𝓣𝓮𝓻𝓲𝓶𝓪 𝓴𝓪𝓼𝓲𝓱 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴 auliaaprisa_ 𝓚𝓪𝓻𝔂𝓪 𝓲𝓷𝓲 𝓭𝓲𝓹𝓮𝓻𝓼𝓮𝓶𝓫𝓪𝓱𝓴𝓪𝓷 𝓾𝓷𝓽𝓾𝓴 𝓴𝓪𝓶𝓾 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓼𝓾𝓭𝓪𝓱 𝓶𝓮𝓶𝓫𝓮𝓻𝓲𝓴𝓪𝓷 𝓲𝓭𝓮 𝔂𝓪𝓷𝓰 𝓵𝓾𝓪𝓻 𝓫𝓲𝓪𝓼𝓪.
𝐇𝐚𝐩𝐩𝐲 𝐫𝐞𝐚𝐝𝐢𝐧𝐠!
Naka Rahardian, pria yang sedang duduk mengamati objek di hadapannya. Dalam pikirannya terus berkecamuk berbagai macam pertanyaan.
Bagaimana mungkin seorang suami dengan tega menyiksa istrinya sendiri? Apa yang pria itu pikirkan saat dengan santai melayangkan tangan pada tubuh yang tidak bersalah?
Kasus seperti ini memang bukan kasus baru yang ditangani oleh seorang Naka Rahardian. Tapi kali ini ada yang berbeda menurut Naka.
Selain Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), Nala—sang klien juga mengalami pelecehan. Bukan hanya dari sang suami, melainkan juga sekelompok teman Putra, suami Nala.
Naka tidak habis pikir. Apa yang sebenarnya ada di pikiran Putra sampai menyiksa seorang Nala dengan tanpa belas kasih.
Yang Naka tau, Nala anak yatim piatu, menikah dengan Putra karena desakan dari Ibu Putra, mertua Nala. Nala yang merupakan karyawan kepercayaan di butik Ibu Putra tentu menjadi anak kesayangan. Tidak diragukan lagi kinerja wanita itu. Maka dari itu Ibu Putra mendesak Putra untuk menikah dengan Nala.
Karena tidak tahan terus didesak, akhirnya Putra menyetujui usulan sang Ibu. Namun tidak bertahan lama, Putra mulai memperlihatkan sifat asli pria itu.
Hanya delapan bulan Nala bisa bertahan dengan sikap Putra padanya. Pada akhirnya Nala menyerah. Mencari perlindungan dengan mendatangi pengacara untuk mengurus perpisahan dengan Putra. Membawa semua bukti yang Putra lakukan pada tubuh wanita itu.
"Kamu sudah makan?" Alih-alih bertanya mengenai kasus yang dialami Nala, Naka malah bertanya sesuatu yang entah kenapa tidak terpikirkan sebelumnya.
Nala menggeleng, tersenyum simpul pada Naka.
Naka kemudian bangkit dari kursinya. Mengambil ponsel untuk di kantungi.
"Ayo!" Dengan bingung, Nala tetap duduk diam. Menatap Naka yang sudah berdiri di sampingnya.
"Mau ke mana, Pak?" Naka mendesah, menarik salah satu tangan Nala untuk bangkit.
"Nyari makan. Kamu gak lapar?"
"Eh? G-gak usah, Pak." Tolak Nala dengan halus. Bahkan tanpa sadar melepaskan tangan Naka. Merasa tidak nyaman.
"Ayo!" Naka mengambil kembali tangan Nala, menggenggamnya lalu keluar bersama dari ruangan kerja pria itu.
***
"Kamu gak makan?" Naka bertanya. Sedari pesanan mereka dihidangkan, Nala sama sekali tidak menyentuhnya.
"Makan aja. Karena kamu udah mau temani saya." Nala mengangguk. Perlahan mengambil sendok dan mulai menyantap makanan di depannya.
Diam-diam Naka mengamati wanita itu. Begitu banyak kasus yang ditangani pria itu, namun kali ini sangat berbeda. Ada yang membuat Naka menaruh perhatian lebih ke Nala.
Entah apa. Tapi Naka belum bisa memastikan. Namun jika melihat bagaimana tubuh itu mendapat perlakukan kasar, Naka merasa sangat terusik. Tidak nyaman. Apalagi kini melihat dengan jelas pergelangan tangan wanita itu yang masih membiru.
Ingin sekali Naka marah. Namun entah pada siapa pria itu ingin melampiaskannya.
"Terima kasih." Nala menggeleng. Menatap Naka yang membukakan pintu mobil untuknya.
"Saya yang harusnya berterima kasih ke Bapak. Terima kasih." Naka tersenyum. Begitu Nala sudah masuk ke dalam mobil, pria itu memutari mobil, masuk pada sisi lain.
"Jadi, kamu sudah berhenti bekerja?" Nala menggeleng. Meremas kedua tangannya.
"Belum. Mama juga belum tau kelakuan Putra pada saya." Jemari Naka meremas kemudi dengan kuat.
Kenapa?
Kenapa wanita itu tidak terus terang?
"Kenapa?" Pria itu menatap Nala begitu mobil berhenti di lampu merah.
"Semua gak mudah, Pak. Putra, dia sering mengancam dan memantau saya. Saya takut." Bahkan dari suaranya, Naka tau, seberapa takut yang dirasakan Nala.
"Kalau sudah berpisah nanti, mau ke mana?" Pertanyaan itu juga yang terus Nala pikirkan. Kedepannya akan ke mana? Bahkan kedua orangtuanya Nala tidak tau. Nala tidak pernah bertemu.
"Bingung ya?" Tebakan Naka membuat Nala mendongkak, menatap pria itu lalu tersenyum sekilas.
Baik Naka ataupun Nala, sama-sama diam sampai mobil yang dikendarai Naka berhenti di depan sebuah butik.
"Terima kasih, Pak." Naka mengangguk. Sebelum Nala keluar dari mobil, pria itu berucap.
"Berjuang untuk hidup itu lebih baik daripada menyerah dan mati begitu saja."
***
"Siapa tadi?" Tubuh Nala membeku. Nala pikir Putra tidak ada di rumah karena tidak menemukan mobil pria itu.
"Siapa?" Putra kembali bertanya. Mendekat pada Nala yang berdiri mematung dengan tangan yang memilin pakaiannya sendiri.
"SIAPA?!" Kedua mata Nala terpejam. Bentakan Putra begitu kuat sampai telinga wanita itu berdenging.
"Jadi begini kelakuanmu selama aku gak di rumah, hah?!" Nala menggeleng.
"Gak... Kamu salah paham, Putra."
"Shut up!" Tangan Putra sudah mencengram kedua pipi Nala. Menekan dengan kuat di sana.
"Kamu pikir aku gak tau? Kamu yang seminggu ini terus bersama pria yang bukan suami kamu?" Nala sudah menangis. Putra hanya salah paham. Hubungannya dengan Naka tidak seperti yang Putra tuduhkan.
"Berhenti menangis, siala*!"
Sakit.
Namun semakin Nala ingin menjelaskan, semakin kuat juga cengkraman Putra pada pipinya.
"Dia temanku."
"Berani kamu?!" Putra melepaskan cengkramannya namun kali ini digantikan dengan sebuah tamparan keras pada pipi Nala.
Rasa panas mulai dirasakan Nala beberapa detik setelah tamparan Putra pada pipinya.
Belum hilang rasa sakit itu, perkataan Putra yang kini terdengar membuat dada Nala sesak.
"Dibayar berapa kamu?"
Jalang.
Putra sudah mencap dirinya sebagai jalang.
"80 juta?"
Nala mengigit bibirnya untuk meredam isak tangis. Perkataan Putra sungguh menusuk sampai wanita itu seakan tidak bisa bernafas. Sesak sekali.
𝙰𝚔𝚞 𝚞𝚙𝚍𝚊𝚝𝚎 𝚜𝚎𝚐𝚒𝚗𝚒 𝚍𝚞𝚕𝚞 𝚢𝚊! 𝙱𝚊𝚛𝚞 𝚋𝚒𝚜𝚊 𝚋𝚞𝚔𝚊 𝚠𝚊𝚝𝚝𝚙𝚊𝚍 𝚜𝚎𝚔𝚊𝚛𝚊𝚗𝚐, 𝚜𝚘𝚊𝚕𝚗𝚢𝚊 𝚊𝚍𝚊 𝚋𝚎𝚋𝚎𝚛𝚊𝚙𝚊 𝚖𝚊𝚜𝚊𝚕𝚊𝚑 𝚍𝚒 𝚔𝚊𝚗𝚝𝚘𝚛 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚑𝚊𝚛𝚞𝚜 𝚍𝚒 𝚞𝚛𝚞𝚜.. 𝙳𝚘𝚊𝚒𝚗 𝚢𝚊 𝚜𝚎𝚖𝚘𝚐𝚊 𝚌𝚎𝚙𝚊𝚝 𝚜𝚎𝚕𝚎𝚜𝚊𝚒 𝚍𝚊𝚗 𝚌𝚎𝚙𝚊𝚝 𝚞𝚙𝚍𝚊𝚝𝚎 𝚓𝚞𝚐𝚊 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊 𝚍𝚒 𝚠𝚊𝚝𝚝𝚙𝚊𝚍.
𝚄𝚗𝚝𝚞𝚔 auliaaprisa_ semoga suka dan sesuai ekpetasi ya!
