"kenapa ka Daren ngomong kayak gitu, dia ibu kita kak" ucap arash
"Ibu kita ? Ibu yang mana yang kamu maksud, ibu yang tega meninggalkan anaknya saat anaknya masih membutuhkan kasih sayangnya" ucap Daren penuh emosi
"Kak...."
Belum sempat arash meneruskan ucapannya daren sudah memotongnya.
"Ah maybe, she leave me becouse of you, right?" Daren terus memojokkan arash
"Astagfirullah" ucap arash pelan
Ia benar-benar tidak habis pikir bagaimana bisa daren berpikir seperti itu.
"Arash enggak tahu apa yang terjadi dimasa lalu ibu, karena ibu menyimpannya semuanya dengan rapat, bahkan Arash baru tahu kalau abimana Al Fajri adalah ayah kandung Arash, tentu saja arash kecewa atas apa yang dilakukan ibu, tapi arash tidak akan membencinya seperti apa yang kakak lakukan sekarang, karena ibu yang sudah melahirkan Arash."
ucap arash pelan dan lembut."Kamu benar ... dia melahirkanmu, merawat kamu dan juga menyayangi kamu ....tapi dia ... dia meninggalkanku." ucap Daren pelan namun terdengar sangat dinggin.
Arash terdiam saat mendengar apa yang daren katakan, Arash berusaha untuk tenang dan menghela nafas sejenak berkata.
"Kak...arash mohon ... tolong dengerin arash sebentar, saat ini ibu..."
"Stop..." Daren kembali memotong ucapan arash.
Daren berjalan pelan menuju dimana arash berdiri dan berhenti tepat ketika ia telah berada didepan arash.
Daren menatap tajam ke arash seraya berkata dengan suara pelan nyaris tak terdengar tapi sangat dalam dan dinggin.
"I told you, i don't want hear anything about her, now better you go and get out from my house"
"Kak...."
"Don't call brother ... i am not your brother, i say get out from my house" ucap Daren memotong ucapan arash.
"Baiklah saya pergi, saya kemarin hanya untuk melaksanakan kewajiban saya sebagai seorang anak dan adik, saya tidak mau ... Kalau saja terjadi sesuatu yang tidak saya harapkan sama ibu, kakak akan menyesalkannya sama saya. Semua Keputusan ditangan kakak, pikirkan lagi dan jangan sampai kak daren menyesalinya. Assalamualaikum" ucap arash tenang
Setelah mengatakan apa yang ingin ia katakan, arash memilih pergi meninggalkan ayah dan kakaknya. Ia cukup kecewa dengan abimana yang hanya diam dan menjadi penonton.
"Ya Allah maafkan arash Bu, arash belum bisa membawa ka Daren" ucapnya pelan
"Tuan muda..."
Arash berhenti dan berbalik untuk melihat siapa yang memanggilnya. Ia melihat Martin berjalan cepat ke arahnya.
"Om manggil saya" Tanya Daren
"Iya ... tidak ada orang lain disini" ucap Martin sambil tersenyum kepada arash.
"Ada apa om" tanya arash kembali
"Tuan besar meminta untuk mengantarkanmu pulang, ini sudah sangat larut, kamu tidak akan menemukan kendaraan umum" jelasnya kepada arash.
"Tidak perlu om, aku tidak ingin merepotkan siapapun, terima kasih" tolak arash halus
"Tunggu lah disini aku akan mengambil mobil" ucap Martin mengabaikan ucapan arash
Martin segera berlalu pergi setelah meminta arash menunggunya.
"Kan gue nolak, kenapa dia nyuruh gue menunggu ? Ucap arash heran.
______________________________________

KAMU SEDANG MEMBACA
sandaran hati
Acakmenceritakan tentang kehidupan seorang remaja penuh suka, duka dan perjuangan, serta keadaan yang memaksanya untuk menjadi dewasa intinya baca aja deh, semoga kalian suka