Kami telah memperbarui Pedoman Konten kami.
Tinjau pedoman terbaru untuk terus berbagi cerita dengan aman.

31. Drive in Cinema

41 6 0
                                        

|If you could see my thoughts you would see your face-Frank Ocean

"Nanti jam 7 aku jemput," Setelah ucapannya yang menggantung tanpa penjelasan lebih lanjut lagi di sore sehabis Noah mengantarkannya pulang. Kini, di waktu lebih 45 menit sesuai yang dijanjikan dirinya tengah berada dalam mobil berdua dengan cowok itu.

Layar berukuran 18,8 x 8 meter tertampang dihadapannya. Noah ternyata mengajaknya untuk menonton kembali film Avatar yang tengah memenuhi layar tancap itu. Merupakan kali pertama Nadiva menikmati Drive in Cinema seperti ini. Sekilas Nadiva melirik ke arah Noah yang tengah menikmati film favoritnya tersebut, suara film masuk langsung ke
radio mobil sehinggga memenuhi seluruh ruang tanpa ada obrolan.

Noah menangkap sebuah senyuman melalui ekor matanya, dirinya menoleh dan mengunci pandangan ke arah tersebut. Nadiva yang tertangkap basah langsung mengalihkan tatapannya ke depan hal itu membuatnya kikuk ketika cowok itu seperti tidak ada niatan untuk kembali ke posisi semula. Noah terus saja menatapnya dengan garis melengkung indah.

Nadiva yang lama-lama kesal karena aksi Noah membuatnya yang sedari awal memang sudah tidak fokus akan tayangan langsung meliriknya dengan bibir yang mengerucut. Melihat itu sebuah kekehan langsungterdengar, Noah menggeser posisi tubuhnya menjadi menghadap Nadiva sepenuhnya.

"Are you happy?" tanyanya sembari menyelipkan rambut Nadiva ke belakang telinga dan memandangi seluruh bagiah wajah manis itu.

Ditanya seperti itu membuat letupan bahagia yang sedari tadi menjalari tubuhnya kian meningkat, pipi yang panas tambah semakin panas ketika tangan Noah sekarang mendarat di sana. Nadiva mengangguk, membawa tangan itu ke dalam genggaman kecilnya. "Thank you."

Keduanya kembali menghadap ke depan dengan mata dan pikiran yang sudah tidak lagi memerhatikan tayangan. Noah masih mengusap tangan Nadiva menggunakan ibu jarinya, dirinya menunduk mulai merasakan redup dari suasana bahagia. Noah membawa tangan itu dan mengecupnya penuh haru. Dirinya hanya teringat kejadian lalu yang sering menyakiti Nadiva dan hal itu membuatnya kembali merasakan sesak penyesalan.

"Sayang,"

Nadiva membalas pandangan itu.

"How are you, really?" Noah bertanya dengan suara serak, menahan rasa panas di dadanya.

Nadiva diam, pertanyaan Noah membuat suasana langsung berubah, tambah haru. Sebuah isakan lolos, dengan cepat dirinya langsung menghambur pada pelukan, kedua tangan Noah melingkari kepalanya. Kecupan bertubi-tubi cowok itu layangkan membuat tangis Nadiva
semakin menggebu.

"Dengan kamu yang sekarang seperti ini ngebuat aku baik-baik aja. Aku bahagia, sangat." Nadiva menjawab disela isakannya.

"Makasih udah ngasih aku kesempatan. Makasih udah bertahan. Kali ini, aku bakalan berusaha jadi Noah yang kamu harapkan dan inginkan. Tolong bantu aku buat wujudin semua itu."

Pelukannya terurai tapi tak membuat jarak keduanya terpaut jauh. Nadiva mengusap cairan bening yang meluruh pada pipi kekasihnya hal yang sama dilakukan oleh Noah pada Nadiva, cairan tersebut terhapus oleh ibu jarinya agar tidak meninggalkan bekas. Dikecupnya kedua mata sembab tersebut yang sudah memejam. Nadiva tersenyum, dirinya mendekap tangan Noah dan mengecupnya sekilas.

"Cukup jangan kecewakan aku lagi, maka hubungan kita bakalan baik-baik aja."

"Aku janji." Noah kembali membawa kepala Nadiva untuk tenggelam pada dadanya. Bisa cewek itu dengar bagaimana detakan jantung Noah yang saat ini tengah bertalu dengan cepat, sebuah suara yang mulai detik ini ia putuskan untuk menjadi candunya.

●●●

"Kamu inget gak pertama kali kita ketemu itu dimana?"

Kedua alis tebal Noah menekuk, mencoba mengingat pertemuan pertama mereka. Masih di tempat yang sama, mereka duduk di dalam
mobil menunggu durasi film yang tidak mereka tonton itu habis karena keduanya tenggelam dalam obrolan.

Klausa Asmara [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang