19. Keep You Safe

5.3K 502 11
                                        

Maaf up nya malam-malam banget. Selamat Malam Minggu

*****

Ashby menarik Nala ke atas sofa. Lelaki itu mendudukan Nala di sana. Membiarkan kekasih dari tuannya itu menenangkan diri.

Mata Ashby melirik beberapa kali ke arah cermin besar yang menjadi aksen dekorasi ruangan tengah tersebut. Ia menarik napas lalu menghelanya lagi, menarik napas dan menghela untuk kedua kalinya.

"Jadi, Tuan Orfeas bertengkar dengan kekasih Anda?" tanya Ashby lagi.

Nala menggeleng. "Aku dan Ray hanya teman. Tetapi, ya, ia menyukaiku dan aku pernah menyukainya. Mereka berdebat. Aku tidak tahu tentang apa. Lalu, tiba-tiba, Orfeas menghilang."

Ashby mengerutkan dahi. Aneh sekali. Orfeas tidak segegabah itu. Ia juga bukan orang yang akan melakukan tindakan ekstensif hingga mengeluarkan kekuatannya.

Orang bernama Ray itu... bukan orang biasa.

"Kalau memang Tuan Orfeas yang melempar lidah apinya, kemungkinan, mereka berada di dimensi refleksi." Ashby menjelaskan.

"Dimensi refleksi?"

"Dimensi bayangan. Ia menggunakan cermin sebagai pantulan untuk masuk ke dalam dunia duplikat yang dibuatnya sendiri," terang Ashby lagi. "Dimensi itu miliknya dan kekuasaannya. Seharusnya, ia akan aman di sana."

Nala masih berwajah khawatir. "Bi-bisakah kita menyusulnya?" tanya Nala dengan gemetar.

Lelaki berambut pirang tersebut menggeleng lemah. "KIta tidak bisa masuk ke dalam sana, Nona. Hanya Tuan Orfeas yang bisa membuka portal menuju ke dalam dimensi itu."

Nala diam. Kini, ia cemas setengah mati. Apa yang terjadi? Ia benar-benar tidak mengerti.

Waktu terasa begitu lambat. Nala memandang langit-langit dengan gelisah. Sementara, Ashby membisu dalam diam.

Deg!

Tiba-tiba sesuatu seperti merambat di dada Nala. Sebuah emosi tiba-tiba menyeruak. Jantungnya berdegup tak karuan. Ia seperti marah, kesal dan khawatir. Ia takut dan bingung. Gadis itu menegakan tubuh. Tangannya memegang dada yang terus kembang kempis.

"Nona? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Ashby khawatir.

Nala menggeleng. "Aku... aku tidak mengerti."

Dahi Ashby berkerut. Ia menatap Nala dengan saksama.

"Aku merasa kesal... marah... rasanya, aku benar-benar marah."

Ashby menatap Nala lalu mengarahkan pandangan ke gelang yang ia kenakan. Apakah kini, emosi mereka mulai terhubung satu sama lain juga?

Nala lagi-lagi menarik napas. Sesuatu telah terjadi lagi. Pias gadis itu berubah sedikit lega. Ketegangan yang Nala rasakan turun drastis.

"Apa Anda sudah baik-baik saja?" tanya Ashby lagi.

Nala mengangguk. Ia menarik napas panjang. "Aku seperti lega. Aku tidak tahu mengapa."

 Bersamaan dengan itu, sebuah sinar tiba-tiba tampak dari cermin disusul dengan Orfeas yang muncul di hadapan mereka. Lelaki itu tampak tersenyum kecil sebelum tumbang ke tanah.

"ORFEAS!" teriak Nala kaget. 

Ashby buru-buru menghampiri Orfeas. Pangeran dunia bawah itu benar-benar tampak lemah. Ia bahkan terlalu berat untuk dibawa.

"Sebelah sini," ucap Nala cepat. Gadis itu buru-buru melangkah ke arah kamarnya. Menyisikan diri agar Ashby yang memapah Orfeas bisa masuk ke kamar. 

Ashby meletakan tubuh Orfeas di atas tempat tidur Nala. Lelaki itu seperti tertidur dengan napas yang berat.

AVARITIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang