My Sunshine

29.8K 423 1
                                        

Ivan memalingkan wajah begitu membuka pintu kamar milik pria itu. Dari telinga sampai wajah pria itu berwarna merah padam. Ivan baru saja melihat sesuatu yang tidak pernah terbayang dan terpikir untuknya.

Sebuah dengusan membuat Ivan perlahan kembali menatap pada seseorang yang berdiri dekat kasur king sizenya. Dita, tetangga wanita milik pria itu.

"K-kamu ngapain di sini?" Ivan bertanya seraya membawa langkah kaki masuk.

"Di sini dingin, enak." Ivan mengerut dahi namun sedetik kemudian mengangguk mengerti.

Nyala AC membuat Ivan faham.  Sebenarnya keberadaan Dita di kamarnya untuk membuat tubuh wanita itu sejuk setelah bermain panas-panasan di luar bersama dua keponakan Ivan.

Kenapa tidak menggunakan kamar lain? Ivan mengurungkan kalimat itu mengingat hanya ada dua kamar di rumah yang beberapa bulan lalu dibeli pria itu. Tidak terlalu besar, namun luas. Kamar sebelah yang berdekatan dengan ruang tamu ditempati Adik perempuan Ivan, Adiknya masih di sana karena kelelahan setelah menempuh 4 jam untuk berkunjung ke rumah Ivan.

"Kamu mau nitip? Saya mau keluar beli jajan buat anak-anak." Dita yang sedari tadi membelakangi Ivan karena mengangkat sebagian baju kaosnya untuk membuat sejuk dari pendingin ruangan, menoleh pada Ivan.

"Mas nawarin nih? Gak biasanya. Ujung-ujungnya minta bayar juga." Ivan terkekeh kecil. Mendekat pada Dita namun dengan jarak yang cukup untuk tidak terlalu dekat dengan wanita itu.

"Kali ini gratis. Mau apa?"

"Mau Mas." Ucapan asal Dita membuat Ivan tersentak. Matanya bergerak asal kemudian berdeham untuk menormalkan detak jantungnya.

"Ice cream?" Dita mengangguk. Berbalik kemudian menatap Ivan.

"Mau yang vanilla ya, Mas. Aku tunggu di depan." Dita sudah keluar. Ivan menatap lantai yang dipijaki pria itu.

Sesulit itu.

Iya, sesulit itu. Ivan menyukai Dita. Ah, tepatnya cinta terpendam. Miris sekali.

Begitu kembali dari supermarket, Ivan tidak mendapati Dita. Padahal wanita itu berkata akan menunggu di depan yang merupakan halaman rumah Ivan yang luas yang kini di rubah menjadi rumah mainan untuk dua keponakannya.

"Dita mana?" Adik Ivan menoleh. Menatap Ivan kemudian beralih pada kantung kresek yang ada di salah satu tangan pria itu.

"Di dalam. Tidur kayaknya. Katanya Mas kelamaan." Ivan mengangguk. Mengeluarkan cemilan untuk para keponakannya, membawa sisanya masuk ke dalam rumah.

Ivan mencari ke dapur, namun tidak menemukan Dita di sana. Kemudian Ivan menuju kamar pria itu. Memastikan jika benar Dita ada di sana. Begitu membuka pintu, sebuah pandangan yang mampu membuat hati Ivan menyejuk.

Dengan pelan dan tidak ingin menimbulkan bunyi, Ivan melangkah mendekat pada ranjangnya. Meletakkan kantung kresek di nakas kemudian berjongkok di sisi kasur.

Ivan menatap wajah damai Dita. Wanita itu tertidur pulas dengan gaya tidur yang jauh dari kata elegant. Namun dengan begitu, Ivan tetap merasa bahagia. Mau seperti apa gaya tidur Dita atau mimik wajah yang diperlihatkan wanita itu, Ivan tetap menyukainya.

Cinta itu buta.

"Sleep tight." Ivan bersemu. Kerap kali memberikan ciuman kening ketika Dita tertidur, tidak membuat rasa malu dan memerah pada wajah pria itu pudar. Masih tetap sama. Masih sama seperti pertama kali.

"Mas." Ivan langsung melotot. Mendesah pelan karena ternyata Dita hanya mengingau.

Ivan pikir wanita itu terbangun akibat kecupannya. Bisa mati mendadak Ivan kalau Dita sampai tahu Ivan mencari kesempatan dalam kesempitan.

Jemari Ivan bermain di kening Dita. Ingin sekali menyentil di sana membuat wanita itu menampilkan wajah cemberut namun Ivan masih memiliki perasaan sayang pada wanita itu. Dengan kata lain, Ivan tidak tega.

"Mas..." Ivan benar-benar melototkan bola matanya. Dita sudah menatapnya dengan cemberut. Benar-benar seperti yang Ivan inginkan.

"K-kamu..." Ivan tergagap. Tubuhnya membeku kaku.

Dita sendiri, mengernyit sebelum menarik tangan Ivan yang ada di keningnya.

"Elus lagi, Mas." Sepertinya Ivan benar-benar ingin mati saja. Permintaan tidak terduga dari Dita membuat ritme jantung Ivan berkali-kali lipat dari biasanya.

Dita... Racun untuk Ivan.

***

Dita melihatnya, wajah Ivan yang tidak selurus biasanya. Kalau biasanya pria itu akan menyambutnya dengan senyum hangat, kali ini sangat bertolak belakang. Pria itu malah mengalihkan wajah tampannya ketika Dita datang berkunjung ke rumah pria itu.

Sejak dua hari lalu, perilaku Ivan berbeda pada Dita. Cuek. Dita sebenarnya tidak ambil pusing karena biasanya Ivan akan bersikap demikian jika pria itu memiliki masalah pada kantornya.

Yah, kali ini berlangsung selama dua hari. Rekor terbaru untuk Dita.

"Mas! Kenapa sih? Aku ada salah ya? Atau karna aku tidur di kamar, Mas? Kenapa sih?" Dita mengikuti Ivan yang sudah melangkah menuju kamar Adiknya. Pria itu terus mendiami Dita sejak pagi tadi.

"Mas Ivan!" Dita mengerutu. Menghentakkan langkah kakinya mengikuti Ivan.

"Mas, ngomong dong. Kalau gak ngomong aku gak tau salah aku di mana." Ivan mendengus. Membuka pintu kamar Adiknya yang langsung disuguhi dua keponakannya yang menggemaskan.

"Dit, bantuin dong. Si Arka rewel banget." Dita langsung mengambil alih salah satu anak menggemaskan yang bergelanyut manja di kaki Ivan.

Batita kembar yang duplikat Ayahnya.

"Sayang, sini sama Bibi Dita." Arka sejenak menoleh pada Dita lalu kembali memeluk kaki Ivan dengan erat.

"Tumben banget gak mau. Ikut-ikutan kayak Mas-nya deh!" Dita berucap kesal. Berdiri kemudian menarik Arlan yang merupakan Kakak dari Arka.

"Gak usah temen mereka berdua ya, Lan. Bawaannya bikin kesel." Ucap Dita pada batita yang ada di gendongannya.

Arlan yang diajak berbicara hanya tersenyum kemudian meletakkan kepalanya pada pundak Dita. Memeluk wanita itu dengan manja.

Diam-diam Ivan menatapnya. Ingin sekali mengelusi rambut hitam Dita yang kini berubah warna coklat. Wanita itu suka sekali mengecat rambutnya. Ivan masih harus bersikap pura-pura. Jantungnya tidak bekerja dengan baik semenjak Dita memergoki dirinya yang mengelus dengan sayang dan penuh cinta salah satu bagian wajah wanita itu.

Ivan malu, tentu. Dirinya yang selama ini tidak pernah bertindak demikian pada wanita selain Adiknya, harus menelan ludah dan memasang wajah tembok pada Dita setelah berhasil memergokinya.

"Mas!" Ivan melotot. Teriakan Dita pada telinganya membuat telinga Ivan berdengung.

"Apa?!" Suara Ivan meninggi dengan tidak sengaja. Membuat Dita menatapnya dengan kaget sebelum tersenyum kaku.

"G-gak jadi, Mas." Untuk kesekian kalinya rasanya Ivan ingin mati. Dita, wanita spesial bagi Ivan, baru kali ini Ivan membentaknya dengan suara keras.

"Dita, saya gak—"

"Gak apa, Mas. Aku juga yang salah kok. Maafin aku ya, Mas." Ivan mendesah kasar. Mencegat tangan wanita itu ketika Dita hendak pergi dari hadapannya.

"Mas." Ivan memejamkan mata sejenak sebelum membuat Dita duduk di sampingnya.

Rumah Ivan memiliki taman di belakang rumah. Hanya taman kecil yang Ivan jadikan tempat kesukaannya jika pria itu sedang kalut. Seperti saat ini.

"Saya minta maaf. Saya gak maksud bentak kamu kayak tadi." Dita mengangguk. Menatap pergelangan tangannya yang masih dipegang Ivan.

"S–saya mau ngomong sesuatu sama kamu." Dita mengalihkan tatapannya dari Ivan. Pria itu menatapnya sangat dalam, membuat Dita merasakan detak jantungnya yang bertalu cepat.













Step Brother (Jane-Michael) sudah di update di KaryaKarsa versi lengkap. Kalian bisa cek di sana dengan nama pena Authoramatir.

Semoga suka!

𝐒𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐒𝐭𝐨𝐫𝐲 ( 𝗘𝗻𝗱)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang