29th 'Main

2.3K 286 12
                                        

Sejak tragedi mengerikan itu, yang tersisa hanyalah trauma. Para pelaku sudah menghadap Tuhan setelah seminggu lamanya mereka tersiksa. Dan Alben juga masih dirawat, tetapi kondisinya membaik walau masih dalam keadaan kritis.

Kalau Ney, anak itu perlahan tidak menanyakan Alben lagi. Namun tak ayal, ia demam tinggi selama lima hari karena trauma dan enggan makan.

Hari ini, jadwalnya Ney bermain keluar karena beberapa hari belakangan anak itu kurang gerak. Bersama si harimau putih, Deyn dan Gior yang kedapatan jatah untuk menjaga si kecil. Sedangkan Nia menguntit mereka karena kebetulan ia tidak punya kerjaan mendesak. Kalau pekerjaan receh, ya banyak.

"Ih awac Hilu! Nanti ulalnya penyek.." Tangan kecil Ney memukul tubuh besar si harimau karena hewan bernama Hiru itu nyaris menduduki seekor ular kecil yang entah datang dari mana. Hey! Hiru itu cemburu karena si ular sudah menyita perhatian majikan mininya. Jadi Hiru pergi ke belakang Gior yang juga menatap penuh benci serta dengki ke ular liar itu.

Penuh kuman dan berbahaya. Kira-kira seperti itulah isi pikiran Deyn, Gior, Hiru, dan Nia yang sedang mengintip dengan kamera di tangannya.

"Ney, nanti ularnya patuk kamu, sakit loh.." Deyn berusaha membuat agar si mungil kesayangannya itu menjauhi ular putih yang sedang tersasar ini. Walau Deyn juga tidak terlalu panik karena beberapa bodyguard sudah mengintai pergerakan si ular, tentu dilengkapi dengan senjata jarak jauh yang kedap suara.

"Abang, ulalnya mau mam." Tatapan polos Ney yang menatap langsung ke arah Deyn dan Gior membuat kedua pria itu menghela nafas berat. Apa-apaan? Memangnya ular itu berbicara dengan Ney? Minta makan? Jangan harap!

Lagipula mereka tak habis pikir. Kenapa Ney tidak takut dengan ular padahal anak itu phobia ulat. Kan sama-sama hewan yang menggeliat?!

"Nggak! Ularnya sedang berpamitan denganmu, bukannya minta makan."

Tentu ucapan Gior adalah fitnah bagi si ular. Tetapi aura mengancam yang menguar di sana, membuat ular putih itu akhirnya memilih untuk pergi.

"Pssttt~"

Dan Ney hanya mampu menatap nanar kepergian teman barunya. Tidak tau saja si kecil bahwa semak belukar yang dituju si ular sudah berjaga beberapa penjagal yang siap mengeksekusinya.

"Sudahlah, jangan sedih. Ayo kita main bola." Deyn menggandeng tangan kecil Ney dan berlalu menuju lapangan bola yang dialasi rumput hijau asli.

Mereka akan bermain bola. Tapi bukan bola asli, melainkan bola karet bergambar kelinci bwabwa yang dibelikan Lakhsyam tempo lalu.

"Main!! Tendang bolaa!!"

Hahh.. akhirnya ular putih kecil itu hilang juga dari pikiran si bocah.

"Ney harus masukkan bolanya ke gawang yang di sana...." Deyn menjelaskan sembari menunjuk gawang di belakangnya. "...Terus kalau kamu menang, nanti abang belikan gunung coklat!" lanjut cowok itu.

"Abang, papi, sama Hiru akan satu tim, jadi kamu harus lewati kami." Gior juga menambahkan, kemudian tersenyum menahan tawa setelah wajah bulat di bawahnya jadi cemberut tiba-tiba.

Ney merasa ada yang tak beres, tapi gunung coklat yang dijanjikan Deyn terdengar menarik. Padahal sudah ratusan kali Deyn membohongi anak itu. Namun, Ney tetap percaya karena....

...Ney lupa kalau ia selalu ditipu.

"Okai! Ney tendang yaa.. abang cama papi hati-hati nanti cakit kena bolanya." Ney menendang bola itu dan berlari mengejarnya. Sedangkan Deyn dan Gior terpingkal karena mendengar seruan si kecil barusan.

Kalau Hiru ikut berlari, bukan mengejar bola tapi mengejar tuan kesayangannya.

Sementara itu di kejauhan, Nia terlihat asik merekam aksi cucu bungsunya sambil sesekali terkikik geli. Kenapa ia bersembunyi? Karena kalau Furaka tau Nia sedang menguntit dan bukannya mengerjakan beberapa hal kecil yang diperintahkan, bisa-bisa pria tua itu malah ikut membolos kerja. Bisa gawat sebab pekerjaan Furaka itu penting.

Deep Inside [Hinafuka Fam]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang