Chapter 6 : Bentakan pertama Devin

89 74 35
                                        

Beberapa menit kemudian, akhirnya Avazia terlihat keluar dari ruangan less dengan tas ransel berwarna hitam dipenuhi pernak-pernik khas dari Indonesia.

"Iya bu, Avazia pamit ya"

Pintu tertutup, dan Avazia langsung menghampiri kakaknya yang sedang bersama dengan seseorang.

"Kak Ara?" Panggilnya.

"Eh- Zia udah pulang ya, kakak nungguin kamu dari tadi" jawab Antara tersenyum tipis.

"Maaf kak, tapi ngomong-ngomong kakak kenapa makai masker? Dan laki-laki ini siapa kak? Pacar kakak ya??" Tanya Avazia semakin penasaran.

Devin hanya terdiam mendengar ucapan Avazia, ia menatap datar sebelum akhirnya tersenyum kepada Avazia.

"Ini? Ini namanya kak Devin, dia bukan pacar kakak. Dia hanya teman kakak kok, Devin.. kenalin ini Avazia adek kandungku, panggil aja dia Zia. Dan tentang masker ini, kakak pakai karna.." Antara memperkenalkan Devin pada adiknya lalu terdiam sejenak saat ia ingin memberi tau alasan mengapa dirinya memakai masker saat itu.

"Karena apa kak?" Tanya Zia, lagi.

"Kakakmu nggak kuat sama polusi dek, jadi dia makai masker untuk beberapa hari ini. Soalnya akhir-akhir ini dia sering batuk di kelas". Jelas Devin mengelus rambut Avazia dengan lembut.

Antara hanya tersenyum melihat itu, dan sesekali Devin menoleh ke arah Antara lalu membalas senyuman manisnya yang terlihat dari lekukan matanya.

"Ohh gitu, semoga kakak cepet sembuh ya! Biar bisa ngajarin Zia sejarah lagi. Zia nggak suka matematika, Zia nggak bisa ngitung karena susah.." gumam Avazia memeluk tubuh Antara yang sedang berdiri di depannya.

"Kenapa Zia suka sejarah?" Tanya Devin pada Avazia

"Karena belajar sejarah itu seru kak! Kita hanya membaca dan menghafal, bahkan tidak ada rumus sama sekali di sejarah. Zia benci matematika karena Zia bodoh dalam berhitung dan menghafal rumusnya--"

"Kadang Zia juga dibully sama temen Zia karena Zia bodoh dalam matematika.." tambahnya

"Kenapa Zia nggak ngelawan?" Tanya devin sekali lagi.

"Kak Antara nggak pernah ngajarin Zia untuk balas dendam, membenci, ataupun melawan saat di bully, kak". Ucap gadis itu dengan penuh senyuman tulus yang membuat Antara terharu saat mendengarnya.

"Zia hanya diajarkan untuk selalu mengalah demi kebaikan, karena Zia dan kak Antara percaya kalau balasan Tuhan itu nyata dan ada". Tambahnya.

"Mengalah memanglah penting Zia, tapi kalau kamu terus terusan mengalah saat dibully, kamu bisa saja mengalami masalah mental". Ucap Devin yang masih setia mengelus rambut panjang milik Avazia.

Antara yang mendengar itu langsung ikut serta dengan pembicaraan mereka. "Memang. Terlalu banyak mengalah memanglah membuat seseorang lelah. Tapi dengan melawan, itu juga akan membuat masalah semakin berulah bukan? Dimana si pembully akan merasa lebih benci. Jadi mau kita melawan atau tidak melawan, sama saja tetap di benci". Jelas Antara berjalan mendekati Devin dan Avazia

"Biarlah Tuhan yang membalas keburukannya, yang kita lakukan hanyalah senantiasa berdoa memohon perlindungan-Nya". Tambahnya dengan mengelus pipi chubby milik adiknya.

Devin tersenyum saat melihat tutur kata Antara yang sangat lembut dan terlihat tulus ketika menjelaskan banyak hal tentang perasaan. Jujur, Devin adalah seorang yang pandai dalam pelajaran namun kurang pandai dalam perasaan.

"Pintar!". Ucap Devin spontan melingkarkan satu tangannya ke pinggang ramping milik Antara lalu menatapnya dengan tatapan yang menggoda.

"E-eh, Dev.. jangan di sini, a-ada Zia tau.." bisik Antara di dekat devin.

-Aqueenza [✓]-Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang