chapter 19

7.1K 364 12
                                        

Malam yang begitu indah, bintang dan bulan menyinari langit, tapi tidak dengan Rakha yang masih deg-degan, karena besok ia akan melangsungkan pernikahannya.

"Kenapa jantung gw gini ya? Sebenernya gw belum siap buat nikah, dan gw juga belum siap jadi suami terbaik buat Naura," batin Rakha dengan masih gak percaya kalau ia akan menikah.

"Tapi ingat perkataan Kevin tadi kok nyesek, kalau Naura itu mantannya. Padahal kan gw juga gak ada rasa sama Naura. Ahh... gak boleh suka, ingat Kha, cuma dijodohin!" ia masih terus ngebatin.

"Gw gak boleh sedih, besok adalah hari bahagia keluarga gw!" ucap Rakha, namun air matanya jatuh begitu saja.

Tiba-tiba seorang wanita paruh baya mendekatinya, berdiri di samping Rakha. Rakha pun menoleh ke arah itu. "Eyangg..." ucap Rakha spontan lalu langsung memeluknya.

Itu adalah Eyang Rena, ibu dari Andrian Daniswarah, yang datang dari Jogja. Rambutnya tersanggul khas Jawa, dengan kebaya hijau yang anggun.

"Eyang barusan sampai," ucapnya sambil melepas pelukan.

"Iya, eyang baru sampai. Tadi udah ketemu bunda, langsung eyang temui cucu eyang," lanjutnya lembut.

"Rakha kangen banget sama eyang. Rakha pengen curhat lagi sama eyang," ucap Rakha penuh antusias.

"Eyang juga kangen sama kamu," balasnya dengan senyum hangat.

"Kamu kenapa? Bukannya cucu eyang besok nikah sama siapa itu?" tanya eyang sambil mengelus punggung Rakha.

"Naura, eyang namanya. Tapi pernikahan ini dijodohin. Aku takut hubungan kita gak panjang. Berat rasanya, eyang, soalnya aku gak cinta," curhat Rakha sambil menatap bintang di langit.

"Rakha, dengar kata eyang. Kamu tau gak, orang tua kamu dulu juga dijodohkan?" ucap eyang, membuat Rakha kaget.

"Haa... jadi ayah sama bunda dijodohkan?" tanya Rakha terkejut.

"Iya. Tapi tadi bunda kamu bilang, kalau Naura itu orangnya baik, sopan, perhatian. Yang bikin eyang suka, dia bisa masak juga. Jadi ya, kalau dijodohin, lama-lama pasti bisa sayang. Kata bunda juga kamu udah mulai akrab kan sama Naura?" tutur eyang lembut sambil tersenyum.

"Makasih ya, eyangg," jawab Rakha singkat dengan senyum kecil.

"Udah, kamu tidur. Besok kamu akad. Semangat, cucu eyang," ucap eyang sambil berjalan keluar kamar.

"Iyaa, eyangg..." balas Rakha dengan senyum, lalu ia rebah ke kasur.

Sementara itu, tidak dengan Naura. Dari tadi ia hanya buka-tutup handphone, pikirannya dipenuhi bayangan tentang malam pertama esok hari.

"Rakha gak mungkin lah. Lagian kan dia juga gak suka sama gw. Tapi gw takut juga!" batin Naura sambil menarik selimut, menutupi seluruh tubuhnya.

* * *
Pagi hari yang cerah, matahari sudah bersinar begitu indah. Naura sudah bersiap-siap untuk pergi ke hotel bintang lima untuk menghadiri pernikahannya.

"Udah siap?" tanya Altan kepada keluarganya, memastikan mereka segera berangkat.

"Ayuk," jawab Altan lagi.

Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di hotel dengan pengawalan ketat dari kepolisian. Naura langsung menuju kamar untuk memakai dress-nya.

Sementara itu, para tamu sudah berdatangan dengan mobil-mobil mewah. Tak lama kemudian, keluarga Daniswarah datang dengan mobil sport mewah yang juga dikawal ketat.

"Jantung gw gak aman banget," batin Rakha dari dalam mobil sport. Ia hanya sendiri di dalam mobil itu, sementara keluarganya naik mobil pribadi.

"Eh bro, selamat bro!" Aksa menyapa ketika melihat Rakha sudah memakai baju adat Sunda untuk akad.

Rakha (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang