10 | Tak Mau Ikut Campur

1.9K 168 13
                                        

Harun, Anita, dan Rere dipersilakan masuk ke rumah Keluarga Adinata. Dua orang satpam tampak berjaga di dalam rumah, memberikan intimidasi yang kuat terhadap Anita dan Harun. Mereka yang awalnya ingin meluapkan kekesalan atas keputusan yang terjadi semalam pada pertemuan antara Keluarga Hardiman, Keluarga Jatmiko, dan Keluarga Bareksa mulai berpikir dua kali setelah melihat kedua satpam yang berjaga tersebut.

Rere sendiri lebih memilih menatap ke arah seluruh rumah Keluarga Adinata seperti yang biasanya ia lakukan. Keinginannya untuk memiliki apa yang Ziva miliki di dalam Keluarga Adinata terasa semakin kuat. Ia benar-benar merasa kesal, karena dirinya kini tak bisa lagi mengungkapkan pada Ziva mengenai keinginannya tersebut. Pasalnya, Ziva kini telah memblokir nomornya sehingga tidak ada lagi komunikasi yang bisa terjadi.

Mila keluar dari dalam sambil membawa satu baki minuman dan juga cemilan. Ia menyajikannya ke atas meja ruang tamu agar Anita, Harun, dan Rere bisa segera menikmati apa yang ia sajikan. Faris saat itu terlihat lebih sibuk menatap i-Pad miliknya dan tampak memilih mengurus pekerjaan daripada mengajak Anita atau Harun berbasa-basi. Setelah Mila duduk di sampingnya, barulah Faris menyimpan i-Pad tersebut beserta kacamatanya. Faris tersenyum ke arah Mila selama beberapa saat, kemudian merangkulnya seperti biasa.

"Katakan, ada perlu apa kalian bertiga datang ke sini pada hari libur? Kalian seharusnya sudah tahu kalau pada hari libur aku sama sekali tidak suka diganggu oleh orang yang tidak benar-benar ada kepentingan. Hari libur seperti ini adalah saatnya aku menghabiskan waktu dengan Istriku, bukan dengan kalian," ujar Faris, sangat santai.

Mendengar hal itu, Anita dan Harun jelas langsung ingin meledakkan amarah mereka seperti yang sudah direncanakan. Namun karena ada dua orang satpam yang berjaga di dalam rumah dan terus saja menatap ke arah mereka, hal itu benar-benar urung dilakukan.

"Apakah Paman dan Bibi sama sekali tidak bersimpati terhadapku?" tanya Rere, sinis. "Aku sedang hamil, dan Vano serta Keluarga Bareksa kini menolak untuk bertanggung jawab atas bayi yang aku kandung!"

"Salah siapa?" tanya Faris, singkat dan cukup menohok.

Rere pun kembali terdiam, sementara Anita dan Harun kini menatap tajam ke arah Faris maupun Mila.

"Ayo jawab. Salah siapa sehingga Vano Bareksa mengurungkan niat untuk menikahi kamu dan mempertanggungjawabkan bayi yang sedang kamu kandung? Kamu yang menggoda dan mengajak Gani selingkuh, sehingga Gani akhirnya benar-benar mengkhianati Ziva serta memutuskannya. Kamu yang membuat keputusan untuk bertunangan dengan Gani. Kamu juga yang ingin menjebak Gani agar menjadi Ayah dari bayi yang kamu kandung. Jadi ... salah siapa?" tikam Faris, tidak segan-segan.

"Kak Faris ... kenapa Kakak justru malah ...."

"Dan haruskah aku juga membuat tuntutan seperti yang dilakukan oleh Keluarga Jatmiko terhadap Rere?" potong Faris dengan cepat, dirinya jelas merasa muak mendengar suara Anita.

"Membuat tuntutan? Kak Faris ingin membuat tuntutan apa kepada Rere? Apa kesalahan yang ...."

"Merebut kekasih Ziva, menginginkan semua yang Ziva miliki, iri hati pada Ziva, memfitnah Ziva di depan Gani agar Gani membencinya, menghasut, dan bahkan Rere juga mengancam akan membuat Ziva ikut merasakan penderitaan yang sedang dia rasakan saat ini!"

Faris melemparkan bukti-bukti pesan yang dikirimkan oleh Rere kepada Ziva. Semua bukti itu sudah dicetak dan kini tersebar di atas meja ruang tamu. Anita, Harun, maupun Rere sendiri tampak kaget karena Faris melakukan sesuatu yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

"Jadi bagaimana? Haruskah aku memanggil Polisi sekarang juga agar Rere bisa dijebloskan ke penjara?" tanya Faris, sekali lagi. "Lumayan loh, jika Rere menjalani hukuman atas pengancaman yang dia lakukan terhadap Ziva, kemungkinan dia akan dipenjara sekitar satu atau dua tahun. Belum lagi ditambah dengan semua sikap buruknya yang dia lakukan di belakang Ziva demi membuat nama baik Ziva tercemar. Aku rasa Gani juga tidak akan keberatan untuk menjadi saksi dalam penuntutan yang aku lakukan, terlebih karena Gani juga korban dari penipuan dan usaha penjebakan yang Rere lakukan."

Keadaan ruang tamu di rumah itu mendadak jadi sangat hening. Anita dan Harun sudah tidak tahu ingin mengatakan apa, setelah Faris mengeluarkan ancaman yang disertai dengan bukti memberatkan terhadap Rere. Rere sendiri berusaha menahan rasa geramnya terhadap anggota Keluarga Adinata. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat tanpa sepengetahuan siapa pun.

"Bagaimana? Sudah jelas?" Faris menyesap teh pada cangkir miliknya. "Kalau apa yang aku katakan barusan sudah jelas bagi kalian, maka silakan segera pulang. Ini hari liburku dan aku paling tidak suka kalau waktuku berduaan dengan Istri harus terganggu."

Anita, Harun, dan Rere pun segera bangkit dari sofa sambil menahan emosi. Kini mereka hendak berjalan ke arah pintu.

"Oh ya, Rere," panggil Faris, sebelum ketiga orang itu benar-benar keluar dari rumah tersebut.

Rere menoleh ke arah Faris dan menatapnya dengan sengit.

"Jangan coba-coba berusaha menggugurkan kandungan kamu, ya. Takutnya nanti Keluarga Bareksa ikut menuntut kamu dan hukuman penjara yang akan kamu terima akan menjadi lebih berat akibat kamu dengan sengaja melakukan aborsi. Semua hal yang salah itu ada hukumannya, jadi sebaiknya kamu mulai berhati-hati sekarang," saran Faris.

Rere pun merasa semakin marah dan memilih untuk segera angkat kaki dari rumah itu. Anita dan Harun menyusulnya dengan cepat, agar Rere tidak melakukan hal yang gila setelah mendengar nasehat dari Faris. Faris kini menatap ke arah Mila yang masih dirangkul olehnya sejak tadi. Kedua satpam yang tadi berjaga di dalam rumah kini telah kembali keluar setelah Keluarga Hardiman pergi.

"Mereka bahkan belum sempat meminum dan memakan apa yang aku sajikan, Yah. Ayah kok buru-buru sekali membuat mereka pulang, sih?" tanya Mila.

"Ayah kehabisan waktu gara-gara mereka. Tadinya Ayah mau menghabiskan waktu untuk membanding-bandingkan Ibu dengan bunga yang sedang mekar. Tapi gara-gara mereka datang, jadinya rencana Ayah pada hari libur ini berantakan. Jadi, ya biarkan saja kalau mereka memang bisa cepat pergi dari sini. Toh apa yang mereka bicarakan dengan kita sama sekali tidak ada urusannya dengan keluarga kita. Masalah yang mereka hadapi adalah masalah yang mereka buat sendiri. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kita. Malah, Putri kesayangan kita justru yang harus ikut menghadapi masalah karena kelakuan anak mereka," jawab Faris, sambil meraih salah satu toples berisi cemilan kesukaannya.

"Dan apakah menurut Ayah mereka akan berhenti datang ke sini untuk menuntut kita membantu Rere, jika seandainya Keluarga Jatmiko benar-benar akan melaporkan Rere ke Polisi?" Mila tampak khawatir.

Faris tersenyum santai.

"Ayah tetap tidak mau ikut campur dengan urusan mereka, Bu. Pekerjaan dan kesibukan Ayah banyak, jadi tidak ada kesempatan bagi Ayah untuk menghadapi drama keluarga mereka. Lagi pula, Ayah juga punya urusan sendiri, yaitu menjaga serta mencintai Ibu dan Ziva."

* * *

TELUH BAMBUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang