Ledakan itu sudah tak terdengar lagi di kedua telinga Antara, menandakan bahwa ledakan tersebut sudah berakhir. Antara kembali membuka matanya sedikit demi sedikit lalu melebar. Dia sedikit terkejut karena.. tadi dia berada di pinggiran jalan, kenapa sekarang sudah sampai rumah?
"Lah, gue kok udah ada di rumah?" Ucapnya terheran dengan melihat sekeliling kamarnya, namun dia lebih terheran lagi melihat desain kamarnya yang tiba-tiba berubah.
"Perasaan, gue ngga naruh meja di sana, dan... KENAPA SEMUANYA BEDA WOE?!" Ujarnya dengan nada sedang kemudian naik dengan sendirinya. Dia sangat terheran dan sedikit bingung.
"Gue dimanaaa ARGHHH!" Tambahnya dengan tangan terangkat mengacak-acak rambutnya.
"A-akhh, kaki gue──" Antara memekik kesakitan saat merasakan rasa sakit yang menjalar dari salah satu kakinya.
Saat dirinya membuka selimut, ternyata terdapat goresan luka yang begitu parah di lututnya. Dirinya mencoba turun dari ranjang kamar siapa itu, namun tiba-tiba ada seseorang yang terlihat berdiri di ambang pintu, menatap datar wajah Antara.
"Jangan turun." Ucap seorang tersebut membuat Antara sontak mendongak dan melihat siapa di sana. Wajahnya tak begitu terlihat, hanya warna hitam yang ada di pengelihatannya. Mungkin cahaya lampu tak sampai ke arah sana, jadi hanya hitamlah yang dapat terlihat di mata Antara.
"Lo siapa?" Tanya Antara dari kejauhan. Pria itu berjalan maju perlahan dan menampakkan wajahnya yang dapat terlihat karena cahaya.
Antara membulatkan matanya, ia sangat terkejut dan langsung turun dari ranjang, kemudian berlari sempoyongan ke arah pria tersebut.
"BANG THEO!!" Teriak Antara dengan spontan memeluk tubuh pria tersebut yang diselimuti oleh seragam SMA miliknya. Namun pelukan itu ditolak oleh pria tersebut yang melepaskannya secara kasar.
"Gue bukan Theo! Gue Atlanta Gevan Dirgarantha!" Bentak pria itu secara kasar.
Antara masih berdiri walau sedikit bergoyang karena rasa sakit yang menjalar di kakinya, dia ingin ambruk sekarang.
"A-akh──" pekik Antara kesakitan, lalu ia ambruk di atas lantai yang cukup dingin.
Brukk!
Pria yang diketahui bernama Atlanta Gevan Dirgarantha atau yang sering dipanggil dengan nama Gevan──langsung menggendong Antara dan membawanya ke ranjang di kamarnya.
Ia mengangkat tubuh Antara perlahan lalu membawanya berjalan lambat ke arah ranjang.
"Jangan banyak gerak, kaki lo masih belum sembuh." Ujarnya dengan ekspresi datar. Gevan menurunkan Antara di ranjangnya dan meluruskan kaki Antara.
"Makasih.." lirih Antara yang masih menatap wajah Gevan dengan tatapan sendu.
Gevan tak menjawabnya lagi, ia mengambil kotak P3K yang berada di dalam laci mejanya, lalu ia mengambil betadine untung mengobati luka di kaki Antara. Setelah selesai mengolesinya dengan betadine Gevan mengambil perban dan memasangkannya pada kaki Antara.
Antara masih terus memandangi wajah Gevan yang terlihat mirip dengan Theo. Dia terdiam datar tanpa suara. '...bang Theo..' batinnya mengelilingi lamunannya pada Gevan.
Devan sudah hampir selesai mengobati kaki gadis di hadapannya, dia tak sengaja melirik Antara yang ternyata telah mengamatinya sedari tadi dirinya memasang perban di kaki Antara.
Tatapan Gevan berhenti di mata hazel milik antara, ia tak memalingkan wajah sama sekali. Mereka masih bertatapan selama kurang lebih tiga detik sebelum akhirnya Gevan menyadarian Antara dari lamunannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
-Aqueenza [✓]-
AcakCERITA INI BELUM MASUK KE TAHAP REVISI YA! KARENA AUTHOR LAGI FOKUS TAMATIN DULU, JADI KALAU ADA TYPO BISA DI KOMEN LANGSUNG^^ "Ternyata gini rasanya mati-matian nahan luka di dada." Antara Queen Aliza. Panggil saja ia Antara. Wanita berusia 16 tah...
![-Aqueenza [✓]-](https://img.wattpad.com/cover/343729073-64-k558958.jpg)