|'Cause you're just a man it's just what you do your head in your hands as you color me blue-Lana Del Rey
Nadiva dan Ella berjalan ke luar perpustakaan. Tangan Ella menangkup empat buah buku satu diantaranya adalah buku sejarah dan tiga lainnya sebuah novel. Nadiva mengambil dua buah novel untuk membantu Ella meringangkan bawaannya yang disambut dengan senang hati oleh cewek itu.
Dirinya berniat untuk ke kantin, di tengah perjalanan dari kejauhan matanya menangkap sekilas tubuh Noah yang memasuki ruang kesenian. Nadiva tersenyum, meskipun jaraknya yang jauh tapi perawakan cowok itu sangat mudah untuk dikenalinya. Nadiva memutuskan untuk menyusul Noah karena memang penasaran hal yang dilakukan cowok itu.
Sekitar dua ruangan lagi untuk mencapai tempat di mana Noah berada, keduanya dihentikan oleh Edi-ketua kelasnya. Edi menyodorkan lembaran kertas masing-masing pada Nadiva dan Ella.
"Nih, kisi-kisi tambahan dari pak Yanto."
"Eh gue gak punya gak punya kisi-kisi buat sosiologi deh." Ella berujar dengan mata yang menulusuri isi kertas.
"Bu Jena emang gak ngasih.""Oh, makasih ya, Di."
Edi melenggang pergi setelah mendengar ucapan terima kasih dari dua teman sekelasnya setelah itu menghilang ketika berbelok. Nadiva melanjutkan langkahnya.
"Gue mau ke ruang seni bentar, lo kalo mau duluan juga gak papa."
Namun dengan cepat Ella menggeleng tidak menyetujui usulan itu. "Gue tungguin aja deh, males banget kalo harus ke kantin sendirian."
Nadiva tidak merespon ucapan itu, niatnya hanya untuk bertemu sebentar saja. Tangannya mulai memutar knop pintu, sesaat matanya berkeliling untuk mencari keberadaan Noah namun tak sampai lima detik matanya sudah menangkap sepasang tubuh dengan jarak yang teramat dekat dan bibir saling terpagut.
Nadiva berdiri dengan kaku. Sepasang matanya menatap ke arah Noah dengan tajam, mencoba menyadarkan dirinya sendiri bahwa ia tidak salah dengan apa yang tengah dilihatnya sekarang. Nadiva merasakan asam lambungnya berpusat pada ulu hati. Teramat sakit dan membuatnya tidak nyaman dengan perlakuan Noah yang begitu tega melakukan hal itu di hadapannya. Perasaannya tercabik-cabik, merasa bodoh karena telah memercayai Noah dengan yakin. Mungkin karena keyakinannya itu Noah bisa berlaku seenaknya di belakangnya karena tahu bahwa Nadiva akan selalu percaya dan memaafkannya.
Noah menoleh ketika buku yang di bawa Nadiva jatuh ke lantai seiring pegangan cewek itu yang melemah. Matanya terbelalak kaget melihat Nadiva yang memandangnya dengan marah. Dia bisa juga melihat teman Nadiva yang berdiri di belakang dengan tak kalah kaget juga. Dengan sisa kekuatannya yang ada, Noah melangkah mendekat ke arah Nadiva yang masih bergeming dengan menatapnya nyalang. Sudah yakin bahwa kekasihnya itu melihat hal yang telah dilakukannya tadi.
Tidak ada perasaan lain selain rasa takut akan sorot kekecewaan itu atas kelakuan bodohnya tersebut.
Sebuah aliran bening mulai siap untuk membobol pertahanan Nadiva, membuatnya memalingkan muka ketika tubuh itu sudah berhenti tepat di hadapannya.
"You guys are so romantic. Kok berhenti? Aku ganggu kalian banget ya?" meskipun suaranya serak, Nadiva bersyukur bisa menuntaskan kalimat tersebut tanpa tersendat.
"Sayang... maaf."
Kekehan sarkas langsung keluar dari mulut Nadiva.
"Maaf?" dirinya mengulangi perkataan Noah yang tidak menjelaskan apapun.
Noah menutup mulutnya, jantungnya berdegup kencang. Dan Nadiva tersadar bahwa yang dilihatnya tadi sudah tidak memerlukan penjelasan lagi.
"Nad,"
KAMU SEDANG MEMBACA
Klausa Asmara [END]
Ficção AdolescenteNoah Alby hanya perlu tutup mulut untuk hal yang tidak seharusnya Nadiva Adisty-pacarnya, tahu. Sebuah pengkhiatan yang sudah ia lakukan sejak awal hubungannya yaitu mencintai perempuan lain. Kacaunya, Noah mencintai keduanya, tetapi tidak bisa mele...
![Klausa Asmara [END]](https://img.wattpad.com/cover/313478341-64-k179227.jpg)