Chapter 18: Vodka

67 48 44
                                        

──────────────────
──────────────
─────────
───

"Gue nggak paham, kenapa Antara bisa bilang kaya gitu? Kenapa Elora juga bilang gue punya pacar. Padahal gue nggak pernah pacaran selama ini"

"Gue denger denger dari kelasnya si Antara, katanya lo nembak adeknya yang namanya.."

"Bentar.. jiwa pikun gue kambuh"

"Lova! Nah iya Lova!"

"Lova? Gue berani sumpah! Gue nggak pernah nembak Lova buat jadi pacar gue, Ndra!"

"Gue sih nggak tau, gue cuma denger aja gibahan ciwi ciwi icikiwir di depan kelas si Antara"

Terdengar dan terlihat, dua pria yang sedang mengobrol di cafe sore itu adalah Kenndra dan Devin. Mereka membicarakan perihal Antara, dan mungkin akan berpindah pada Azava.

Devin menghela napas lelah. Ia sudah cukup bingung dengan masalah keluarganya yang setiap hari ada saja gangguannya. Ditambah lagi Antara, wanita yang.. mungkin menjadi special dalam pandangannya.

"Lo──?" Devin menatap datar Kenndra, membuatnya sedikit tersedak saat meminum kopi.

Uhuk!

"Gu-gue?" Kenndra melongo menunjuk dirinya sendiri.

"Iyalah bego! Lo kira siapa? Setan?" Devin sedikit ngegas.

"Santai aja bro"

"Gimana hubungan lo sama Ava? Udah dapet restu Askar?" Devin meraih biscuit di atas piring yang tergeletak di meja tempatnya berbincang dengan sahabatnya.

"Gue──" Kenndra menjeda ucapannya. ia menunduk kebawah. Seketika ingatannya tentang Askar mulai terputar kembali, menampilkan jelasnya Askar yang selalu menghinanya, mencaci maki dirinya di depan Azava, hanya karena masalalu yang bukan menyangkut kesalahannya.

"Cerita aja sama gue, Ndra. Gue bakal jadi pendengar yg baik buat lo" Devin tersenyum tipis. Meraih tisu yang masih terselip rapi di tempatnya.

"Gue nggak akan pernah dapet restunya Askar. Ntah kenapa, gue pengen nyerah aja ngejar si Ava.. walaupun kita saling suka kan tapi.." Kenndra masih menunduk, dia tak kuat untuk bercerita dengan memandang wajah laknat milik sahabatnya. Entah kecewa, sedih, dan dèjà vu yang ia rasakan mungkin akan berubah menjadi tertawa terbahak-bahak seperti kuntilaki. Dan dia tak tau harus memilih ekspresi yang mana untuk dirinya saat ini, dia juga bingung dengan semua masalah hidupnya.

"Lo jangan nyerah dulu! Gue yakin, lo bakal dapet restu Askar suatu saat nanti, gue jamin deh! Askar bakalan maafin semua kesalahan-kesalahan yang nggak ada sangkut-pautnya sama lo itu!" Devin mencoba meyakinkan Kenndra.

"Gue yakin itu! Jangan nyerah dulu, oke?" Tambahnya lagi.

Kenndra hanya membalas dengan anggukan kecil. Ia merasa sedikit malas untuk berbicara.. huft, dunia ini memang melelahkan. Kau tau? Apa yang menjadikan author itu saangat suka membuat tokoh-tokoh di sini sengsara semua? Bahkan Elora dan faisal pun mungkin akan begitu, terlihatnya bahagia namun aslinya sengsara. Author selalu berharap, bahkan sangat berharap. Author bisa berhenti déjá vu soal Devin yang asli, ditambah lagi Zia. Arghhkhh rasanya sepi dan hampa. Sudahlah, lupakan saja mereka.

-Aqueenza [✓]-Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang