Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

13. Sebuah Pilihan

62 6 0
                                        

|Sudah diputuskan bahwa kamulah yang menjadi sebuah tujuan

Akibat perkataan Bara dan Nadiva tempo hari lalu, kini perasaan Noah dilanda kebingungan. Minggu sore ini ia habiskan dengan mengurung diri di kamar dengan layar komputer menyala menampilkan
game yang biasa ia mainkan. Tidak ia mainkan, karena sejak tadi fokusnya hilang entah kemana.
Noah sangat terusik, ia juga memikirkan hal tersebut.

Jujur memang rencananya sangat melenceng jauh dari perkiraannya. Benar kata Bara, dirinya memang sudah terjebak dari awal. Noah mengusap wajahnya kasar dan secara tiba-tiba pening melandanya.
Ketukan dari pintu terdengar, Noah tidak beranjak sedari tadi posisinya hanya duduk diatas kursi.

Menolehkan kepalanya dan mendapati Jordi, ayahnya. Jordi masuk kemudian mendaratkan tubuhnya diatas kasur.

"Makan belum?" tanyanya.

Noah menggeleng, "Belum,"

"Kenapa? Mau mati kelaparan?"

Noah memutar kedua bola matanya malas ketika mendengar ucapan ayahnya yang menurutnya sedikit berlebihan. "Gak makan sekali juga gak bakalan bikin aku mati, ayah."

"Optimis banget."

Jordi bangkit mendekati Noah kemudian tubuhnya ia sandarkan ke lemari yang berada disebelah anaknya dengan melipat kedua tangan di dada.

"Kenapa sih? Kayak anak perawan aja ngurung dikamar. Segala muka di tekuk kayak gitu, udah ini mah pasti kamu galau diputusin kan?"

Noah memutar kedua bola matanya jengah mendengar ucapan yang ngawur itu, "Mulai deh nyebelinnya,".

"Yaudah sini cerita."

Menurut Jordi, Noah itu anaknya tertutup. Tipikal orang yang akan diam dengan wajah yang kusut dan berpusing ria dengan masalahnya sendiri tanpa membaginya dengan orang lain. Tapi Noah akan bersedia menceritakan masalahnya asal ditanya dan orang tersebut tidak keberatan dengan ceritanya karena dasarnya anaknya itu juga punya sifat tidak
enakan. Maka dari itu sebagai Ayah, Jordi tidak kesusahan ketika mengetahui anaknya sedang mempunyai masalah atau tidak dan ia berinisiatif menanyakannya. Dan terbukti, saat ini Noah diam sedang menimbang apakah ia harus bercerita atau tidak tanpa membuat Ayahnya itu marasa terbebani.

“Ayah gak bakalan ngerasa kebebanin, kok.” Seakan bisa membaca pikirannya Jordi berucap demikian.

“Yah, mungkin gak sih kita suka sama dua orang sekaligus?” Noah membuka pertanyaan.

Jordi memiringkan kepalanya dengan bibir yang menipis dan tangan yang mengusap dagu, “Mungkin-mungkin aja sih, tapi lebih baik
gak mungkin.”

Klausa Asmara [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang