Chapter 20: Siapa yang salah?

101 69 105
                                        

Tak berselang lama, Devin akhirnya sampai di rumah sakit. Ia memarkirkan mobilnya lalu segera bergegas mencari Antara. Lorong demi lorong ruangan ia lewati, dan akhirnya dia menemukan Antara yang sedang duduk di kursi sembari menangis.

Devin langsung menghampiri Antara dan memeluknya. "Ra, lo kenapa nangis gini?? Siapa yang sakit??" Ucapnya mengelus pundak Antara yang masih tertunduk dan menangis.

"Zia Dev.. Zia.." Antara membalas pelukan Devin dengan erat, ia membenamkan wajahnya di dada bidang Devin yang tertutupi oleh jas hitam.

"Hei.. lo kenapa? Siapa yang nyakitin Zia? Biar gue kasih pelajaran dia sampai nangis" Devin tertunduk menghadap Antara.

Antara mendongak menghadap Devin dengan mata yang berkaca-kaca. "Zealova.. pacar lo.."

Mendengar hal itu, Devin membulatkan matanya, ia tak menyangka bahwa Zealova benar-benar tega melakukan hal buruk dengan adiknya sendiri.

"Dia apain Zia??"

"Dia nusuk perut Zia makai pisau.." suara Antara mulai bergetar, Devin juga merasakan detak jantung Antara yang berdetak kencang. Dan tunggu.. pipi kanannya..? Kenapa itu semua? Dia benar-benar heran, apa yang terjadi dengan keluarga Antara?

"Coba ceritain kronologi nya secara jelas.. biar gue nggak salah paham soal ini"

"Jadi tadi Zealova nggak pulang sehabis sekolah, dan dia pulang jam sembilan malam dengan seragam yang masih dia pakai, gue nggak tau dia habis ngapain tapi yang jelas, pacar lo itu pulang dengan penampilan yang acak-acakan. Seragamnya keliatan lusuh, dan dia ngamuk-ngamuk di depan pintu. Setelah gue buka pintunya, dia nyuruh gue bikinin minum, dan gue sebagai kakaknya wajib tau dia habis ngapain sampai bisa berantakan kaya gitu.. kan?" Jelas Antara panjang lebar.

"Gue cuma tanya, lo habis ngapain, dia malah bilang bacot ke gue, dan dari situlah pertengkaran gue semalem dimulai" tambahnya.

"Kok bisa Zia yang kena?" Devin bertanya menatap Antara yang masih ada di dalam pelukannya.

"Gue di cekek sama di Zealova, dan tiba-tiba Avazia dateng bawa pisau, dia ngancem mau nyakitin Lova kalau Lova nggak mau ngelepasin tangannya dari leher gue"

"Lama-lama si Zia makin kebawa suasana dan dia mulai nyerang Lova, tapi gue berhasil ngelerai mereka sampai akhirnya gue di dorong sama Lova dan dia ngerebut pisau di tangan Zia terus dia langsung tancepin pisau itu ke perut Zia"

"Serius? Mana Lova sekarang?"

"Iya gue serius Dev, dia pergi. Nggak tau kemana lagi, gue lihat dia pergi lewat pintu di samping ruang tamu"

"Astaga.. sabar ya, gue bakal bantu lo dan Zia buat dapetin keadilan dari semua hal keji kaya gini"

Antara melepas pelukannya dari Devin, ia mengusap air matanya lalu kembali berkata "Lo yakin? Lova pacar lo sendiri loh.." ucapnya dengan tatapan sendu pada Devin.

"Gue harus bilang gimana lagi supaya lo percaya Ra, dia bukan pacar gue. Sampai kapanpun gue nggak akan pernah nerima cintanya, lagipula.. berita dia ciuman sama Askar udah kesebar di kelas gue! Yakali gue mau macarin cewe murahan kaya dia!" Jelas Devin.

"Tapi gue denger dari Lova sendiri, kalau lo yang ngechat dia makai nomor lain lalu lo tembak dia gitu aja!" Antara semakin curiga.

"Lo nggak percaya?" Devin segera merogoh kantong nya dan mengeluarkan ponsel miliknya. Dia membuka kunci berbasis pin dan sidik jari, lalu menyuruh Antara mengecek semua media sosial yang ia punya. Dia menyodorkan ponselnya pada Antara, berharap dengan cara ini.. Antara bisa percaya padanya, bahwa dia tak pernah sama sekali menembak Zealova untuk menjadi pacarnya.

-Aqueenza [✓]-Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang