Lentera terang yang menghiasi jalan setapak sebuah taman, benar-benar pemandangan yang memanjakan mata. Ketika orang-orang berkutat dengan alam mimpi, sosok cowok berambut pirang justru asik dengan dunianya. Walau yang ia lakukan hanyalah merakit sebuah robot raksasa untuk dijadikan hadiah besok.
"Tidur Alben. Besok kau ada kelas tambahan dan misi, bukan?" Seorang wanita paruh baya menghampiri sang anak yang tampaknya tidak terusik dengan kehadirannya. Jengah, wanita bernama Hesley itu menarik telinga putranya hingga mendapat tatapan protes dari sang empu.
"Ash! Sabar Bu, sebentar lagi."
Astaga, tabahkan hati Hesley. Baru kemarin Alben membeli boneka raksasa untuk adik sepupunya, Naori. Dan sekarang robot yang harganya bukan main mahal sudah tiba di mansion dua jam yang lalu. Robot yang diproduksi khusus untuk pesanan pribadi ini sudah tiga bulan lamanya ditunggu, tentu saja Alben sangat bersemangat.
"Kenapa kalian di luar? Masuk." Satu lagi sosok muncul dari belakang Hesley. Wanita itu sedang memperhatikan pekerjaan anaknya ketika Dexter tiba-tiba menyentuh pundaknya.
"Kalian masuk saja, aku menyusul," sahut Alben. Tatapan Dexter kemudian beralih pada benda yang masih diotak-atik si bungsu. Ia mengernyit heran saat melihat rupa mainan itu.
"Kenapa bentuknya seperti itu?"
"Apa maksudmu? Ini kelinci kesukaan Ney, ayah tidak tau?" Dexter menganga. Baru saja ia di skakmat, tetapi fakta bahwa bocah kesayangannya menyukai kelinci dengan mata yang belo justru lebih mengejutkan.
Jujur saja, Alben pernah menyetel kartun itu dulu, tetapi dengan sadisnya Dexter mencabut aliran listrik televisi hanya karena kesal dengan rupa si tokoh kartun.
"Hahahah, mungkin kau harus lebih banyak menghabiskan waktu dengan anak mungil itu." Hesley menarik lengan kekar sang suami dan meninggalkan Alben yang masih belum beranjak dari tempatnya sedikitpun. Hesley tertawa saat melihat wajah tak percaya seorang Dexternain yang kata orang-orang Penakluk dari Hinafuka. Yah, hanya karena Ney, gelar setiap anggota keluarga ini sepertinya sudah kadaluarsa.
(~ ̄³ ̄)~
"Jugijag gijuk gijag cut cuutt~"
"Jugijag gijuk gijag gijuk cut cuuttt~!"
Saat ini para wanita di kediaman Hinafuka tengah menyaksikan aksi bocah berbadan gempal dan seekor harimau putih yang tubuhnya bergoyang ke kanan dan ke kiri serempak. Tak lupa mulutnya monyong karena menyuarakan suara kereta api mainan dari dufan pribadi di lantai satu. Oh! Pantat bulatnya yang montok itu juga ikut bergoyang seperti seekor bebek.
Siapa yang bisa menahan tawanya?
Bahkan para pekerja yang biasanya tertekan, hari ini dengan susah payah menahan gelitikan gaib di perut mereka. Sudah lima belas menit adegan itu berlangsung, dan tak satupun orang di sana berniat menghentikannya.
Nia, Hesley, Mirwa, dan Yoslie sudah memegang ponsel mereka masing-masing untuk merekam kegiatan bocah itu.
"Neeeyy!!" Yang dipanggil berhenti, melihat ke arah abangnya yang baru datang dengan tatapan polos. Tetapi justru orang-orang dewasa di sana menatap sosok Alben dengan garang.
"Abang Al! Napa?" tanya si kecil. Alben mengeluarkan robot dari dalam kardus besar yang dibawanya. Dan saat mata Ney menangkap benda besi itu, seketika wajahnya sumringah.
"Aaaa bwaaa!" Ney dengan langkah yang ringan berlari untuk memeluk tokoh kartun kesukaannya. Namun, dengan kecepatan itu, si kecil sudah pasti menubruk robotnya dengan cukup keras.
Duakk!
Benar saja, robot yang badannya lebih besar dari tubuh Ney itu hampir terjatuh saat Ney menerjangnya. Jujur saja, Ney tidak berpikir bahwa benda itu adalah robot. Selama ini tak ada yang memberinya robot, melainkan boneka lembut dan empuk lah yang selalu diterimanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Deep Inside [Hinafuka Fam]
HumorGanas? Dingin? Sadis? Tak kenal ampun? Ya Hinafuka. Sebut saja keluarga ini Mafia, karena kekayaan mereka yang tak ternilai sudah cukup untuk membuktikan kekuasaan mereka. Wajah tanpa ekspresi dengan rupa yang harus diakui dunia, mereka bukanlah ora...
![Deep Inside [Hinafuka Fam]](https://img.wattpad.com/cover/336213223-64-k332514.jpg)