|Hanya ingin mengingatkan, lukamu belum seberapa
Nadiva berjalan ditengah kerumunan orang yang mau ke kantin, langkahnya terburu-buru namun bukan untuk ke kantin melainkan ke toilet.
Beberapa menit berlalu Nadiva keluar dengan perasaan lega sekarang. Langkahnya ia ayunkan kembali untuk menuju kantin. Di tengah perjalanan dirinya di hadang oleh manusia berperawakan tinggi 174 cm dengan warna kulit putih pucat. Orang itu tersenyum lebar dan melambaikan tangan kearahnya.
"Hallo, dik Nadiva."
Nadiva memutar bola matanya malas, "Jangan so akrab."
Dia kembali melanjutkan langkahnya dan diikuti orang tadi yang kini berjalan didepan dengan tubuh yang menghadap ke arahnya. Orang tersebut adalah Nevan teman Noah.
"Sensi amat, bu, ntar suka loh sama gue."
"Amit-amit jabang bayi." Namun sedetik kemudian Nadiva menghentikan langkah yang otomatis di ikuti oleh Nevan.
Matanya ia arahkan ke segala penjuru dan berakhir menatap tajam Nevan seolah melupakan sesuatu. Menghela nafas karena untungnya suasana koridor tengah sepi. Teman Noah yang satu ini sedikit berbahaya, Nadiva harus hati-hati. Meskipun terkenal dengan ke nice try-annya dalam menjalin hubungan, Nevan ini termasuk cowok bermulut manis dan buaya.
"Jangan deket-deket gue, please, Kak Nevan."
Nevan tersenyum pongah, "Kenapa?"
"Ya pokoknya jangan."
"Loh harus ada alasan yang jelas, dong." Kedua alisnya ia naik turunkan menggoda sang lawan bicara.
"Lo inget kan perjanjian kita?" tanya Nadiva dengan cemas.
Nevan mengusap dagunya berpikir, "Soal Noah yang gak boleh tau hubungan kita?"
Nadiva tidak menjawab kini tatapannya menunjukan raut frustasi.
"Lo takut Noah kecewa sama lo? Mau gimanapun perlahan-lahan dia bakalan tau." Kini kedua tangan Nevan terlipat didadanya.
"Iya, gue tau. Tapi please, kali ini aja." Sungguh, bahkan Nadiva sendiri tidak sadar bahwa suaranya terdengar frustasi.
"Hm, gimana ya? Oh, lo mau kasih gue apa emang buat tutup mulut?"
Nadiva mengepalkan tangannya, "Apapun yang lo mau."
Hal itu membuat Nevan tersenyum miring. Ia mengangguk-anggukan kepalanya dan merangkul leher Nadiva. "Ke apart malam ini, gue tunggu." Bisiknya.
Nevan tahu bahwa saat ini Nadiva tengah memutar bola matanya jengah, "Tapi lo janji jangan kasih tau Noah."
"As you wish, darl." gumamnya dengan suara rendah dekat yang hanya berjarak lima senti dari telinga Nadiva.
Nevan mengecup kepala Nadiva sekilas kemudian kembali berbisik, "Bye, sayang, kalo sampe ketahuan lo aja yang jelasin, gue males."
Tubuhnya menegang bukan main, ditatapnya punggung Nevan dengan kilatan emosi yang terpancar jelas di matanya. Setelah sepenuhnya sadar, Nadiva berbalik arah menuju ke arah kelas dan memutuskan untuk tidak jadi pergi ke kantin. Dirinya tidak mau kalau sampai harus bertemu Nevan lagi.
Baru saja dirinya memutuskan untuk tidur, tetapi pintu ruangan kelasnya terbuka dan terlihatlah Ceilo yang berjalan ke arahnya dengan kedua tangan menenteng makanan.
"Gue tungguin juga lo di kantin. Makan ayo," Tangan Ceilo bergerak dengan cepat menyimpan makanan yang ternyata itu adalah risol, nasi goreng dan sebotol Teh Pucuk.
"Lagi males ke kantin aja." Menuruti perintah Ceilo tangannya bergerak membuka botol minuman dan langsung menegaknya.
"Enak gak?" Ceilo bertanya ketika Nadiva mulai menyuapkan sesendok nasi goreng.
"Enak." Angguknya.
"Cobain itu risolnya."
"Iya, nanti." Ceilo diam dan hanya memperhatikan Nadiva makan.
"Gue terharu, kok lo jadi baik gini sih? Gue kan jadi pengen manfaatin. "
Ceilo melotot dengan mata sipitnya, "Dih, enak aja, itu lo ngutang ke gue. Sebelum gue, lo duluan yang bakalan gue manfaatin."
Nadiva berdecih "Itungan banget sih, lo, berapa sini gue ganti." Nadiva kini mulai mencomot risol dan mengangguk-angguk ketika merasa makanannya memang enak.
"Lo bayarnya temenin gue pergi dong."
Dari awal harusnya Nadiva curiga, tidak seperti biasanya cowok ini baik. Nah kan, ada maunya juga.
"Lo ngomong kek gitu berasa banget gue lagi diajakin sama sugar daddy." Ucap Nadiva yang langsung mendapatkan toyoran dari Ceilo.
Setelahnya tatapan mata cowok itu memindai tubuhnya hingga ke ujung, tangan kanannya mengusap dagu dengan alis tertekuk.
“Bentar, gue coba liat kira-kira lo punya daya nilai jual apa.” Raut mukanya terlihat serius dan berakhir menggeleng, “Tubuh lo terlalu kayak
triplek, gak sesuai tipe sugar daddy.”
Wajah Ceilo bergerak ke sisi tubuhnya ketika sebuah buku paket melayang padanya. Bukannya menyesal dirinya malah terbahak melihat Nadiva yang manyun.
"Kemana?" tanya cewek yang sudah mengubah rautnya menjadi biasa saja.
"Nyari kado buat Mamih gue, cewek biasanya suka apaan, ya, Nad?"
Karena sedari tadi melihat Nadiva yang lahap memakan risol, Ceilo ikutan
memakannya dan ternyata rasanya memang enak.
"Saham." Jawab Nadiva dengan risol memenuhi mulutnya.
"Itu mah elo!"
"Ya gue mana tau."
"Dahlah, pulang sekolah langsung cus." Ceilo meluruskan kakinya ke atas meja.
"Gue belum bilang setuju."
"Lo jangan kek cewek deh, Nad, nunggu dipaksa dulu." Ujar Ceilo dengan wajah jengkel.
Ucapan dari Ceilo membuatnya langsung terbatuk, "Gue emang cewek, Malih! Yang patut di pertanyakan tuh ya elu!"
Masih dengan kegiatan memakan risolnya tangan Ceilo dengan cepat membawa lagi jajajanan yang tadi berada dihadapan Nadiva ke hadapannya. "Lah emang gue kenapa?"
"Lo cowok tapi temennya cewek doang. Apalagi kalo bukan b."
"B APA MAKSUD LO?"
"Ya..." Nadiva mengedarkan pandangannya dan tersenyum tertahan karena merasa telah berhasil mengerjai temannya, "pokoknya itu deh. Lo gak kayak gitu kan? Duh, gue merinding beneran ini." Nadiva pura-pura bergidik.
Tak lama, Nadiva mengaduh kesakitan karena keningnya terkena sentilan dari Ceilo. "Udah gak beres otak lo. Gue normal senormalnormalnya, cuman lagi khilaf aja temenan sama lo."
Nadiva mendecih tidak ingin membalas perkataan Ceilo lagi, dirinya kembali fokus ke makanannya.
"Pokoknya lo harus mau!" Keukeuh Ceilo.
"Bisa aja sih, tapi kalo nanti tiba-tiba gue laper disana gimana?" Nadiva mengerucutkan bibirnya mulai menggoda Ceilo.
Ceilo berdecak, "Iya nanti gue kasih nasi kotak."
"Tapi kan setelah makan butuh minum."
"CK. You lupa bonyok I punya pabrik galon? I kasih segalon ntar. Gue kaya kalo lo lupa."
Nadiva terkekeh, "Si paling kaya."
"si paling, si paling, daripada elu sick feeling."
"Ya udah deh karena lo hari ini baik jadi gue mau."
Di puji seperti itu membuat Ceilo berlagak pura-pura salting dan tersenyum hingga matanya benar-benar sipit. Tubuhnya ia gerakan kesana kemari.
"Nad?"
"Apa?"
"Panggil gue daddy dong."
Ditatapnya sinis Ceilo "Najis."
KAMU SEDANG MEMBACA
Klausa Asmara [END]
Teen FictionNoah Alby hanya perlu tutup mulut untuk hal yang tidak seharusnya Nadiva Adisty-pacarnya, tahu. Sebuah pengkhiatan yang sudah ia lakukan sejak awal hubungannya yaitu mencintai perempuan lain. Kacaunya, Noah mencintai keduanya, tetapi tidak bisa mele...
![Klausa Asmara [END]](https://img.wattpad.com/cover/313478341-64-k179227.jpg)