Annyeong!🧜
Selamat membaca, semoga suka sama chapter kali ini:)🙏
Jangan lupa tekan bintangnya 😉
=====
||||
|||
||
|Napi bersiul menggoda pada segerombolan siswi yang berlalu-lalang. Siswi mana yang tidak tersenyum malu jika di goda Napi dengan segala tingkahnya.
“Inget cewek lu tuh. Jangan godain cewek terus,” ujar Budi–menggelengkan kepala heran.
Napi membalas, “lah, itu mah calon bini gue.”
Jawaban Napi sudah pasti mendapat seruan. Selain hanya bermimpi, mereka juga mengejek Napi yang tak bisa menggapai cintanya.
“Gue terawang, kisah lo bakal sad ending.” Marsel berujar. Penuh dengan ekspresi percaya diri.
“Perasaan lo bukan mbah dukun deh.” Napi menatap sinis–pada Marsel yang kini cekikikan.
Chiko menepuk bahu Napi pelan. Ia berujar, “mencintai terlalu dalam itu cara menyakiti diri sendiri di akhir.”
Johan, Riyan, Dion dan Bagas bertepuk tangan. Takjub dengan sebuah kalimat yang di lontarkan 'Es batu' itu. Chiko itu irit bicara, bilangnya kalau ia banyak bicara, takutnya menyakiti orang lain.
Karena, menjaga ucapan supaya tak menyakiti orang lain itu sangat sulit.
“Dengerin noh, karma is real!” Bagas menyeru heboh, menepuk-nepuk pundak Napi.
“Baik pak, baik.” Napi menunduk, seperti penuh hormat–nyatanya hanya gerakan mengejek saja.
“Mira, kiw! Mau kemana neng?” Marsel berdiri, siap menghadang siswi untuk ia jahili.
“Ke teko aladin!” balas Mira sewot. Siswi yang termasuk dalam jajaran malas menghadapi kelompok laki-laki itu berdecak.
“Minggir lo! Halangin jalan aja,” sewot Mira makin menjadi-jadi. Ia paling malas jika harus di hadapkan dengan sekolompok geng biang onar di depannya ini.
Marsel mencolek dagu Mira–mengedipkan satu matanya genit. “Galak amat neng–awh ..., awsh anj*ng! Sakit bego!”
Marsel meringis ngilu, jari-jarinya seperti akan di patahkan. Menatap jengkel perempuan di depannya–yang baru kali ini dirinya mendapat penolakan sekaligus kekerasan dari perempuan.
“Lo yang anj*ng! Berani-beraninya pegang gue!” bentak Mira. Menatap tajam–tanpa rasa takut dengan siapa berhadapan. Prinsipnya begitu ia junjung tinggi.
“Minggir!” Mira mendorong tubuh besar Marsel, hingga laki-laki itu meringis kembali.
“Cewek galak!” seru Marsel penuh emosi. Melayangkan tinjuan jarak jauh.
Teman-temannya tertawa. Napi dan Johan yang paling keras. Mereka amat senang dengan drama yang di tonton.
“Sumpah, gue ngakak parah anjir!” Johan terpingkal-pingkal, hingga merosot ke lantai.
“Tu cewek keren banget, bisa ngelawan modelan setan kaya dia.” Telunjuk Dion mengarah pada Marsel. Terhibur akan pertunjukan yang telah usai di tonton.
“Gue bukan setan ya bangke! Diem lo pada semua, jahat bener ngetawain gue.” Wajah Marsel nelangsa.
Keramaian mereka menjadi sorotan siswa-siswi lain. Mereka terus memperhatikan kehebohan Napi dan teman-teman yang tengah di penuhi tawa–sudah biasa. Hal itu sering kali menjadi objek tontonan siswa-siswa.
Kali ini Napi yang berdiri, siap menghadang siswi lain untuk di goda.
Ketika mulutnya baru terbuka, netranya menatap Yumi yang tengah menatapnya dari gedung bahasa. Napi urung, ia menyengir ke arah Yumi yang jaraknya amat jauh.“MAAF SAYANG, ENGGAK JADI!” serunya pada Yumi–Padahal Yumi sendiri tidak mempermasalahkan itu, ia memperhatikan hanya terhibur saja dengan tingkah laku segerombolan laki-laki anak IPS itu.
Johan mencibir, “sayang, sayang mata lo peang!”
“Gak iri, gak iri. Cintanya beda agama sih,” ledek Dion.
Chiko terkekeh, ikut terhibur. Laki-laki yang lebih sering diam itu menatap ke arah gedung bahasa. Netranya bertubrukan dengan manik cokelat milik Kenzi. Hanya sebentar, karena setelah itu Chiko membuang muka lagi.
~~~
“Yumira, tunggu.” Kael menghentikan langkah Yumi, tas ranselnya di benarkan pada pundak sebelah kanan.
“Orangtua saya suruh kita pergi buat pilih dekorasi pernikahan nanti.”
Terkejut? Tentu, bahkan Yumi tak mengiyakan ucapan ibunya waktu itu. Ia membantah keras. Hari ini kalimat Kael benar-benar mengejutkannya–sekaligus membuat jengkel.
“Maksud kamu?” Yumi menatap tajam. “Aku enggak terima perjodohan ini.” Manik mata perempuan itu menajam.
“Tapi kamu enggak bisa menolak. Ini udah sepakat.” Kael berujar.
“Siapa yang sepakat? Itu urusan Momy ku, aku enggak ikut campur.” Memang salah Jika Yumi berkata seakan Zeny tak memiliki urusan dengannya. Ia hanya lelah dengan segala skenario yang tak pernah membahagiakan hidupnya.
“Perjanjian itu tertulis, kamu menikah dengan saya.”
“Berapa hutang Momy ku?” tanya Yumi, wajahnya datar dengan suara dingin yang menguar.
Yumi akan sedikit bersyukur jika Zeny menjodohkannya karena kebaikan. Tetapi nyatanya hal itu tak sesuai ucapan yang telah Zeny lontarkan waktu itu. Zeny menjodohkannya karena sebuah hutang ketika dulu kehabisan uang–milik Jafalino yang ia bawa kabur.
“Kalau saya sebutkan, apa kamu bisa membayarnya?”
Yumi kelu, sebelum pertanyaan Kael terlontar pun ia sudah tahu bahwa tak akan bisa membayar nominal yang ibunya pinjam dari keluarga William.
Yumi mendongak ketika sebelumnya menunduk, ia memberikan balasan, “aku akan usaha.”
“Usaha tanpa ada hasilnya itu sia-sia kan? Saya tidak yakin usaha kamu berhasil membayar hutang yang telah ibu kamu pinjam,” ucapan Kael begitu tajam. Relung hati Yumi terasa nyeri karenanya.
Yumi menunduk–menyembunyikan matanya yang di selimuti kubangan air mata.
Kael mengangkat wajah Yumi menggunakan ibu jarinya. Ada perasaan sesak ketika melihat air mata itu yang sebentar lagi jatuh–karenanya.
“Maaf, ucapan saya menyakiti kamu ya?” Ah, harusnya Kael tak perlu bertanya. Jawaban dari ucapannya sudah pasti iya.
“Yumira ... Saya tidak perduli dengan itu. Saya hanya ingin kamu bersama saya.”
-
-
-
-
-
-Waah, aku baper sama mereka berdua 😾😭
Napi or Kael ya kira-kira? ...🤫
Terimakasih yang sudah vote dengan sukarela. Sayang, sayang, sayang, saaayaangg kaliaannn❤️

KAMU SEDANG MEMBACA
NARAPIDANA ✓
Fiksi Remaja{SELAMAT MEMBACA} ___ Julukan Napi sangat cocok untuk laki-laki berpakaian urakan itu. Selain sering tawuran, mabuk-mabukan, balapan liar, Napi juga seringkali keluar masuk penjara. Napi juga seringkali bergonta-ganti pasangan, hanya untuk main-mai...