Ya annyeong!🧜
~~~
"Yumira!"
Yumi mengehentikan langkahnya ketika suara panggilan itu terdengar nyaring dan kesal. Ia menoleh, menatap ibunya yang menghampiri.
"Kenapa baru pulang?"
"Habis main." Yumi menjawab seadanya.
"Main sama siapa sampai malam gini? Kamu di bayar sama om-om, iya?!"
Seruan Zeny membuat Yumi terdiam, hatinya berdenyut nyeri. Tidak menyangka sang ibu akan mengucapkan kata-kata menyakitkan di luar perkiraannya.
"Kael ajak kamu pulang, kenapa kamu pulang sama orang lain?!" Zeny berseru. Lebih tepatnya membentak.
"Dia ngasih tau Momy?"
"Momy tau sendiri."
Yumi mengangguk-anggukkan kepala singkat. "Udah kan? Yumi cape, mau tidur," ucapnya, melangkah pergi menuju kamar.
"Didikam siapa begitu Yumira?! Momy nggak pernah ajarin kamu buat seenaknya sama orangtua!" sentak Zeny.
Yumi membalikkan tubuhnya, ia menatap ibunya dengan senyum miris. "Iya benar, Momy enggak pernah ajarin aku. Dari dulu aku belajar sendiri. Momy enggak pernah sedikitpun buat ada."
"Selama ini Momy ngasih kamu fasilitas lengkap! Itu enggak cukup buat kamu? Momy kerja cuman buat kamu Yumira!"
"Momy pikir uang itu bisa kasih rasanya di sayang? Enggak Mom. Yumi butuh kehadiran Momy, tapi Momy enggak pernah ada."
Perdebatan itu berhenti dengan Yumi yang berlari menuju kamar. Ia tak ingin melanjutkan yang berakhir membuat ia sakit lagi.
Kenapa bahagia miliknya hanya sebentar? Tadi baru saja ia merasakan seperti apa berada di tengah-tengah keluarga bersama Napi. Sekarang sudah hilang lagi.
Yumi meringkuk di bawa kasur, kedua kaki di tekuk, wajah tangisnya bersembunyi di lutut.
"Maaf ... Maaf ... Yumi enggak bermaksud buat marah sama Momy ..." Suaranya melirih, isak tangisnya terdengar pedih.
Suara ketukan pintu membuat perempuan itu terdiam, menoleh sebentar menunggu siapa yang mengetuk. Tetapi tak ada sahutan lagi.
Lantas Yumi memilih berdiri, sebelum membuka pintu ia mengusap pipinya supaya tidak terlihat seperti habis menangis.
"Yumi ...,"
Baru sedikit membuka pintu, Yumi bergerak untuk menutupnya kembali. Tetapi orang di luar sana memasukkan satu tangannya membuat perempuan cantik itu tak lanjut menutup pintu.
"Kamu pergi. Aku enggak suka liat kamu," cetus Yumi to the points pada ucapannya.
Kael menghiraukan hal itu. Ia memilih bertanya hal lain. "Momy tadi marah sama kamu? Maaf, harusnya saya sedikit berbohong."
"Bukan urusan kamu, pergi!" usir Yumi terang-terangan.
"Kamu akan menjadi bagian dari hidup saya, tentu itu menjadi urusan saya juga."
"Terserah. Sekarang kamu pergi!"
"Saya bawa ini. Kamu makan ya?" Kael menyodorkan martabak keju manis dan juga jus mangga dalam bentuk wadah. Kael mengamati, ia tahu jika Yumi menyukai dua menu itu.
Dalam hati, Yumi menginginkan itu. Tetapi hatinya malu untuk mengambil. "Aku enggak suka!" Tetapi tangannya malah merebut kantong plastik itu kasar.
"Makasih." Nadanya ketus.
Kael terkekeh geli. Mengetahui trik yang bisa di gunakan untuk membujuk Yumi nantinya.
"Saya boleh pegang tangan kamu?" Izin Kael.
"Buat apa?"
Kael tersenyum, membawa telapak tangan kecil Yumi dalam genggamannya. Lalu ia bawa menuju bibir untuk di kecup. Cukup lama, membuat Yumi mematung di tempat.
"Saya pulang. Good night my future wife."
•>•<•>•<•
-
-
-
-
-Ketukan pada tangga mengalihkan atensi kedua orang yang tengah menunggu di meja makan. Dua orang itu adalah Kael dan Zeny. Mereka menunggu Yumi untuk sarapan bersama.
Kael tersenyum ketika netranya beradu pandang dengan Yumi, ia menepuk kursi sebelahnya mempersilahkan. Tetapi Yumi malah abai, dan duduk di samping ibunya.
"Kamu berangkat sama Kael ya." Zeny membuka topik pembicaraan. Moodnya sedari tadi sudah tidak bagus, di tambah mendengar ibunya berbicara seperti itu membuat ia kehilangan selera untuk sarapan.
"Aku di jemput," balasan Yumi membuat Zeny menoleh-mengerutkan kening bingung.
"Siapa?" tanya Zeny penuh kecurigaan.
"Ada, temenku."
"Perempuan atau laki-laki?"
Yumi tak menjawab, ia membungkus dua roti berisi selai cokelat yang di masukkan ke dalam tupperware. Mendengar suara klakson motor menyala, ia bergegas dengan semangat.
"Yumi berangkat."
"Berhenti disitu Yumira!" titah Zeny tegas. Wanita itu menghampiri sang anak.
"Kamu berangkat sama Kael," titah Zeny mutlak.
"Enggak, temenku udah di luar." Mungkin saking malasnya menghadapi sang ibu, Yumi sampai melakukan perlawanan. Rasa rindu pada ibunya berkurang setelah lama di abaikan.
"Kamu nggak denger apa kata Momy, Yumira?!"
Kael langsung menghampiri dengan gesit di saat tangan Zeny akan menyentuh pipi putrinya. Kael berdiri di depan Yumi untuk melindunginya.
Bukan untuk mencari perhatian, ia hanya ingin melindungi sesuatu yang sudah di tentukan menjadi miliknya.
"Tante, enggak apa-apa, mungkin Yumi lebih ingin pergi dengan temannya. Itu bukan masalah besar." Kael menerangkan dengan pelan.
Zeny mengatur emosinya supaya mereda. Tatapannya kembali melembut, terarah pada Yumi.
"Yumi, maafin Mom-" Zeny mengentikan ucapannya ketika Yumi begitu saja melangkah pergi.
"Tante, saya permisi." Kael berpamitan. Ikut menyusul Yumi.
Di luar, Kael menatap intens interaksi dua orang remaja itu. Perasaannya yant mulai tumbuh untuk Yumi kini menjadi rasa kesal karena Yumi lebih memilih asik bersama orang lain.
"Yumira, ayo berangkat-"
"Lah, ngapain lo di sini?" Napi menyela, kerutan di dahinya menandakan bahwa ia bingung.
"Dia siapa?" Napi bertanya kepada Yumi, tatapannya benar-benar ingin tahu.
"Bukan siapa-siapa. Ayo berangkat, udah siang." Kali ini dengan sukarela Yumi menaiki motor besar Napi. Memeluknya tanpa perlu di suruh.
Kael tersenyum miris, menunduk sedih menatap kedua kakinya yang terasa lemas. Hatinya terasa sesak melihat interaksi itu, ia kembali menghadapkan wajahnya ke depan. Setelah menghela nafas, Kael memilih masuk ke dalam mobil untuk pergi ke sekolah.
•-•
Jangan lupa untuk menekan bintang.
Terimakasih 🖤🙏

KAMU SEDANG MEMBACA
NARAPIDANA ✓
Teen Fiction{SELAMAT MEMBACA} ___ Julukan Napi sangat cocok untuk laki-laki berpakaian urakan itu. Selain sering tawuran, mabuk-mabukan, balapan liar, Napi juga seringkali keluar masuk penjara. Napi juga seringkali bergonta-ganti pasangan, hanya untuk main-mai...