|I lost you but I found me
Esoknya dengan tubuh yang menggigil di balik selimut Nadiva memutuskan untuk tidak bersekolah di hari jumat ini. Dirinya terjaga semalaman karena terus saja menangis dan ketika waktu menunjukkan pukul lima pagi ia mencoba untuk memejamkan matanya. Masih ada waktu satu jam untuk dirinya siap-siap berangkat ke sekolah. Tapi ketika dirinya mencoba untuk bangun, kepalanya terasa berat dan pusing di susul dengan rasa panas pada dahi serta tubuhnya. Untuk itu Nadiva memutuskan untuk istirahat dan meminta tolong pada ibunya untuk mengurus surat ijin sakit kemudian menitipkannya pada Nevan.
Omong-omong kakaknya itu belum mengetahui permasalahan kemarin. Nadiva membiarkan dulu karena omelan Nevan akan membuat kepalanya tambah sakit. Dan terakhir dirinya berpesan untuk tidak memperbolehkan siapapun memasuki kamar dan menganggunya dengan berdalih ingin istirahat sepenuhnya agar cepat sembuh dikarenakan senin sudah memasuki waktu ujian. Karena dia hanya yakin bahwa jika Noah tidak melihat keberadaannya di sekolah bisa dipastikan cowok itu akan ke sini dan Nadiva tidak mau bertemu dengan Noah setelah puluhan panggilan serta pesan dari cowok itu ia abaikan. Hingga kini ponselnya mati kehabisan baterai dibiarkan teronggok begitu saja di atas kasur tanpa berniat untuk mengisi dayanya. Seusai meminum obat dirinya kembali tidur.
Sesuai dugaannya, di jarum jam yang menunjukkan di angka tiga sore Nadiva mengerjapkan matanya ketika suara samar-samar di luar kamarnya terdengar. Dirinya baru bangun setelah tidur panjangnya, badannya juga mulai terasa membaik dan panas yang mulai menurun.
“Kayaknya masih tidur, adek tadi ngeluh pusing terus pas di cek ternyata demam. Kamu gak dikasih tau ya?”
Nadiva mulai menajamkan pendengarannya ketika suara mamanya terdengar, penasaran dengan siapa yang hendak menemuinya. Pintu kamarnya dikunci itulah alasannya ia hanya bisa mendengar suara itu dari dalam.
“Enggak, Ma, aku baru tau Adisty sakit dari Nevan tadi pagi.”
Tanpa perlu melihat wajahnya Nadiva sudah bisa menebak suara dan panggilan untuk namanya berasal dari satu orang yaitu Noah. Soal cowok itu yang memanggil mamanya dengan sebutan yang sama seperti dirinya karena Nenti lah yang meminta. Nenti meminta Noah untuk memanggilnya dengan panggilan Mama.
“Yaudah kamu jangan langsung pulang, makan dulu yuk sama Nevan di bawah.”
Setelah perkataan Mamanya, dia tidak mendengar suara apapun lagi selain suara langlah kaki yang bergerak menjauh. Sepertinya mereka sudah turun dan meninggalkan kamarnya. Hembusan nafasnya kasar, dirinya bangkit untuk mencuci wajahnya. Mengeluh karena sekarang perutnya kini lapar dan harus menahannya sampai Noah pulang.
●●●
“Lo gak mau mukul gue?” Noah meletakkan sikunya di atas lutut seraya menatap Nevan yang tengah berdiri menjulang di depannya dan tangan berkacak pinggang.
Nevan hanya bergeming setelah Noah menceritakan kejadian kemarin di ruang kesenian. Kini Noah tengah berada di apartemen milik cowok itu bersama kedua temannya yang lain. Nevan menghela nafas dengan rahang yang mengetat. Tangannya mengurut pangkal hidung yang terasa pusing, namun belum sempat bereaksi lebih tiba-tiba dia melihat Bara melesat dan langsung melayangkan pukulan pada Noah membuat Nevan dan Davi terkesiap.
Bara menggerakan tangan kanannya yang merasakan sakit, setelahnya cowok itu bangkit dan tersenyum lebar hingga gigi rapihnya timbul.
“Gue cuman ngelakuin permintaan lo yang waktu itu minta di tonjok kalo ngecewain Nadiva lagi.” Terang Bara pada Noah yang menatapnya dengan alis terangkat penuh keheranan.
Raut Noah berubah seketika, “Thanks, Bar.” Ujarnya setelah di sadarkan, sama sekali tidak marah pada Bara.
“Jadi, Nadiva mergokin lo ciuman sama Gia?”
KAMU SEDANG MEMBACA
Klausa Asmara [END]
Teen FictionNoah Alby hanya perlu tutup mulut untuk hal yang tidak seharusnya Nadiva Adisty-pacarnya, tahu. Sebuah pengkhiatan yang sudah ia lakukan sejak awal hubungannya yaitu mencintai perempuan lain. Kacaunya, Noah mencintai keduanya, tetapi tidak bisa mele...
![Klausa Asmara [END]](https://img.wattpad.com/cover/313478341-64-k179227.jpg)