24th 'Cabul

2.7K 279 7
                                        

"kamu di rumah jangan nakal...."

Cupp

"...jangan cape...."

Cupp

"...Jangan kabur-kabur...."

Cupp

"...makan yang bener...."

Cupp

"...jang—"

"Kau pikir kami tidak bisa mengurus anak?" Ferbian menginterupsi adiknya. Pria itu jengah melihat Zam yang ingin pamit bekerja seharian saja harus memberi wejangan tanpa henti seperti itu. Yah, bukan yang pertama kali sih. Kalau Ney sudah bangun dan Zam baru hendak berangkat, maka beginilah rutinitasnya.

"Jangankan mengurus anak, kalian malah akan melecehkan putraku!" Zam menatap sengit Ferbian yang pagi-pagi sekali sudah ada di kamarnya. Mau apa lagi kalau bukan menculik si kecil? Bahkan pria itulah yang membangunkan Zam dan Ney dari mimpi indah mereka.

Tidak sengaja sih, awalnya Ferbian berniat menculik anak itu selagi masih tertidur. Namun, nyatanya insting seorang ayah tidak bisa dikelabui segampang itu.

"Tidak akan ku apa-apakan! Pergilah, sebelum sampah itu melarikan diri." Ferbian mengambil paksa tubuh Ney dan mendorong badan kekar adiknya. Tentu saja pria itu mendapat tatapan maut dan sumpah serapah dari Zam.

"Tenang saja, tidak ada seorang ayah yang tidak menyayangi putranya. Aku kan daddy-nya," tambah Ferbian.

Dari kejauhan ada sosok yang mendengar ucapan Ferbian, dan sosok itu tersenyum merekah.

"Kau sayang padaku juga dad?" –Sanma

"Ney mau coklat?"

#terabaikan

Ferbian baru akan masuk lift jika saja Nia tidak tiba-tiba datang dan mencegat jalan pria itu. Nia menatap sengit Ferbian yang sedang menggendong cucu manisnya.

"Moma!" seru si kecil gembira. Hey! Dia baru bangun dan langsung menemukan sosok daddy-nya. Belum lagi Zam bergegas mandi dan berpamitan padanya. Pagi Ney begitu rusuh seperti biasa.

"Dia belum mandi, dan biarkan dia sarapan di sini dulu!" ujar Nia tajam. Mendengar itu, Ferbian sedikit tak terima. Pasalnya, jarang-jarang dia mendapat libur seharian penuh dan hari ini, ia ingin menghabiskan seluruh waktunya bersama si kecil.

"Biar saja. Aku adalah seorang ayah yang ingin memandikan anaknya, apa tidak boleh?" sahut Ferbian, menatap balik sang ibu yang sedang memasang wajah galak itu.

"Tidak! Kalau kau seorang ayah, maka aku seorang nenek. Anakmu yang di sana juga belum mandi, mandikan dia saja!" Nia menunjuk Sanma yang sedang mengelus Hiru si harimau. Cowok itu memang mengekori daddy-nya ke sini setelah memergoki pria itu sudah masuk lift pagi-pagi sekali.

"Ma, kau neneknya dia juga 'kan? Dan kau tidak pernah memandikannya 'kan? Jangan pilih kasih begitu, Sanma sedih." Kali ini Ferbian menggunakan anaknya sendiri sebagai senjata. Apakah berhasil?

"Dia anakmu!"

Tentu tidak. Ayolah, dunia ini berjalan dengan berpihak pada uang dan penampilan.

"Ma, ayolah.. aku jarang diberi libur oleh kakak." Ferbian menggunakan jurus terakhirnya, yaitu merengek. Dan Nia yang mendapat perlakuan begitu hanya menghela nafas pasrah. Wanita itu beralih pada sang cucu yang sejak tadi menonton keributan sembari bersandar di dada bidang Ferbian. Ney mau bagaimana lagi? Ia tidak berdaya. Terlebih anak itu masih mengantuk.

"Ney mau sama daddy?" tanya Nia.

Ney sebenarnya mau-mau saja, ia tidak pernah masalah mandi dimana, makan dimana, main dimana, selama ia diperlakukan dengan baik. Lagipula, tak ada yang memperlakukannya dengan buruk juga selama ini. 

Deep Inside [Hinafuka Fam]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang