PART 24

2.6K 259 32
                                    

...

Semilir angin malam yang dingin rupanya tak berlaku bagi ashel yang kini masih jail memotret adel dengan random.

Adel juga masih berusaha menggapai ponsel milik ashel.

Sebenarnya ia tak sepenuhnya mengeluarkan tenaga. Adel juga sadar kalau jika ia terlalu serius menanggapi tentu saja ashel akan kalah.
Haha lagaknya.

Keduanya nampak sama-sama sudah berkeringat, apalagi dengan baju tebal yang mereka kenakan.

"Ambil dong kalo bisa" Ujar ashel dengan komuk songongnya.

"Apus ga.

Awas ya lo"

"Ihh tackut buangett lohh." Ashel masih dalam tawanya.

"Padahal cakep gini kok. Bagus tau Fotonya blur2 aesthetic gituu" Sambungnya.

"Apaan. Ngga" Ujar adel mulai kesal.

Ditengah perdebatan tersebut,
Tiba-tiba hp ashel berdering.

Ashel menghentikan gerakannya.

Ia juga mengangkat sebelah telapak tangannya sebagai tanda agar adel juga berhenti mengejarnya.

"Bentar. Telepon" Ucap Ashel.

Adel yang emang dasarnya nurut-nurut aja pun akhirnya ikut terdiam.

Ashel lalu menekan dial panggilan dan menjawab telepon tersebut.

Halo, jes?

Lo dimana sih kak?!

(Ashel melirik adel sejenak.)

Gue lagi diluar. Kenapa?

(Jessi tak menjawab apapun. Ia terdiam)

Ada apa?

Halo, jessi.

(Yang terdengar hanyalah suara Jessi yang terisak)

Lo nangis?

Tut. Tut. Tut.

Jessi memutuskan panggilannya sebelah pihak.



Mendengar suara jessi yang bergetar ditambah isakannya tentu saja ashel tak tenang sekarang.

Ia menurunkan ponselnya sembari menatap kosong.

Adel yang melihatnya pun juga terheran.

"Kita bisa balik sekarang?" Ucap Ashel.

Adel masih terdiam dan menatapnya kebingungan.

"Nanti gue hapus fotonya" Ashel melanjutkan perkataannya.












...

Setelah melepas hoodienya terlebih dulu, zee segera beranjak ke dapur, diikuti oleh marsha.

Sesampainya di dapur,
Zee langsung bergegas merebus air.

Ia lalu membuka setiap lemari pada area kitchen set sampai menemukan beberapa bungkus mie instan disana.

Butterfly at Night 🔞Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang