Sekar sama sekali tak punya clue kalau ternyata Haidan akan membawanya ke sini; tempat makan angkringan di Buah Batu. Tempat yang menyimpan banyak cerita bagi Sekar di masa lalu.
"Jangan turun dulu," cegah Haidan ketika melihat Sekar nyaris melepas seatbelt. "Gue punya banyak hal yang mau diomongin sama lo, Sekar." Untuk jeda yang cukup panjang, Haidan tak mendapatkan jawaban, penasaran, ia pun menoleh. Wajah kusut masai Sekar, khas bangun tidur, adalah pemandangan pertama yang merangsek ke matanya. Samar-samar senyum Haidan tersungging, tetapi tak cukup jelas untuk dapat Sekar lihat.
Tangan Sekar melepas tali pengaman tersebut, tak mengindahkan ucapan Haidan. "Ngomong nanti, sekarang obatin dulu luka lo." Pintu mobil hampir saja Sekar terik seandainya suara berat Haidan tak menginterupsi.
"Stay still," kata Haidan. "Sebentar aja, Sekar." Ia layangkan tatap memohon.
Sekar bergeming, membalas pinta Haidan dengan tatapan datar, diam-diam tangannya melepas pegangan pintu. Beberapa detik mengunci sorot sendu di mata Haidan, niatan Sekar pun padam. Perempuan itu menghela napas panjang, lantas mencari-cari kembali posisi duduk yang nyaman. Di sisi lain, Haidan mengangguk singkat, senang atas sikap kooperatif Sekar. Sebelum memulai pembicaraan, Haidan sempatkan mengusap sudut bibir yang sobek dan mengeluarkan darah. Ia berdecak kesal lantaran rongga mulutnya seperti habis mencicip remahan besi berkarat.
"Lo gak asing sama angkringan ini, 'kan?" Haidan menatap ke depan.
"Ya."
"Dulu gue sering nongkrong di sana." Haidan menunjuk satu bangunan di sisi angkringan tersebut; sebuah tempat rental game. "Dan dulu gue sering lihat lo." Lelaki itu menahan kepala untuk tak menoleh kendati dari ekor mata dapat melihat Sekar kini menghunuskan tatapan penuh tanda tanya. Sebentar, Haidan sedang mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan segalanya. Semua, yang dipendam beberapa tahun terakhir.
"Dulu?" Suara Sekar terdengar sangsi.
Haidan mengangguk, masih belum mau mengadu pandang dengan Sekar. "Dulu, pas kita masih SMA. Gue anak Merah Putih, sementara lo anak Pelita Raya, 'kan?" Akhirnya Haidan menoleh ke samping kiri di mana wajah cantik Sekar yang kentara kebingungan berada. "Lo sering ke sini sejak kelas sebelas. Empat kali seminggu, dan selalu datang sendirian. Iya, 'kan?"
Mulut Sekar terbuka, tetapi bukan karena mau melepas kata, melainkan terlalu terkejut mendapati kebenaran tersebut. Berarti dia dan Haidan sudah bertemu semenjak jauh-jauh hari?
"Sekar, awalnya gue enggak berniat cerita tentang ini, tapi kayaknya gue harus. Mengingat situasi di antara kita udah berantakan banget, gue jadi gak punya pilihan selain membeberkan semuanya demi kebaikan kita berdua." Haidan pamer senyum getir sebelum menyugar poni yang mana sia-sia karena helaian hitam itu kembali jatuh menutupi keningnya. Pemuda itu tersenyum sepersekian detik, lalu mengalihkan pandang ke depan. Di bawah dominasi sunyi, suara rendah yang menyirat rasa lelah pun lolos dari bibir Haidan, "Tempo hari lo mengakui perasaan, malam ini tolong kasih gue kesempatan untuk mengatakan apa yang gue rasa. Sebelumnya thanks banget untuk kejujuran lo, gue sangat menghargainya. Pasti gak mudah buat lo, dan sejujurnya ini gak mudah juga buat gue. Gue tau lo juga menyadari kita ini lagi napak di posisi yang sulit."
"To the point, Haidan."
Haidan terdiam sesaat. "I have loved you at my seventeen, Sekar." Sengaja ia bentangkan senyap setelah pengakuan tersebut, memberikan Sekar waktu untuk mencerna perkataannya. Melihat kernyitan timbul cukup dalam di dahi Sekar, indikasi bahwa perempuan itu sedang berpikir keras, Haidan pun melanjutkan, "Jauh-jauh hari sebelum kita saling kenal, gue udah tau eksistensi lo. Dulu, gue manggil lo si geulis, perempuan cantik yang sering makan di angkringan ini. Walau selalu datang dengan ekspresi jutek yang Sekar banget, ekspresi dingin yang bertahan bahkan sampai sekarang, lo tetep bersinar. Lo enggak senyum, bukan berarti enggak baik. Kebaikan lo gak mewujud dalam sikap, tapi kucing-kucing di depan rental PS itu bisa jadi saksi betapa baik seorang Sekar Arundaya. Kucing-kucing itu gak bakal tau rasanya makanan khusus kucing kalau tangan lo gak pernah mengulurkannya. Makasih, ya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[✓] Love Me Only
Romantik"Rasa cinta gue, kepercayaan dan harapan gue, semuanya udah hancur di tangan lo. Gue rasa gue enggak akan bisa memulai kisah baru dengan orang lain. Sekar, gue mau sama lo aja. Gapapa bikin sakit juga. I'll let it hurt, until it can't hurt me anymor...
![[✓] Love Me Only](https://img.wattpad.com/cover/332765764-64-k965021.jpg)