29. Like This Forever

4.5K 419 9
                                        

Nulis ini bukannya ceria malah pengen nangis. Coba kenapa?

*****

Nala membuka pintu sangat pelan tepat ketika ia mendengar perdebatan yang terjadi di ruang depan. Orfeas sudah pulang dan sepertinya, keadaannya sedang sangat tidak baik. Namun, gadis ini menahan langkah ketika mendengar nada tinggi terdengar dari sana.

"Tunggu, aku tidak mengerti dengan arah pembicaraan ini. Apa yang kalian maksud?" Nada Orfeas tampak tak senang. Nala yang berada dari jauh saja dapat merasakan emosi membara dari lelaki itu.

Dari intipan Nala, ia melihat Tuan Greystone dan Ashby saling bertukar pandang dengan ragu.

"Kalian tahu bahwa untuk mengeluarkan permata itu, kita harus mengambil jiwa Nala yang tersisa, bukan?" Orfeas meninggikan nada. "Kalian gila?"

Seketika, Nala menutup mulutnya. Ia bergetar hebat. Ia tahu bahwa permata merah bersemayam di dalam tubuhnya, tetapi, mati?

 "Tidak ada cara lain. Ini hanya satu-satunya cara. Harus ada yang dikorbankan untuk menyelamatkan ratusan ribu orang di negara ini." Ashby berkata putus asa.

"Tidak! Kita pikirkan cara lain, tetapi membunuh Nala bukan opsi yang patut kita pertimbangkan!" Suara Orfeas dengan keras terdengar berikut bantingan pintu yang lebih keras.

Nala melihat Ashby yang menerawang sambil menghela napas keras.

"Kamu terlalu keras pada Orfeas," ucap Raia pelan. 

Ashby mendecih. "Kemungkinannya cuma dua. Kita yang membunuh Nala dan mendapatkan permata itu, atau Ray yang membunuhnya? Cepat atau lambat, ia akan mati."

Nala tak dapat melanjutkan aktivitas mengupingnya. Ia menutup pintu lalu memerosotkan diri ke pintu. Kini, ia tak lebih daripada seorang tawanan yang akan dibunuh cepat atau lambat.

Menyedihkan. Apakah ia harus berakhir seperti ini? Tetapi, apakah ada pilihan lain? Ia yakin, Orfeas pasti bisa gila.

Tok! Tok!

Suara ketukan jendela membuat Nala melonjak. Gadis itu menggosok wajahnya dan merapikan rambut. Dari siluet dibalik gorden, ia tahu bahwa Orfeas lah yangg tengah berdiri di belakang jendelanya.

Nala menarik napas sambil melatih senyum sebelum membuka gorden dan jendela. "Orfeas!" ucapnya pura-pura terkejut.

"Kamu baru bangun?" tanya Orfeas sambil membelai lembut rambut Nala. 

Nala mengulum bibir sambil mengangguk pelan. Ia tak ingin Orfeas tahu bahwa dirinya mendengar hampir seluruh percakapan mereka.

"Mengapa kamu berada di jendela? Kamu bisa masuk lewat pintu." Nala berpura-pura.

Orfeas menggeleng. "Tidak, aku lebih suka seperti ini."

Nala hanya diam. Ia tahu, Orfeas sedang marah. Ia dapat merasakannya. Gadis itu diam sejenak. "Bagaimana tadi? Tadi benar-benar Ray?"

"Ya," jawab Orfeas. "Pamanku mati terbunuh di tangannya."

Mata Nala membulat kaget. Ia tak menyangka akan mendengar kabar buruk terburuk.

"Tidak usah merasa berduka begitu. Sejujurnya, aku juga ingin membunuhnya. Aku justru kesal karena Ray membunuh Hector lebih dulu." Orfeas tertawa, mencoba mencairkan suasana.

"Lalu, apa yang Ray mau?" tanya Nala bingung. "Ia ingin jadi raja?"

Orfeas mengangguk pelan. "Kurang lebih?" Ia berucap dengan nada sedikit ragu. "Ia merasa, tahta adalah haknya karena ia adalah keturunan sulung dari tetua kami. Sementara aku adalah keturunan bungsu."

AVARITIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang