Lillian Grace (b)

16K 401 1
                                        

ᴛᴇʀɪᴍᴀᴋᴀsɪʜ sᴜᴅᴀʜ ᴍᴀᴍᴘɪʀ ᴅɪ ʟᴀᴘᴀᴋ sᴇʙᴇʟᴀʜ, ᴍɪᴄʜᴀᴇʟ-ᴊᴀɴᴇ

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


ᴛᴇʀɪᴍᴀᴋᴀsɪʜ sᴜᴅᴀʜ ᴍᴀᴍᴘɪʀ ᴅɪ ʟᴀᴘᴀᴋ sᴇʙᴇʟᴀʜ, ᴍɪᴄʜᴀᴇʟ-ᴊᴀɴᴇ. sᴇᴍᴏɢᴀ ᴅɪʟɪᴍᴘᴀʜᴋᴀɴ ʀᴇᴢᴇᴋɪᴍᴜ ʏᴀ!(^з^)-☆Chu!!

Sore itu Adian baru selesai dari kelas kuliahnya. Seharian tidak menemukan Lillian untuk mengembalikan novel yang dipinjamkan wanita itu. Lillian tidak memiliki kelas hari ini, untuk itu Adian berniat memulangkan novel milik Lillian esok hari, disaat wanita itu memiliki jam belajar di kampus.

Adian tidak langsung menuju parkiran, tempat motor maticnya terparkir. Pria itu berbelok menuju toilet untuk menuntaskan sesuatu lebih dulu.

"Lo tau, gue kesal banget sama si Lillian." Telinga Adian langsung berubah tajam mendengar nama Lillian disebut dalam sebuah percakapan di luar bilik kamar mandi yang Adian gunakan.

"Kenapa lagi lo?"

"Gue di putusin, cok. Padahal selama ini gue gak macam-macam, tiba-tiba kemarin diputusin. Anjing banget!"

"Duh... Kan gue udah bilang. Jangan mau pacaran sama Lillian. Banyak tuh yang jadi korban kayak lo. Modal goodloking sama goodrekening aja. Aslinya kayak gitu, playgirl banget."

"Gue kesal banget anjir. Gue gak terima, pokoknya gue harus kasih pelajaran. Belagu banget jadi cewe."

Adian melotot begitu mendengar rencana sekumpulan pria tersebut. Dalam bilik kamar mandi, Adian mengepalkan kedua tangannya, rahangnya mengeras.

"Lillian Grace." Gumam Adian.

***

Lillian tersenyum tipis begitu melihat Adian yang baru saja sampai ke kampus. Pria itu sedang memarkirkan motor maticnya di jejeran motor lain.

Begitu selesai, Lillian langsung menghampiri pria itu.

"Gimana?"

"Astaga!"

"Jadi, gimana?" Adian membuka tas ranselnya, mengeluarkan sebuah buku yang berukuran tidak terlalu besar, memberikannya pada Lillian.

"Terima kasih. Ceritanya bagus." Lillian tersenyum. Menatap wajah Adian. Ada yang berbeda dari pria itu, Lillian menyadarinya.

"Gue punya banyak di rumah. Nanti gue bawain lagi deh." Begitu menerima novel miliknya, Lillian mengikuti Adian sambil mencari tau perbedaan apa yang terjadi pada pria itu.

"Sore."

"Hm?" Lillian meneleng. Tidak mengerti maksud ucapan Adian.

"Selesai kelas, pulang bareng aku?" Lillian terkekeh. Mengangguk lalu tersenyum pada Adian.

***

Begitu kelas selesai, Adian bergegas membereskan peralatan miliknya lalu dengan tergesa keluar dari kelas. Pria itu berjalan cepat menuju kelas Lillian yang berbeda lantai dengannya.

𝐒𝐡𝐨𝐫𝐭 𝐒𝐭𝐨𝐫𝐲 ( 𝗘𝗻𝗱)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang