Chapter 23 : Fitnah

30 20 3
                                        

Antara terlihat berjalan memasuki kelas, baru saja dirinya akan melangkahkan kaki melewati pintu yang terbuka, dia sudah kembali di hadang oleh dua wanita di sana.

"Ohh jadi ini pembunuh dadakan di kelas kita?" Ucapnya membuat Antara spontan terdongak dari tunduk dan menghentikan langkahnya sejenak.

"Tega banget sih! Bisa-bisanya nusuk adek sendiri makai pisau!" Sahut salah satu wanita yang duduk di samping jendela.

"Ngak punya hati!" Lanjut oleh wanita yang berbeda.

"Huuuu!" Tambahnya.

"Maksud kalian apa?" Antara bertanya karena bingung, mungkin dia masih bisa sabar kali ini.

"Halah! Jangan sok nggak tau lo!" Wanita yang diketahui bernama Chika, itu dengan lancang menoel kasar pundak Antara.

Di saat mereka sedang berdebat, datanglah Zealova dari arah lain yang terlihat tersenyum meremehkan Antara. Dia bertepuk tangan beberapa kali secara lambat sembari berucap "Antara.. Antara.." gumamnya berhati-hati.

"Asal lo tau ya, seisi kelas itu udah tau kelakuan bajingan lo yang tega nusuk adek lo sendiri!" Jelas Zealova kembali meremehkan Antara.

"Gue heran deh, orang kaya lo kenapa bisa sampai hidup di kelas ini?" Tambahnya.

Zealova memasang raut wajah kasihan kepada Antara, lalu dia berkata "Gaysss kok kalian rela sih kelas kita dikotorin sama PEMBUNUH kaya dia" ucapnya membuat Antara mengernyitkan keningnya tak menyangka.

"Tutup mulut lo! Gue bukan pembunuh!!" Peringat Antara mulai membuka suara.

"Pembunuh mana yang mau ngaku kalau dia itu seorang PEMBUNUH? HAHAHAHAH!" Zealova tertawa diikuti oleh seisi kelas yang menirukannya. Entah itu laki-laki ataupun perempuan, mereka sama saja menertawakan Antara. Omong-omong ada yang rindu dengan Elora? Kemana dia ya..

"Terserah mau kalian percaya atau nggak! Gue masih punya Elora yang selalu percaya sama gue!!" Tegas Antara menatap tajam wajah Zealova.

"Gue...? Percaya sama lo??" Seorang wanita berjalan mendekati ketiga wanita yang sedang berdiri di ambang pintu tersebut. Dia adalah Elora. Dirinya berjalan mendekati Antara dengan tatapan datar miliknya.

"Gue nggak akan pernah percaya sama pembunuh kaya lo!!" Ucapnya membuat Antara melongo sejenak.

"Hah???" Beo Antara melihat wajah Elora dengan ekspresi yang tidak bisa dikatakan.

"Lo serius El? Lo jangan main-main deh! Lo sahabat gue El! Jangan percaya sama mereka, mereka itu bohong!!" Antara memberontak dengan tangan yang memegang tangan Elora.

Elora menghempas pegangan tangan itu, tatapannya semakin tajam dibarengi dengan air mata yang sedikit demi sedikit mulai berjatuhan.

"LO JAHAT RA!" Ucapnya.

"LO GILA!! LO TEGA!!" Lanjutnya.

"Gue tega kenapa El?!" Antara kembali terheran. Ia masih tak menyangka bahwa Elora bisa berkata seperti itu padanya.

"LO TEGA NYAKITIN ZIA! DIA SALAH APA SAMA LO?! LO GILA! SUMPAH, LO GILA, ANTARA!!" Bentaknya dengan isak tangis menyelimuti kalimatnya.

Antara yang mendengar itu sontak membekap mulut dengan tangannya sendiri, dia membelalakkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabat satu-satunya.

"GUE NYESEL SAHABATAN SAMA LO!! GUE NYESEL PUNYA SAHABAT PEMBUNUH KAYA LO!!" Ketusnya hingga tandas.

Kali ini, DEG!

Elora benar-benar membuat Antara sangat terluka. Bukan fisiknya, namun hati kecilnya. Ia tak menyakal saja, mengapa bisa sahabat satu-satunya itu dengan mudah percaya omongan orang-orang tak punya hati seperti Zealova.

-Aqueenza [✓]-Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang