Pagi hari, di keluarga Daniswarah. Seorang pemuda sudah rapi dengan seragam sekolahnya, siap berangkat. Tiba-tiba suara Riana terdengar.
"Rakha, kamu nggak sarapan pagi dulu?" sapa Riana.
"Gak," jawab Rakha singkat, langsung melangkah keluar.
"Kamu mau langsung pergi, Nak?" tanya Andrian, melihat sikap anaknya yang berbeda dari biasanya.
"Iya," balas Rakha cuek lalu pergi.
***
Di sisi lain, Naura hanya melamun di meja makan. Keluarganya heran, sebab biasanya ia selalu ceria dan suka bercanda.
Abangnya pun menyapanya. "Nau, kamu nggak sarapan apa?"
"Udah kenyang," balas Naura singkat, lalu meninggalkan meja makan.
Melihat itu, Altan buru-buru bicara. "Abang antar kamu ke sekolah ya, Nau."
Orang tua mereka hanya bisa maklum setelah percakapan semalam. Naura sendiri tidak menanggapi, tapi Altan sudah lebih dulu menyalakan mobil, tak ingin adiknya menunggu. Ia selalu peka dengan perasaan Naura.
Sesampainya di sekolah, Naura masih diam. Ia berjalan lurus di koridor, lalu masuk kelas. Sesampainya di bangku, suara sahabatnya langsung terdengar.
"Eh, Nau, tumben lo kayak patung gitu?" tanya Vinia, yang diangguki Putri dan Yuenda.
"Kenapa lo? Kesambet ya?" lanjut Adara sambil meledek.
"Lo kenapa, Nau? Cerita dong sama kita," ucap Queen.
Naura bergumam lirih, "Gue dijodohin…"
Circle-nya langsung kaget dan bersamaan mereka teriak, "Haa!?"
"Serius lo? Dijodohin sama siapa?" tanya Vinia.
Yuenda menimpali dengan lembut, "Nau, sebenernya Rakha udah cerita sama Adara. Dia udah tau kalo dijodohin sama lo. Cuma dia bilang jangan kasih tau dulu, nunggu waktu yang tepat."
"Jadi Rakha udah tau, Yuen?" tanya Naura sambil meneteskan air mata. "Coba aja dia kasih tau… pasti aku bisa nolak. Kalo udah kayak gini, gue bisa apa?"
"Haa… parah banget Rakha, kok lo nggak bilang ke kita?" Vinia menatap Yuen serius.
"Kita nunggu waktu yang tepat, Vin," jawab Adara ikut serius, matanya sampai berkaca-kaca karena nggak pernah lihat Naura nangis.
"Sakit banget ya, Nau, lo dijodohin cuma demi sahabat kecilnya Om Deril," ucap Putri sambil mengelus pundak Naura.
"Udah, udah… nanti Rakha masuk. Kita duduk kayak biasa. Nau, lo harus kuat, ya. Kalo ada guru, tahan air mata lo," semangat Yuenda.
Tak lama Rakha masuk kelas bersama Dafi. Suasana jadi makin kaku karena Rakha pun diam seribu bahasa.
"Daf, gue mau ngomong sama lo," ucap Yuenda sambil menarik Dafi keluar.
"Sebenernya Naura udah tau soal perjodohan ini. Bahkan tadi dia bilang kalo pernikahan mereka bakal dilangsungin lusa," jelas Yuenda.
Dafi terkejut, "Haa!? Lo serius, Yuen?"
"Iya. Jadi tolong ngerti perasaan temen lo. Lo juga bilang ke Aksa, ya."
"Oke, siap!" Dafi langsung masuk lagi dan narik baju Aksa keluar kelas.
"Apaan sih, Daf? Jangan tarik-tarik baju gue, mahal nih," protes Aksa.
Dafi buru-buru cerita. Semuanya kaget, apalagi karena waktunya begitu cepat.
"Serius lo, Daf?" Arvin ikut panik.
"Iya, Bambang," Dafi sambil nyenggol kepala Arvin.
Akhirnya mereka semua sepakat untuk bertingkah biasa, meski hatinya campur aduk.
***
Jam pulang sekolah, bel berbunyi.
"Rak, lo habis ini mau kemana?" tanya Alvaro, mencoba menyapa supaya Rakha buka suara.
"Pulang," jawab Rakha cuek, terus berjalan tanpa menoleh.
"Oh, yaudah. Kita cabut duluan," sahut Alvaro, lalu pergi bareng temannya.
Rakha menghidupkan motor, tapi matanya menangkap Naura yang masih duduk di halte. Ia menahan gengsi sebelum akhirnya menghampirinya.
"Lo nggak naik motor?" tanya Rakha.
"Enggak, gue nunggu supir," jawab Naura cuek sambil main HP.
"Naik."
"Kemana?"
"Ke motor gue."
"Gue?"
"Iya."
"Gak mau gue."
"Udah cepet, nanti diganggu preman lagi. Lagian mau hujan."
Naura akhirnya luluh, teringat kejadian kemarin saat hampir diganggu preman. "Yaudah, gue mau."
Mereka naik motor berdua. Rakha langsung tancap gas. Tiba-tiba ada pedagang nyebrang. Rakha ngerem mendadak. Naura otomatis maju, pegangan di pinggang Rakha.
"Aduh! Ih, gimana sih, jangan ngebut-ngebut! Maaf ya, Pak," omel Naura sambil minta maaf ke pedagang.
"Berisik lo," balas Rakha cuek.
"Next time hati-hati ya, Den sama Neng. Di sini rawan pedagang," ucap si pedagang.
"Iya, Pak," jawab Naura. Rakha hanya diam dan melanjutkan perjalanan.
Tak lama, hujan deras turun. Mereka terpaksa menepi.
"Nau, lo kedinginan?" tanya Rakha.
"Enggak kok," jawab Naura sambil melipat tangan.
"Nih, pake jaket gue." Rakha langsung melepas jaket dan memakaikannya ke pundak Naura.
"Lo sendiri gimana?" tanya Naura.
"Gue nggak apa-apa. Udah biasa," balasnya cuek.
Beberapa menit kemudian hujan reda. Mereka kembali jalan.
Sesampainya di rumah, Delisa langsung menyambut. "Loh, Naura udah pulang, diantar Rakha ya?"
Naura dan Rakha salim ke Delisa. Tak lama, Altan datang.
"Astaghfirullah, Nau! Abang lupa jemput. Untung ada Rakha," ucap Altan sambil tersenyum, mencoba akrab dengan Rakha.
"Rakha, kamu basah gitu. Nggak mau masuk dulu?" tawar Delisa.
"Gak, Tante. Saya langsung pulang aja," jawab Rakha.
"Jaket lo, Rak!" teriak Naura.
"Pake dulu aja, Nau," balas Rakha, lalu pergi dengan motornya.
***
Lanjut?
Vote 💚🤍
Commen 🤍💖
SEBELUM NYA MINTA MAAF KALO TYPO 🙏
Apa mereka sudah saling suka atau masih gengsi?
@aksa Delvin Arion
@dafi Stevano
@alvaro Daniel samudra
@arvind Dirandra Raditya
@cakra darius Dayren
@yuenda Oktavia
@zaqueen Vania
@putri Lelisa naisya
@adara Dayana atalia
@vinia Asila Davila
@altan narendra Permana
RADEN RAKHA DANISWARAH 💫
ELISA NAURA EBALEND 💫
KAMU SEDANG MEMBACA
Rakha (End)
Fiksi RemajaSeorang anak CEO besar! Ia di jodohkan dengan anak perusahaan terbesar di jakarta pusat!. ELISA NAURA EBALEND RADEN RAKHA DANISWARAH Start: 19 Juni 2023. Finis: 11 November 2023. Murni cerita🥀 KALAU GAK SUKA, GAK USAH BACA! SELAMAT MEMBACA ☺️👍
