Dia melirik jam diatas nakas, entah apa yang harus ia lakukan. Sepi, sunyi, sendiri. Benar-benar sepi. Tak ada orangpun di sini.
"Gue sendiri.. sekarang," Antara mengulas tawa, walau ada perasaan sedih dan sakit di dada.
"Kenapa dunia ini lucu banget sih..?"
"Gue dibiarin sendiri di sini? Nggak ada satupun orang?? Serius?? Gue nggak mimpi..?"
Suaranya menggema diseluruh ruangan, dirinya langsung terdiam.
"..."
Suaranya menggema diseluruh ruangan, dirinya langsung terdiam.
Hening, benar-benar hening. Suasana di malam itu sangat dingin. jendela yang terbuka, menampilkan gambaran bulan purnama nan indah. Berwarna merah tampak sumringah.
"Harua sama cara apalagi supaya Papa percaya kalau Ara nggak ngelakuin itu.." ia membenamkan wajahnya dalam lipatan tangan kecilnya,
"Antara nggak ngelakuin itu, Pa.." dirinya semakin merendahkan nada bicaranya, sedikit serak dan menggencar air mata.
Pikirannya sibuk, memikirkan hal baru yang akan ia dapati nanti. Gimana caranya Papa percaya? Itulah yang ia pikirkan sedari tadi,
Pusing, sangat pusing. Bahkan kepalanya tak mampu diangkat oleh otot-ototnya. Lemas, hari ini sangat melelahkan baginya.
"Nggak mood belajar," cicitnya, menjauhkan buku secara perlahan dari tatapannya.
"Ya Allah.. gimana cara ngadepin masalah kaya gini? Gimana lagi Antara harus menghadapi-nya? Antara capek Ya Allah.."
Antara mendongak paksa, menatap langit-langit kamar yang bernuansa putih tanpa hiasan di sisinya.
Ia membuka resleting koper di bagian terdepan, mengambil beberapa gambar polaroid di sana.
"Queenza kangen bang Theo.." Antara bergumam, menatap sayu wajahnya dan kakak angkatnya yang berada di dalam gambar tersebut.
Sungguh indah, wajah dan senyuman Theo sangat candu baginya, apalagi dengan sifat lemah lembutnya, sok pinternya, dan sifat lain yang membuat Antara terbayang secuil ingatan di masa lampau.
"Bang!"
"Apa Queen?"
"Mumpung lagi di pantai nih, ayo foto berdua! Queen pengen cuci fotonya nanti bareng Mama,"
"Boleh, sini"
Antara mendekat ke arah pria yang berjarak berapa langkah dengannya, membawa camera berwarna hitam dan biru, membuatnya terkesan lucu kala terpegang.
"Bang, senyumm,"
Cekrek/
Saat foto sudah didapat, ia melihat foto manis itu bersama sang kakak. Saling pandang dan mengulas senyum manis antar samudera.
"Queen cantik," Theo tersenyum menatap suka pada foto yang diambil adiknya.
Deg-
Jantung Antara terpompa cepat, wajahnya berubah menjadi merah semerah tonat. Samar-samar ia mengucap terimakasih pada pria tampan di sampingnya.
Antara tersenyum mengingat jelas betapa manisnya momen tersebut dalam memorinya, mau sebanyak ia mengingat-pun.. ia tak'kan pernah bosan, apalagi dengan raut wajah Theo yang menggemaskan.
Hanya sebatas saudara.
Antara tak sadar, terlalu lama memandangi wajah kakaknya dalam bingkai, membuatnya tertidur dengan sendirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
-Aqueenza [✓]-
RandomCERITA INI BELUM MASUK KE TAHAP REVISI YA! KARENA AUTHOR LAGI FOKUS TAMATIN DULU, JADI KALAU ADA TYPO BISA DI KOMEN LANGSUNG^^ "Ternyata gini rasanya mati-matian nahan luka di dada." Antara Queen Aliza. Panggil saja ia Antara. Wanita berusia 16 tah...
![-Aqueenza [✓]-](https://img.wattpad.com/cover/343729073-64-k558958.jpg)