27

346 84 14
                                        

Suara siulan terdengar dari seorang pemuda dengan jaket kulit yang tengah berjalan melewati beberapa pedagang kaki lima. Kedua tangan yang ia simpan di dalam saku jaket sebenarnya hanya alibi menunggu notifikasi ponsel yang juga disimpan di dalamnya.

Drrtt!

Senyumnya mengembang kala ponselnya bergetar, dengan segera dikeluarkanlah ponsel tersebut dari saku jaketnya untuk mengecek notifikasi yang baru saja masuk.

Senyumnya mengembang kala ponselnya bergetar, dengan segera dikeluarkanlah ponsel tersebut dari saku jaketnya untuk mengecek notifikasi yang baru saja masuk

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Oh, sungguh tidak berguna." Cibirnya tanpa membalas pesan Jefran.

Jendra sedikit menyingkir saat segerombol orang keluar dari jembatan penyeberangan, baru setelahnya Jendra menapakkan kaki pada anak tangga. Saat tiba di atas, tepatnya di tengah-tengah jembatan, Jendra berhenti dan mendekat pada sisi jembatan untuk dapat menatap langit dengan lebih jelas. Hanya ada langit biru yang disinari teriknya matahari di sana.

Jendra menghela napas panjang, kembali berjalan hingga dirinya keluar dari jembatan penyeberangan. Beberapa kali Jendra mengibaskan jaketnya karena tubuhnya terasa gerah, hingga hawa sejuk mutlak menyelimuti kala dirinya masuk ke dalam sebuah minimarket.

Jendra hanya perlu membeli minuman dingin untuk bebaskan dahaga, tetapi dengan sengaja Jendra berputar-putar di dalam minimarket agar hawa panas di tubuhnya benar-benar hilang. Agar tidak terkesan aneh, Jendra berpura-pura memilih-milih barang meskipun sebenarnya hanya membaca label harga yang ditempel pada rak.

"Mahal ye, padahal di warung depan komplek harganya cuma ceban."

"Apaan nih? Masa rasa tomat nggak ada? Wah, nggak ramah buat yang nggak suka pedes."

"Ekstra 30%. Alah beneran nggak? Nanti kemasannya doang yang tambah."

"Kopi, susu, soda, air mineral, nggak jual miras, bang? Canda miras."

"Lu gila, ya?"

Jendra berjengit kaget saat suara datar seorang perempuan terdengar dari belakang. Jendra berdehem, kemudian berbalik dan mendapati Jeanne menatapnya dengan datar.

"Halo, kating." Sapa Jendra dengan perasaan canggung.

Jeanne merotasikan bola matanya malas, sedikit menggeser Jendra agar dirinya bisa mengambil beberapa botol kopi dingin dari kulkas. Jendra yang memang tak terlalu mengenal Jeanne lantas memilih pergi setelah mengambil dua botol air mineral saat kulkas dibuka oleh Jeanne.

"Harga diri gua astaga." Jendra meringis pelan, malu sebab seseorang melihatnya dalam keadaan konyol seperti itu.

Jendra meletakkan dua botol air mineralnya ke meja kasir dan membayarnya dengan segera. Saat akan meninggalkan meja kasir, dirinya kembali berpapasan dengan Jeanne. Jendra tersenyum kecil dengan anggukan sebelum berlalu pergi.

"Anjim, panas banget." Keluh Jendra saat tubuhnya terasa lebih panas dari sebelumnya.

Jendra menarik kursi yang tersedia di depan minimarket untuk ia duduki, kemudian menegak sebotol air mineral dingin hingga tandas, "Akhir-akhir ini kenapa panas banget sih?" Jendra mengibas-ngibaskan tangannya agar rasa gerahnya berkurang.

ANTARESTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang