Part 15

27.7K 1.7K 89
                                        


Oh iyaaa... Author bikin cerita baru lohhh👏

Bisa kalian baca juga selagi menunggu update WIM 💃
.
.
.
.

Happy reading

~~~~~~~

Dengan kecepatan penuh mobil yang sekarang sedang dikendarai Revan berhenti tepat didepan rumah yang tidak kecil dan juga tidak besar.

Baru saja memasuki perkarangan rumah, Revan sudah disuguhkan dengan kehadiran sosok anak kecil yang sekarang sedang berdiri didepan rumah ber cat abu-abu itu.

Senyum yang menghiasi wajah mungilnya itu tak luput dari pandangan nya.

"Yeyyy, apah atang" soraknya, berlari kecil menghampiri Revan yang sekarang sedang berjalan keluar.

Revan tersenyum, dipeluklah gadis kecil itu cukup lama. Ditatapnya lembut.

"Aya sudah nunggu lama yaa?" Tanyanya

"Embb, enda ko pah... balu aja Aya dicini"

"Ayokk masuk" ajaknya menuntun gadis kecil itu kedalam.

Baru beberapa langkah memasuki rumah, kini kaki langkah Revan terhenti karena kedatangan seseorang.

"Tuan" ucapnya menunduk hormat.

"Apakah dia ada didalam kamar bi?"

"I-iya tuan sedari tadi Nyonya teriak-teriak memanggil nama orang itu, makanya saya langsung cepat-cepat menghubungi tuan"

Revan hanya mengangguk mendengar penjelasan orang yang dipanggil bibi tersebut.

"Aya sama bibi dulu ya, ayah mau keatas sebentar" kini badannya ia sejajarkan dengan tinggi gadis kecil itu.

"Apah mau etemu unda ya?"

"Iya sayang, nanti abis ketemu bunda ayah akan main sama aya gimana??"

Mendengar hal itu sontak gadis itu pun bersorak gembira lalu mengangguk.

"Ayoo bi, kita pelgi dali cini" Ucapnnya menarik tangan orang yang dipanggil bibi itu meninggalkan Revan diruangan tersebut.

~~~~~~~

Dengan langkah pelan Revan menaiki anak tangga satu persatu menuju pintu kamar yang berada ditengah antara ruangan yang lain.

Dibukanya pelan, nampak sosok perempuan yang sangat kacau sedang menatap lurus ke arah jendela didepannya. Ruangan yang berantakan dimana banyak barang-barang berserakan dibawah.

Hal itu membuat hati Revan sedikit tersayat dibuatnya, keadaannya semakin memprihatinkan semenjak kejadian itu.

Revan melangkah kakinya mendekati sosok perempuan itu, mengikis jarak antar keduanya. Dilihat lebih dekat  wajah perempuan itu kini  semakin jelas menampilkan wajah yang pucat dengan cairan bulir yang terus keluar dari matanya.

Tangannya kini menghapus cairan itu pelan, hal itu sontak membuat sosok disamping nya langsung mengalihkan pandangannya menatap laki-laki didepannya.

Tanpa menunggu lama dipeluklah sosok laki-laki tersebut. Dia seperti sedang mencurahkan sesuatu, tangisan tanpa suara hal itu membuat Revan sakit dibuatnya.

"Masih ada aku disini" ucapnya menenangkan

Ucapan yang terlontar dari Revan malah membuat nya semakin mengeratkan pelukannya.

"Jangan pergi" lirihnya

"Iya" Revan  kembali mengusap pelan punggung sosok perempuan itu, mencoba menyalurkan rasa nyaman agar lebih tenang dari sebelumnya.

Tak sengaja netranya tertuju pada objek yang ada diatas meja itu, makanan yang sama sekali belum tersentuh. Dengan inisiatif dia mengambil makanan itu lalu menyuapinya dengan pelan.

"Makan dulu yaa,sini aku suapin aaaaaa" ucapnya

Tak menolak, kini mulutnya dengan tanpa sadar menerima suapan demi suapan hingga habis, selepasnya kini dia meminum obat yang diberikan oleh Revan.

"Aku ngantuk hoamm" ucapnya sembari membaringkan tubuhnya ke kasur .

"Tidur aja, aku akan menunggu kamu disini sampai kamu tertidur"

Tak butuh waktu lama untuk sampai membuat perempuan itu benar-benar terlelap, dengan pandangan yang masih tertuju ke arahnya Revan dengan pelan menyodongkan dirinya lalu "cupp,  cepet sembuh"

Setelah dirasa sudah tidak ada pergerakan, Revan  bergegas pergi melangkahkan kakinya meninggalkan kamar itu.

Dia akan menemui aya karena sudah berjanji akan bermain dengannya. Diruang tengah ia mendengar suara Aya yang sedang bermain dari arah luar.

Karena memang ruang tengah berada dekat dengan taman samping, jadi jika terdapat suara dari luar maka akan didengarnya.

Revan berdiri didekat pintu memandang gadis kecil itu yang sedang bermain dengan bibi tanpa tau bahwa dirinya sedang berada disini.

"APAH CINI, MAIN CAMA AYA" teriaknya ketika menyadari kehadiran Revan.

Dibalas anggukan darinya, kakinya pun melangkah mendekati gadis kecil itu.

~~~~~~

Sedangkan dilain tempat kini Luis sedang berjalan kesana kemari dikamarnya dengan pikiran yang menerka-nerka apa yang sedang terjadi.

Tidak biasanya suaminya itu akan pergi tanpa memberi tahu dirinya terlebih dahulu.

Seperti ada hal yang dia sembunyikan, tapi apa???. Kenapa pikirannya menjadi tidak tenang sekarang.

Yaa, selepas kepergian Revan suaminya, Luis pun memutuskan menuju ke kamarnya dengan pikiran yang entah sejak kapan sangat berisik di kepala, sedangkan untuk El sendiri ia titipkan ke BI Ida.

"Kenapa gue jadi gak tenang seperti ini??"

"Tidak biasanya dia seperti itu!"

Dengan pikiran yang masih memenuhi isi kepalanya, kini ia dikejutkan dengan suara  yang berasal dari luar balkon kamarnya. Seperti ada orang yang melemparkan sesuatu.

Luis berjalan pelan membuka pintu balkon yang berada dikamarnya, terlihat  gumpalan kertas yang dililitkan ke batu tergeletak di lantai. Dengan cepat pandangan nya kini mengadah kesana kemari mencari siapa orang yang sudah melemparkan batu tersebut, namun nihil ia tidak menemukan apapun.

Dengan rasa penasaran Luis mengambil benda itu lalu dibukanya secara perlahan, betapa terkejutnya ia ketika membaca isi dari kertas tersebut. Kakinya melemas seketika "b-bagaimana bisa??".

"I-ini ga mungkin" Reflek Luis menjatuhkan kertas itu.

Tersadar beberapa saat, Luis segera  mengambil kembali kertas itu di lantai , dengan sisa tenaga yang masih ada Luis pun bergegas berjalan masuk kedalam kamar. Disembunyikan lah kertas tersebut ke dalam kotak dan ditempatkan ditempat yang memang orang tidak akan menyadarinya.

Setelah dirasa barang yang sudah ia simpan aman, ia pun mendudukkan dirinya dipinggir kasur. Kini pikirannya kacau sungguh ia tidak tau akan seperti ini jadinya.

Ia menangis dengan memeluk dirinya sendiri. Hal itu membuatnya tersadar akan sesuatu hal. Bukankah sedari awal memang dirinya hanya orang asing disini?? Kenapa bisa, ia melupakannya? Ada apa dengan dirinya??.

"Hiks... hiks...Lo bodoh Luis, Lo bahkan lupa siapa Lo disini!" Isakan tangis memenuhi ruangan tersebut.


*******

Ay ayyy ada yang bisa tebak siapa??

Hayoo yang kemarin jawabnya tangan kanannya ternyata bukan 🙊

Siapakah "dia" sosok perempuan itu??

Siapa Aya?

Apa isi selembar kertas yang ditemukan Luis??

Selamat ber Overthinking ria guysss 💅💃

Spam komen apapun disini 👉

Jangan lupa vote nya 🌟
👇

whatt?? i'm mother?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang