15 | Mati Rasa

1.9K 175 29
                                        

Tanjung menerima minuman yang disodorkan kepadanya seraya tersenyum dan tidak mengatakan apa-apa. Tanjung dan Rianti kini teringat untuk melakukan hal-hal yang memancing, seperti yang disarankan oleh Hani dan Tari. Mereka berdua berpikir keras tentang hal-hal yang bisa memancing kekesalan seseorang, karena jelas waktu mereka tidak banyak. Tanjung meletakkan cangkir yang tadi ia terima ke atas meja, lalu menatap tepat ke arah Reno.

"Ren ... bagaimana pekerjaanmu akhir-akhir ini, Dek? Apakah sudah ada tanda-tanda bahwa kamu akan segera diangkat menjadi PNS di kantormu?" tanya Tanjung.

Reno pun menatap ke arah Tanjung dan berupaya tersenyum, meski sedang tak ingin tersenyum.

"Belum, Bang. Belum ada tanda-tanda sama sekali," jawab Reno, pelan.

"Kalau begitu berhenti saja, Dek. Minta pindah kerja dan pindahlah di kantor Abangmu," saran Rianti. "Kebetulan Bang Tanjung membutuhkan Sekretaris baru. Hani hanya Sekretaris sementara saat ini setelah kami memecat Rosi. Bang Tanjung akan sering bepergian keluar kota, jadi menurutku sebaiknya dia didampingi oleh Sekretaris pria, bukan wanita."

Reno dan Dira pun langsung saling menatap saat mendengar penawaran yang diajukan oleh Tanjung dan Rianti. Ziva--yang saat itu sedang mengintip dari arah dapur--bisa melihat dengan jelas perubahan-perubahan ekspresi yang terjadi pada orang-orang di ruang tengah rumah itu.

"Betul itu. Istriku jadi tidak perlu khawatir jika aku harus pergi keluar kota untuk menghadiri pertemuan kalau kamu yang mendampingi aku. Istrimu juga bisa menginap di sini bersama anak-anak kalian jika kita berdua harus pergi. Mereka akan aman jika berada di sisi Kakak iparmu. Kalau kamu setuju dengan tawaranku, segera hubungi aku agar aku bisa membantumu mengurus permohonan pindah kerja," ujar Tanjung.

"I--ini serius? Abang benar-benar menawari aku untuk menjadi Sekretaris Abang?" tanya Reno, yang masih tampak kaget.

"Iya, Dek. Mana mungkin Abang main-main? Kamu sudah lama sekali mengabdi di kantormu saat ini, tapi tampaknya akan sangat sulit bagimu untuk bisa diangkat menjadi PNS. Daripada kamu membuang waktumu sia-sia, maka sebaiknya kamu bekerja saja dengan Abang. Dampingi Abang, Dek. Kita sama-sama bekerja di luar, agar Istri-istri kita jauh lebih tenang saat di rumah," jawab Tanjung.

"Abangmu benar, Dek. Nanti Dek Dira dan anak-anak kalian bisa menginap di sini kalau kamu harus ikut dinas keluar kota. Aku juga terkadang butuh teman di rumah. Setelah anak-anakku berkuliah di kota lain, rumah ini cukup sepi karena aku selalu sendirian. Kamu juga jadi tidak perlu risau dengan keadaan dan kebutuhan Dek Dira selama kamu mendampingi Bang Tanjung bekerja. Keperluan serta keadaan Dek Dira dan anak-anak kalian akan menjadi tanggung jawabku," tambah Rianti, agar Reno dan Dira tidak merasa ragu.

Rania pun segera menepuk pundak Reno dengan tegas.

"Sudah Bang, jangan banyak pikir-pikir lagi. Tawaran Bang Tanjung jelas adalah tawaran yang bagus untuk Abang dan Kak Dira. Aku yakin, Kak Dira juga setuju dengan tawaran itu dan akan lebih tenang kalau Abang bekerja bersama Bang Tanjung daripada sama orang lain. Kak Dira dan Kak Rianti akan sama-sama tenang meskipun kalian harus keluar kota, karena tidak akan ada yang mengganggu kalian di luar sana," dukungnya.

"Benar itu, Bang Reno. Aku pun kalau ditawari demikian oleh Bang Tanjung jelas tidak akan menolak. Tawarannya bukan tawaran biasa. Tawarannya benar-benar bisa membuat keluarga jadi ikut tenang di mana pun kalian berada," tambah Riko.

Reno pun mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu kembali menatap ke arah Tanjung.

"Kalau memang begitu, aku akan terima tawaran Abang dan Kak Rianti. Aku akan menjadi Sekretaris Abang mulai sekarang," jawab Reno, setelah diyakinkan oleh Rania dan Riko.

"Alhamdulillah," sambut Rianti, Tanjung, Rania, dan juga Riko.

Erin dan Dudi pun tampak terlihat senang dengan terjalinnya kerja sama antara Tanjung dengan Reno. Semua orang pun mulai menikmati minuman yang tersaji di hadapan masing-masing.

PFFTTT!!!

Dudi dan Erin tampak menyemburkan kopi serta teh yang baru saja menyentuh lidah mereka. Hal itu tentunya membuat kaget semua orang yang ada di ruang tengah tersebut.

"Ada apa, Bang Dudi ... Kak Erin ...? Apakah ada yang salah?" tanya Rianti.

"Duh ... asisten rumah tanggamu sepertinya tidak becus bikin minuman, Dek. Pahit sekali kopi yang aku minum ini," jawab Dudi.

"Iya, teh yang aku minum juga sama. Pahit sekali," tambah Erin.

"Loh? Kok bisa? Kopi dan teh yang kami minum manis, kok. Enak sekali malah rasanya. Kenapa hanya kopi dan teh milik Kak Erin dan Bang Dudi saja yang terasa pahit?" tanya Riko, tampak merasa heran.

"Cobalah sendiri kalau tidak percaya, Dek. Cobalah," saran Dudi kepada Riko.

Riko pun segera mencicipi kopi milik Dudi dan memasang wajah heran saat menatap ke arah Kakak tertuanya tersebut.

"Bang ... lidahmu sariawan? Ini kopimu sama seperti kopiku. Manis ... enak rasanya," ujar Riko.

Reno pun segera ikut mencoba kopi tersebut setelah mengambil cangkir dari tangan Riko.

"Iya, Bang. Manis ini kopi. Sama juga dengan punyaku," tambah Reno.

Rania mengambil cangkir teh milik Erin dan mencicipinya. Dira juga ikut mencicipi teh itu seperti yang Rania lakukan.

"Manis, Kak Erin. Sama sekali tidak ada pahit-pahitnya," ujar Rania, lalu Dira pun memvalidasi hal tersebut.

"Kok bisa begitu? Apakah Kak Erin dan Bang Dudi sedang tidak sehat?" tanya Rianti, menunjukkan kekhawatiran.

"Kami sehat, kok. Justru kami datang ke sini karena ingin menjenguk Tanjung yang katanya sedang sakit. Kami baik-baik saja dan masih benar-benar bugar sampai saat ini," jawab Erin, yang terlihat mulai memucat.

"Tapi wajah Kak Erin dan Bang Dudi mengatakan sebaliknya. Kalian pucat sekali. Kalian mungkin sakit, tapi tidak sadar kalau sedang sakit," ujar Riko.

Dira pun mengeluarkan cermin kecil dari dalam tasnya, lalu memberikannya pada Erin. Erin menerima cermin itu dan melihat kalau wajahnya benar-benar pucat, seperti yang dikatakan oleh Riko.

"Kalian mau minum obat? Akan kuambilkan obatnya, kalau kalian mau," tawar Rianti.

"Ambilkan saja, Dek. Mungkin Bang Dudi dan Kak Erin memang butuh minum obat saat ini," ujar Tanjung.

"Jangan," cegah Erin dengan cepat. "Kami benar-benar sehat-sehat saja. Kami sama sekali enggak sakit."

"Iya, sebaiknya tidak usah ambilkan obat apa pun. Kami akan cicipi lagi kopi dan tehnya, mungkin tadi kami hanya belum benar-benar menikmati minumannya," tambah Dudi.

Dudi dan Erin pun segera meminum kembali kopi dan teh milik mereka meski sudah dicicipi oleh Riko, Reno, Rania, dan Dira. Meski terasa sangat pahit, kali ini mereka tetap memaksakan diri meminum sampai habis. Mereka tidak mau dituduh sakit, karena takut akan dituding sebagai pembawa penyakit jika Tanjung kembali sakit.

* * *

TELUH BAMBUTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang