1. Envy

5.7K 516 37
                                        

Jangan jadi siders.

***

Sudah sejak jauh-jauh hari Sekar menyadari bahwa semesta berlaku pilih kasih. Kosakata bahagia seperti lenyap dari kamus hidupnya. Setiap pagi ia membuka mata hanya untuk menyambut luka; bertemu dengan mereka yang tidak menginginkannya.

Segala rasa sakit ini dimulai tujuh tahun lalu ketika orang tuanya tiba-tiba memutuskan mengakhiri rumah tangga. Sekar kelas tiga SMA waktu itu, sudah cukup dewasa untuk diberitahu alasan perceraian mereka; perselingkuhan. Sekar kira kebersamaan Ayah dan Bunda akan berlangsung selamanya, tetapi Bunda mendua, membuat Ayah murka, dan Sekar sungguh benci pada fakta bahwa wanita yang melahirkannya adalah seseorang yang tidak setia. Maka tanpa ragu Sekar ikut dengan Ayah, dan dari sinilah awal mula penderitaannya.

"Baru pulang kamu?"

Tanya yang lepas dalam nada dingin tersebut menyambut kepulangan Sekar di jam sembilan malam ini. Sekar memang kerap menghabiskan waktu di luar hingga larut malam lantaran suasana di rumah terlampau menyesakkan. Baginya, rumah ini bukanlah rumah, melainkan sekadar bangunan untuk tempat memejam. Tempat istirahat sejenak sebelum di pagi buta pergi ke kantor dan bergelut dengan rutinitas membosankan. Hidup perempuan itu memang setidak seru demikian. Sekar sendiri sampai heran, apa alasan ia bertahan menjalani kehidupan yang begitu menyedihkan?

Sekar menahan langkah, melirik datar pada wanita dewasa yang duduk nyaman di sofa dengan fokus terarah pada layar kaca. "Tumben nanya?" Sebab biasanya tak ada yang peduli bahkan walau Sekar tidak menginjakkan kaki di rumah ini sepanjang hari. Eksistensi Sekar memang serupa hantu bagi penghuni rumah. Ada, tetapi tak kasat mata. Kecuali jika mereka butuh babu untuk disuruh-suruh, barulah bentukan perempuan itu jadi jelas sejelas-jelasnya. "Kenapa emang?"

Dia Renata, wanita yang lima tahun lalu resmi menjadi ibu sambung Sekar. Renata menoleh, seperti biasa, tatapannya tidak pernah bersahaja.
"Keluarga calon suami Wilo habis makan malam dan baru aja pulang. Kamu ke dapur, ya. Banyak piring kotor soalnya. Ngerti kan harus apa?"

"Harus aku banting piringnya?"

"Kamu sini saya banting."

Sekar melengos sebentar hanya untuk melepas gumaman, "Kayak kuat aja."

"Buruan cuci piring sana!"

Begitulah Sekar diperlakukan oleh wanita jelmaan Mak Lampir ini. Dia dianggap selayaknya pembantu. Sejak awal, Renata memang terang-terangan unjuk kesombongan. Tidak repot-repot berusaha bersikap baik kepada Sekar. Renata tahu bahwa ayah Sekar cinta setengah mati padanya. Lalu, cinta membutakan nurani Ayah. Tak lama setelah menikahi Renata, lelaki itu berubah. Tidak ada lagi Johan yang penyayang. Johan yang pengertian telah hilang. Johan menjadi kejam, tidak ragu melempari Sekar makian. Namun, kendati punggung cinta pertamanya tak lagi bisa Sekar pakai untuk berlindung, Sekar tak sekalipun kepikiran melarikan diri. Bukannya dia menikmati peran sebagai anak tiri tersakiti, tetapi ada harta warisan yang dinanti. Sekar baru akan pergi semisal Johan mati, biar kekayaan lelaki itu tak jatuh ke tangan saudara dan ibu tiri.

"Aku capek, Ma." Sekar bukan tipe anak tiri yang akan iya-iya saja kala ditindas. "Kenapa gak Wilona aja yang cuci? Kan piringnya bekas dia—" Sekar tak melanjutkan perkataan lantaran sebuah bantal keburu menghantam wajahnya. Sesaat, Sekar menatap ganjal kepala yang tergeletak di lantai, lantas membawa atensinya pada sang ibu. Mendapati Renata berekspresi tak terima, Sekar malah tertawa keras. Dipungutnya bantal tersebut dan tanpa ragu dilempar balik ke arah Renata.

[✓] Love Me OnlyCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang