|Cemburumu terlalu kentara padahal bukan siapa-siapa
Pukul 7 malam Nadiva keluar rumah dengan piyama bermotif kelinci menuju mini market, karena jaraknya yang dekat ia putuskan untuk berjalan kaki. Langkahnya langsung di arahkan ke rak cemilan, ada satu camilan yang ia mau namun karena letaknya yang melampaui jangkauannya itu sedikit menyusahkannya. Seperti adegan bak di novel-novel
tak lama sebuah tangan terulur membantunya.
"Mau rasa apa?" Tanya orang itu, yang ternyata adalah Marshall kakak kelasnya sekaligus pacar Gia.
Merasa tidak ada jawaban atas pertanyaannya, Marshall menoleh ke arah Nadiva yang hanya memandanginya dengan mulut sedikit terbuka.
Dengan menjentikan kedua jarinya di depan wajah Nadiva, Marshall kembali bertanya,
"You okay, Nad?"
Pertanyaan kedua Marshall mampu membawa kesadaran Nadiva kembali dengan mengerjapkan kedua matanya dengan cepat, dirinya hanya sedikit kaget karena ternyata Marshall mengenalnya.
"Eh, sorry, Kak." Jawabnya sedikit gelagapan.
Marshall terkekeh, "Jadi, mau rasa yang mana? Gue bantu ambilin."
Kembali ketujuan awal, Nadiva langsung menunjuk sesuai apa yang di inginkannya.
"Rasa coklat."
"Nih"
"Thank you, kak." Marshall mengangguk setelah Nadiva menerima uluran tangannya, namun cowok beralis camar itu tidak segera beranjak dari sana hal itu membuat Nadiva sedikitnya basa-basi bertanya pada Marshall.
"Lo sendiri kak?"
"Enggak, gue sama Gia." Jawab Marshall dengan tangan menunjuk ke arah belakang Nadiva.
Bisa Nadiva lihat, tepat di belakangnya di rak perlengkapan bumbu dapur berdiri Gia dengan masing-masing tangan tengah memegang botol
kecap dengan ukuran yang berbeda. Sadar dirinya tengah diperhatikan, Gia menoleh kemudian sedikit raut terkejut dan senyum terpatri di bibirnya.
"Hai, Nadiva?" sapanya yang kini berjalan ke arah dua orang itu.
"Hai," balas Nadiva dengan bibir melengkung.
"Kebetulan banget kita ketemu disini, kamu sendirian kah?" Tanya Gia.
Jujur, Nadiva sedikit canggung karena baik di sekolahpun dirinya jarang sekali bertemu Gia. Nadiva sudah siap menjawab namun sebuah
suara memotongnya.
"Sama gue."
"Noah?!"
Noah tersenyum, dia langsung ber tos ria dengan Marshall kemudian setelahnya menggamit tangan Nadiva serta mengambil snack yang berada di tangan satunya. Mengabaikan mata yang menatapnya kaget.
"Tega banget kamu ninggalin aku." Noah tidak membiarkan Nadiva mengucapkan protesnya karena langsung saja atensi cowok itu kembali ke arah dua pasangan di depannya. Tahu darimana cowok itu kalo dirinya berada disini? Karena sebelumnya Nadiva tidak ada komunikasi apapun dengan Noah.
"Jauh banget lo belanjanya, padahal sebrang rumah lo juga ada."
Gia mencebik atas lontaran Noah, "Terserah kita dong."
"Sayang, aku bingung deh, menurut kamu beli yang ukuran 135 ml atau 275 ml? Yang ini kebanyakan tapi kalo yang ini juga kurang." Tanya Gia dengan tangan kanan memegang botol berukuran besar dan ukuran
yang lebih kecil dari itu berada di tangan kirinya.
Pertanyaan Gia tak hanya mendapatkan perhatian dari Marshall saja melainkan Noah dan Nadiva kini memerhatikan interaksi keduanya.
Marshall dengan gemas mengacak surai kekasihnya yang kemudian tangannya ia jatuhkan ke bahu cewek itu.
"Yang ini aja." Tunjuknya ke tangan kanan Gia.
KAMU SEDANG MEMBACA
Klausa Asmara [END]
Teen FictionNoah Alby hanya perlu tutup mulut untuk hal yang tidak seharusnya Nadiva Adisty-pacarnya, tahu. Sebuah pengkhiatan yang sudah ia lakukan sejak awal hubungannya yaitu mencintai perempuan lain. Kacaunya, Noah mencintai keduanya, tetapi tidak bisa mele...
![Klausa Asmara [END]](https://img.wattpad.com/cover/313478341-64-k179227.jpg)