Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

14. Berbunga Bahagia

64 8 0
                                        

|I think I’m in love with you

Ibu
Noah, pulang sekolah kalo bisa langsung pulang
Ayah sakit daritadi nanyain kamu terus.

Noah dengan cermat membaca pesan dari sang ibu, gerakan memakai seatbeltnya terhenti seketika. Nadiva yang menyadari raut terkejut dari Noah dengan cepat mengusap bahunya.

"Kenapa?"

"Adis, kita ke rumah aku dulu ya. Ayah aku sakit."

Nadiva mengangguk, meskipun kini serangan panik menderanya. Bagaimanapun ini adalah pertama kalinya Noah mengajaknya ke rumah, sebenarnya Nadiva belum siap sama sekali namun dia juga harus mengerti bahwa kini keadaan Noah sangat mendesak.

Mobil siap dijalankan ketika dentingan dari handphone Noah kembali berbunyi, ternyata ibunya yang kembali mengiriminya pesan.

Ibu
Gak usah panik, ayah cuman meriang

Noah dengan leluasa menghembuskan nafas lega setelah dari tadi ia kesulitan bernafas. Jordi termasuk orang yang jarang sakit, sekalinya sakit meskipun itu hanya meriang seluruh penghuni rumah akan dibuat panik.

Atensi Noah kini teralihkan ke arah Nadiva yang sedari tadi tangannya bergerak gelisah diatas pangkuannya kemudian digenggamnya tangan itu dengan lembut. Pergerakan Noah membuat Nadiva yang tengah memandangi jalan menatapnya serta sebelah tangannya yang kosong menimpa tangan Noah yang tengah menggenggamnya.

"Padahal aku gak papa, kok, pulang sendiri juga."

Noah menggeleng, fokusnya harus ia bagi antara Nadiva dan jalanan. "Enggak, aku udah janji mau bawa kamu main sama Boski."

Nadiva mengerjap, bahkan ia sendiri sudah lupa akan janji Noah waktu itu. Dirinya tersenyum, namun tetap tidak melunturkan semua rasa gugupnya.

"Kamu gak usah gugup, tenang aja, mereka baik kok."

Menghela nafas, dirinya kini menunduk memperhatikan tautan tangan mereka. "Aku lagi kurang percaya diri aja. Liat aku,"

Noah menuruti perintah itu dengan melihat penampilan Nadiva yang masih memakai seragam sekolahnya dibalut dengan sebuah cardigan warna cream yang sedikit kebesaran ditubuhnya. Rambutnya dibiarkan tergerai hingga sesekali tertiup oleh angin, Nadiva cantik, benar-benar cantik di mata Noah saat ini.

"Cantik." Jawab Noah yang langsung mendapat putaran bola mata dari Nadiva.

"Iya, aku tau." Sebalnya. Noah langsung tergelak mendengar ucapan percaya diri itu. Nadiva bahkan tidak salting sama sekali.

"Tapi kesan pertama itu penting banget, Noah. Aku ngerasa lagi jelek aja sekarang." Keluhnya.

Mereka berhenti di tengah lampu merah yang tengah menghitung mundur di angka empat puluh. Noah menaruh kedua tangannya di stir diikuti dagunya yang menempel dengan perhatian sepenuhnya mengarah pada Nadiva.

"Kamu kapan jeleknya sih? Orang tiap hari cantik terus."

Sebuah dengusan dan tepukan dipipinya Noah dapatkan dari Nadiva, langsung saja tangan itu tidak dibiarkannya lepas, Noah langsung menguncinya dengan dijadikannya sebagai alas pipinya sebelum menyentuh stir menggantikan tangannya yang sebelumnya.

Nadiva membuang wajahnya kesamping, diam-diam menggigit bagian dalam pipinya, "Diem!" Dirinya butuh ditenangkan tapi Noah terus saja membuat jantungnya berpacu dengan keras.

Noah terkekeh ketika mendapati wajah kekasihnya yang sudah memerah, bahkan tangannya saja sudah berubah suhu menjadi dingin, sangat kontras dengan pipi milik Noah yang hangat.

Klausa Asmara [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang