27 | Urusan Terakhir

1.9K 168 6
                                        

Ki Sahat membuka kedua matanya pelan-pelan. Kepalanya masih terasa pusing setelah tadi terkena serangan balik dari Ziva. Ia tidak pernah menduga kalau wanita itu bisa memberinya serangan balik yang begitu kuat, sehingga membuatnya melemah seperti saat ini. Ki Sahat menatap tepat ke arah Ziva dan Raja ketika pandangannya mulai tampak jelas. Jonathan dan satu anggota timnya sudah mengarahkan pistol mereka kepada Ki Sahat, agar laki-laki itu tidak berani macam-macam.

"Kurang ajar, kamu! Berani-beraninya kamu mengusik pekerjaanku!" umpat Ki Sahat.

"Mengusik?" sahut Ziva, dengan cepat. "Mungkin sekarang kamu ingin meralatnya menjadi ... 'menghancurkan pekerjaanmu'. Lihatlah, di sini sudah tidak ada apa-apa lagi yang bisa kamu harapkan. Semua kuntilanak peliharaan kamu sudah aku usir dan sarang yang kamu buat untuk kuntilanak-kuntilanak itu kini sudah aku hancurkan. Tempat yang biasa kamu gunakan untuk melakukan ritual pedukunan juga sudah hancur lebur. Kamu sudah tidak punya harapan apa-apa lagi sekarang."

Ucapan Ziva benar-benar membuat Ki Sahat semakin marah. Kedua tangannya mengepal, seakan hendak mengeluarkan sesuatu secara diam-diam untuk menyerang Ziva.

"Kamu pikir semuanya sudah berakhir, hah? Kamu pikir aku akan menyerah begitu saja setelah kamu menghancurkan semua yang aku jaga baik-baik selama ini? Kamu telah menghancurkan apa yang diwariskan oleh Nenek moyangku! Jadi kamu harus membayar semuanya!"

BYUUURRRR!!!

Ziva menyiram Ki Sahat dengan air dalam botol yang sejak tadi sudah ia siapkan. Ki Sahat mendadak tidak bisa merasakan aliran kekuatan ilmu hitamnya lagi setelah disiram oleh Ziva. Laki-laki itu mendadak meraba ke seluruh tubuhnya dan berharap akan bisa merasakan aliran ilmu hitam itu sekali lagi.

"Terlalu lama. Kamu terlalu banyak basa-basi," omel Ziva pada Ki Sahat, lalu kemudian langsung menatap ke arah Jonathan. "Silakan, Pak Jo. Orangnya mau diborgol, boleh. Mau langsung saja diseret juga boleh. Suka-suka hati Pak Jo saja."

Ziva pun segera berjalan menelusuri jalan setapak yang mengarah keluar hutan bersama Raja yang kini sudah tidak bisa menahan tawanya. Kelakuan Ziva kadang-kadang memang sulit sekali ditebak. Jika moodnya sedang bagus, maka dia akan bersikap serius sampai semua urusan selesai. Tapi jika moodnya sedang buruk, maka jangan harap akan terlihat sikap seriusnya yang biasa. Yang akan terlihat dari wanita itu ketika moodnya buruk adalah sikapnya yang 'masa bodoh' terhadap apa pun. Bahkan Jonathan pun kini hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat tingkah Ziva yang bisa berubah-ubah tanpa aba-aba.

"LEPASKAN!!! LEPASKAN AKU!!! AKU ADALAH DUKUN SAKTI DI WILAYAH INI!!! AKU TIDAK AKAN TERKALAHKAN OLEH ANAK INGUSAN MACAM PEREMPUAN ITU!!!" teriak Ki Sahat, sambil memberontak hebat ketika akan dibawa oleh Jonathan.

"Lapor sama Nenek moyangmu sana! Siapa tahu Nenek moyangmu bisa membantumu bebas dari penjara!" balas Ziva, tanpa menoleh sama sekali.

Tawa Raja semakin terdengar jelas saat mendengar balasan yang Ziva ucapkan.

"Punya Nenek moyang tukang pelihara kuntilanak kok bangga!" gerutu Ziva, pelan.

"Ya Allah, Ziv, kamu kesal karena disebut anak ingusan sama dukun itu?" tebak Raja.

Ziva memilih tidak menjawab dan justru segera melepas kamera kecil yang sejak tadi ia sematkan pada jaketnya.

"Aku lapar," ujar Ziva.

"Oh ... kamu badmood gara-gara lapar? Mau makan roti dulu? Aku masih ada nih roti yang semalam dibeli di Starbuks. Masih tersegel, kok," tawar Raja, sambil membuka ranselnya.

"Semalam kamu beli spicy tuna bread, 'kan? Kok bisa belum habis?" tanya Ziva, merasa heran.

"'Kan semalam aku beli tiga. Mana ukurannya besar-besar semua. Ya kali, aku bisa habisin semua itu satu kali makan," jawab Raja.

Ziva pun tersenyum, lalu menerima uluran spicy tuna bread dari tangan Raja. Mereka berdua akhirnya tiba di pinggir jalan dan bisa melihat keberadaan Dudi serta Erin yang terborgol di dalam mobil patroli. Dudi dan Erin tampak menatap ke arah Ziva dan Raja dengan sengit. Seakan akhir yang mereka hadapi saat ini adalah akibat dari kesalahan Ziva dan Raja.

"Mereka memang tidak akan pernah berubah, ya? Tetap saja begitu meski sudah diberitahu soal kenyataan mengenai Pak Tanjung, oleh Pak Jo," ujar Raja.

"Manusia kalau hatinya sudah tertutupi dengan kebencian, akan sulit untuk menerima kebenaran. Padahal mereka tahu tentang kebenaran itu, hanya saja mereka menampiknya dan menekankan di dalam pikiran mereka, bahwa menyingkirkan Pak Tanjung, Pak Reno, dan Pak Riko adalah tujuan yang mulia. Sebaiknya kita doakan saja agar hati mereka terketuk dan bisa menerima sebuah kebenaran. Saat ini kita bahkan belum tahu bagaimana reaksi kedua orangtua Pak Tanjung nantinya, kalau tahu bahwa Putra tertuanya hampir membunuh Putranya yang lain hanya karena tidak mau berbagi warisan," pikir Ziva.

"Semoga saja kedua orangtua Pak Tanjung bisa berlapang dada," sahut Raja. "Semoga mereka tidak perlu mengalami shock saat mendengar berita tentang Pak Dudi dan Bu Erin. Intinya ... aku enggak akan sanggup berada di posisi Pak Tanjung atau Bu Rianti, jika diharuskan untuk memberi penjelasan mengenai Pak Dudi yang mengirim teluh bambu kepada Pak Tanjung."

Ki Sahat juga sudah dibawa masuk ke mobil patroli lainnya yang masih kosong. Laki-laki itu masih saja memberontak dan berusaha melarikan diri. Namun usahanya tersebut jelas sia-sia, karena Jonathan tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.

"Jadi sekarang bagaimana? Apakah kalian akan ikut denganku ke kantor Polisi atau kalian akan kembali ke rumah saudara iparku?" tanya Jonathan.

"Kami berdua akan kembali ke rumah Pak Tanjung, Pak Jo. Pekerjaan kami sudah selesai, jadi kami harus mempersiapkan diri untuk pulang," jawab Ziva.

Raja meliriknya beberapa saat, namun memilih tidak mengatakan apa-apa.

"Baiklah kalau begitu. Aku akan ke kantor Polisi lebih dulu untuk mengurus mereka bertiga. Lalu setelah itu baru aku akan menyusul kalian ke rumah saudara iparku. Pakailah mobilku untuk kembali ke sana. Hati-hati di jalan," pesan Jonathan.

"Insya Allah kami akan berhati-hati di jalan, Pak Jo. Kami duluan," pamit Raja.

Raja dan Ziva pun segera menyeberangi jalan raya untuk masuk ke mobil milik Jonathan. Kamera yang sejak tadi ia pegang kini ia letakkan kembali ke dashboard, namun mengarah ke bagian dalam mobil.

"Memangnya kita akan langsung mempersiapkan diri untuk pulang ke Jakarta? Kenapa tadi kamu bilang begitu pada Pak Jo?" tanya Raja.

"Setelah selesai shalat dzuhur di rumah Pak Tanjung, aku akan meminta pulang duluan pada Tari. Ada urusan mendesak di rumah dan aku harus ikut campur," jawab Ziva.

"Kalau begitu aku juga akan meminta ikut pulang bersamamu. Aku enggak mau kamu pulang sendirian," tanggap Raja yang mulai mengemudikan mobil milik Jonathan.

* * *

TELUH BAMBUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang