Ex-Boyfriend (b)

48.8K 585 10
                                        

ᴛᴇʀɪᴍᴀ ᴋᴀsɪʜ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴋᴀᴍᴜ! sᴇᴍᴏɢᴀ sᴜᴋᴀ sᴀᴍᴀ ᴛᴀᴍʙᴀʜᴀɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ᴍɪᴄʜᴀᴇʟ-ᴊᴀɴᴇ

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

ᴛᴇʀɪᴍᴀ ᴋᴀsɪʜ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴋᴀᴍᴜ! sᴇᴍᴏɢᴀ sᴜᴋᴀ sᴀᴍᴀ ᴛᴀᴍʙᴀʜᴀɴ ᴄᴇʀɪᴛᴀ ᴍɪᴄʜᴀᴇʟ-ᴊᴀɴᴇ. ᴅᴀɴ ᴅɪʟɪᴍᴘᴀʜᴋᴀɴ ʀᴇᴢᴇᴋɪᴍᴜ (♡´▽'♡)





"K-kamu?!"

Aksa tersenyum. Meletakkan kaleng minuman di hadapan Ana. Wanita itu bersedekap, menatap Aksa dengan tajam.

"Kok bisa kamu di sini?"

"Ada perlu di sini. Di minum." Ana membuang muka. Memilih menatap arah lain untuk tidak menatap Aksa.

"Belum pulang?" Karena cueknya Ana, Aksa memilih mengambil kaleng tadi, membuka tutupnya lalu mengoyangkan di depan wajah Ana.

Ana sebenarnya tidak ingin menerima minuman kaleng dari Aksa, namun melihat tangan pria itu yang terus mengudara, Ana memilih menerima.

"Belum." Kepala Aksa mengangguk. Pria itu memilih duduk di pinggiran meja kerja Ana, menatap Ana yang menyesap minumannya.

"Pulang bareng, mau?" Kepala Ana langsung bergerak, menatap Aksa dengan tajam.

"Kita perlu meluruskan semua ini, Ana." Ana menarik nafas kasar, meletakkan kaleng minumannya di atas meja.

"Gak ada yang perlu di bahas lagi. Toh semuanya memang sudah selesai." Setelah mengatakan itu, Ana memilih berdiri dari duduknya, pergi meninggalkan Aksa.

***

Dalam kesunyian malam, Ana menatapnya. Pada box besar yang berada tepat di bawah kaki wanita itu. Box berisi semua tentang apa yang Ana tidak ingin kenang kembali.

Ana sudah menguburnya dalam-dalam. Membuang semuanya bersamaan dengan hari itu. Dan sudah berjanji untuk tidak kembali pada hal yang sudah menyakiti wanita itu.

Ana menyesal. Bertahun-tahun rasanya telah ditipu oleh orang yang begitu dekat dengannya. Termakan dengan omongan kosong.

"Ya, Dek?" Ana berucap begitu mengangkat panggilan telfon dari sang Adik.

"Baik kok. Kamu butuh sesuatu?" Sejak kedua orangtuanya meninggal, Ana berusaha kuat untuk menjadi tulang punggung, menanggung beban hidup dirinya juga untuk menghidupi sang Adik.

"Ada kok, Kakak punya. Kamu butuh berapa?" Walaupun sang Adik memiliki pekerjaan di sela-sela waktu kuliah, namun Ana tidak mengharuskan untuk sang Adik menanggung seluruh kebutuhannya.

Selagi Ana mampu dan memiliki uang yang lebih, Ana akan memberikannya untuk sang Adik.

"Iya, Kakak transfer sekarang. Jaga kesehatan di sana." Selesai mengobrol dengan Adiknya, Ana menjatuhkan tubuhnya di kasur. Menatap langit-langit kamarnya.

"Aksara...."

***

Aksa kembali sore itu. Ana dibuat pusing dengan pria itu. Entah kenapa muncul disaat Ana sudah tidak ingin memiliki urusan dengannya. Semuanya sudah selesai malam itu, tapi entah kenapa pria ini malah berada di sini.

𝐒𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐒𝐭𝐨𝐫𝐲 ( 𝗘𝗻𝗱)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang