chapter 26

5.7K 288 5
                                        

"NAURA!!!" suara teriakan itu terdengar kencang dari jauh, Rakha yang berlari sekencang mungkin ke arah kolam. Kevin langsung kabur menjauh, sementara Raya hanya melihat santai seolah tak bersalah. Curut Rakha ikut berlari di belakangnya.

BYUR!!

Rakha terjun ke dalam air tanpa pikir panjang, "Nau... Luh gak bisa berenang, sekarang lo dimana Nau!!" batinnya panik karena tak melihat Naura.

Tak lama ia menemukan istrinya yang tak sadarkan diri, Rakha segera menggendong Naura naik ke permukaan. Masih dengan baju basket hitam-putihnya yang basah kuyup, ia memangku kepala gadis itu.

"Naura... bangun Nau!" Rakha menggoyangkan pipinya.

"Naura!!" Curut ikut memegang tangan Naura yang dingin. Wajahnya pucat, membuat Rakha memutuskan memberi napas buatan.

"Eh gadis murahan! Loh jahat banget bangsat!!" Aksa menunjuk ke arah Raya, yang hanya tertawa lalu pergi tanpa rasa bersalah.

CUP!

Tak berhasil, Rakha langsung menggendong Naura keluar area kolam menuju parkiran. "Aksa gw minjem mobil loh!" ucapnya terburu-buru, masih basah kuyup.

"Pakai aja, biar gw yang supir ya kha."

"Oke jadi, kita semua izin ke sekolah, kita ke rumah sakit!" Dafi menimpali, tanpa sadar menarik tangan Yuenda, lalu buru-buru ke sekolah buat izin.

***
Di perjalanan, Rakha duduk di kursi belakang, menggenggam erat tangan Naura. "Yang kuat ya Nau... gw di samping Luh terus. Jaga bayi kita ya!" gumamnya sambil menatap wajah pucat istrinya. Aksa menyetir dengan Adara di depan.

Sesampainya di rumah sakit, Aksa cepat-cepat memanggil dokter.

"Dokter!!" Aksa berteriak.

"Iya pak, pasiennya taruh sini!" jawab dokter.

"Suster, bawa!"

Rakha setia di samping Naura, tak melepaskan tangannya.

"Pak, sampai sini dulu. Bapak jangan ikut kesana," ucap dokter menahan Rakha yang ingin masuk. Aksa dan Adara juga ikut berhenti.

Tak lama, Dafi dan yang lain menyusul. "Gimana keadaannya Rakha?" tanya Yuen.

Rakha hanya terdiam, wajahnya penuh sesal. "Gw gak tau... merasa bersalah banget gw. Istri sama anak gw gak gw jaga. Bodoh banget gw sumpah!" air matanya jatuh.

"Rakh, lo harus kuat. Kita doain, pasti Naura sama bayinya selamat," ucap Cakra menenangkan.

"Kuat gimana! Gw takut kehilangan Naura sama anak gw, Cak!" Rakha menunduk, memegangi kepalanya.

"Gila sih gak bisa dibiarkan!!" Arvin mengepalkan tangan, penuh amarah.

"Oh ya, tadi ada Kevin. Makanya kita gak bisa nolongin," Putri menambahkan.

"Haa... Kevin?" Alvaro kaget.

"Iya."

"Gw harus kasih pelajaran banget sih! Kalo sampai anak gw atau istri gw kenapa-kenapa, mati Luh Kev!!" Rakha bangkit, tapi langsung ditahan Dafi.

"Luh gak usah pikirin dia, fokus anak istri lo dulu kha!" tegur Dafi.

Tak lama dokter keluar. "Gimana dok, istri saya!" Rakha langsung menghampiri.

Dokter sedikit heran melihat mereka masih pakai seragam sekolah. "Istri bapak baik-baik saja, tapi saat ini masih belum sadar. Anak dalam kandungan juga sehat."

"Alhamdulillah..." Yuenda ikut lega.

"Boleh masuk dok?" tanya Rakha.

"Silakan, tapi untuk sementara hanya satu orang saja."

Rakha (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang