti usul Lily untuk mengikuti Revin pada pesta yang diadakan salah satu teman kerja Revin.
Sejak menjadi istri Revin, Laura memang sering menghadiri acara-acara seperti ini, bersama Revin. Hanya saja, keberadaannya tidak berarti apa-apa. Laura hanya duduk diam, berdiri, menatap bisu wajah-wajah asing yang berada satu ruangan dengannya.
Sedangkan Revin? Tentu saja 'sibuk'. Sejak awal Laura tau, Revin menikahinya hanya karena permintaan Mama pria itu. Kalau bukan karena Mamanya, Revin bahkan tidak sudi untuk melihat Laura.
Musibah.
Bencana.
Itulah sebutan Revin untuk Laura. Wanita itu sudah dicap sebagai musibah, bencana dalam kehidupan Revin.
Laura mendesah dalam diam. Merasa bosan karena tidak memiliki teman untuk berbicara. Mungkin jika bersama Lily atau Ravel, Laura akan merasa senang. Setidaknya kedua orang itu akan mengajaknya berbicara, membuat Laura tidak semakin memikirkan pernikahannya bersama Revin.
Rasanya sudah tidak mampu.
Laura lelah.
Harusnya hubungan yang mereka jalani berjalan searah, sama-sama membangun hubungan yang sempurna, saling mencintai.
Laura dipatahkan dengan kenyataan.
Mata wanita itu bergerak, mencari sesuatu yang menarik untuk di pandang. Revin sendiri, pria itu sedang sibuk dengan beberapa temannya. Laura, berdiri diam di sudut ruangan.
Laura merasakan getaran pada tas yang berada di tangan wanita itu. Mendesah, Laura mengambil benda pipih tersebut. Menggeser icon kunci untuk membukanya.
Ravel👶 :
Aunty....
Laura :
Iya, sayang?
Ravel👶 :
Aku punya sesuatu buat Aunty.
Laura :
Hm?
Ravel👶 :
Odading dimakan hiyu.
Darling aimisyu.
Laura :
Ravel belajar dari mana begitu?
Ravel👶 :
Ayah. Tadi ayah ngomong gitu ke Bunda. Yaudah, Ravel bilang ke Aunty Laura.
Laura tertawa, merasa lucu dengan apa yang baru saja Ravel kirimkan padanya. Anak itu, bisa membuat perubahan pada diri Laura.
Tawa Laura langsung terhenti begitu merasakan keberadaan orang lain di samping wanita itu. Laura mendongkak, menatap seorang pria bertubuh tinggi yang sedang menatapnya.
"Hai." Sapanya. Laura sendiri hanya bisa tersenyum simpul. Merasa sedikit risih dengan keberadaan orang disampingnya.
"Sudah kenal berapa lama sama Revin?"
Laura sebenarnya tidak ingin menanggapi, namun rasanya tidak sopan.
"Hampir 4 tahun."
"Lumayan lama juga." Laura kembali diam. Mencari kesibukan agar tidak kembali berbicara dengan orang asing. Bukannya tidak ingin, hanya saja rasanya risih, apalagi Laura merasakan tatapan pria itu tidak lepas dari dirinya.
Laura membawa pandangannya ke depan, di mana Revin berada. Namun sedetik kemudian wanita itu langsung merasakan nyeri yang amat sangat pada dada.
Laura langsung memalingkan wajah. Tidak sengaja menatap pria disampingnya.
"Mau minum?" Gelengan kepala Laura berikan disusul dengan senyum tipis dari wanita itu. Selang beberapa detik kemudian, Laura pamit ke toilet.
***
"Mau ke mana?" Laura langsung menghentikan langkahnya mendengar suara Revin tidak jauh dari tempatnya berada. Berbalik, wanita itu menatap Revin.
"Besok aku ada janji buat-in Ravel cake. Aku pulang duluan aja gak apa? Ada beberapa bahan yang belum lengkap." Revin menatap Laura, lalu menarik wanita itu mendekat padanya.
"Dengan, Jodi?" Laura mengerutkan dahinya lalu mengikuti arah tatapan mata Revin.
Tidak jauh dari tempat keduanya, Jodi, salah satu teman Revin sedang berdiri menatap ke arah Laura.
"Gak. Aku pulang naik taksi." Revin tersenyum simpul, semakin membuat Laura mendekat pada tubuhnya.
"Sepertinya dia tertarik padamu. Tidak ingin menyapa?" Laura menggeleng. Berusaha melepaskan tangan Revin pada pinggang wanita itu. Rasanya tidak nyaman.
"Revin..." Mohon Laura. Suara wanita itu terdengar bergetar.
"Hm. Kenapa? Bukannya tadi kalian terlihat cukup dekat?" Laura mendongkak. Menatap wajah Revin yang tidak berubah sama sekali.
"Aku dan dia baru kenal tadi, kami tidak sedekat itu."
"Benarkah?" Revin menundukkan wajah, menatap Laura yang terlihat tidak nyaman. Wanita itu terus berusaha melepaskan tangan Revin.
"Ya. Jadi, aku mohon, biarkan aku pulang." Tangan Revin langsung terlepas. Tatapan pria itu tidak teralihkan dari Laura.
***
Part end nya di KK ya!
Coming soon!
