chapter 11

5.6K 325 2
                                        

Pagi pun tiba. Seluruh siswa Mega Pelita Kreasi sibuk beres-beres, ngelepas tenda masing-masing. Termasuk Rakha dan curut-curutnya. Di sisi lain, Naura dan gengnya cuma bisa senyum-senyum karena mereka nggak bisa bongkar tenda sendiri.

"Aduh, gimana sih cara ngelepas tenda ini," keluh Adara bingung.

"Aaah, kenapa nggak bisa-bisa sih," tambah Vinia kesel.

"Gimana ya?" Naura mikir, nyari cara biar tendanya kebongkar juga.

Rakha akhirnya maju bantuin. "Sini gue bantu. Jadi tuh, talinya tinggal ditarik gini. Nah, udah deh, tinggal disusun aja," ucap Rakha sambil praktekin.

"Oh…" Adara melongo.

"Oh, oh emang paham lo," sahut Putri nyambungin kata-kata Adara sambil mukul punggungnya.

Curut-curut Rakha cuma bisa senyum liat tingkah mereka. Setelah semua beres, mereka siap-siap pulang.

"Anak-anak, semua udah siap pulang?" tanya Pak Brama.

"Sudah, Pak!" jawab siswa serempak.

"Kalau gitu, masuk bus sesuai kelompok kemarin ya. Masih ingat kan?"

"Masih!" teriak siswa lagi.

"Yaudah, sekarang naik bus," ucap Bu Karin.

Mereka langsung menuju bus. Rakha refleks gandeng tangan Naura sambil bawain tasnya. Naura cuma bisa heran.

"Kenapa Rakha belakangan ini perhatian banget ya sama gue?" batin Naura.

"Aaaa, pengen juga tasnya dibawain," celetuk Adara sambil lirik temennya.

"Sini, gue bawain, Dar," sahut Aksa langsung ngambil tas Adara dan gandeng dia.

"Hee, sejak kapan kalian jadian ha?" goda Alvaro.

"Diam lo, lo aja mesra banget semalem sama Vinia," balas Aksa.

"Udah, ayo jalan. Nanti telat," ucap Dafi.

Bus pun jalan. Naura keliatan nguap, matanya berat, kecapean abis jurit malam.

"Nau, lo ngantuk?" tanya Rakha dengan suara lembut.

"Iya, Kha. Tapi gue nggak mau tidur. Soalnya semalem udah tidur. Masa sekarang tidur lagi," jawab Naura sambil liatin pemandangan dari kaca.

"Nau, kalau ngantuk jangan dilawan. Tidur aja, nanti pusing lagi," gumam Rakha sambil nasehatin. Tangannya refleks megang wajah Naura. Mereka sempet saling tatap cukup lama, sampai Naura buru-buru alihin pandangan ke kaca.

Di sisi lain, Dafi duduk bareng Yuenda. Mereka diem aja. Dafi sebenernya udah ada rasa sama Yuenda, tapi gengsi banget buat ngungkapin. Apalagi sekarang Yuenda udah berhijab.

"Gw gengsi, Yuen. Lo berhijab, aurat tertutup. Lo pasti tau nggak boleh pacaran," batin Dafi sambil mandang wajah Yuenda yang manis dengan pashmina.

"Mohon maaf, Dafi. Kok lo mandangin gue terus ya?" tegur Yuenda.

"Eh, sori. Nggak papa kok. Gue tadi liatin hutan, cakep banget," jawab Dafi dengan senyum kaku.

"Ohh, sori ya," balas Yuenda ikut senyum.

"I-iya," sahut Dafi kikuk.

Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di sekolah Mega Pelita. Semua siswa dipersilakan pulang. Curut-curut Rakha pulang bareng duluan.

"Eh, Nau, kita duluan ya," ucap geng Naura.

"Iya, kalian duluan aja," jawab Naura.

"Nau, lo belum pulang?" tanya Rakha.

"Belum, Kha. Gue nunggu supir. Lo pulang aja duluan," balas Naura yang duduk di halte.

"Nau, tapi bahaya. Lo cewek, sepi gini," ucap Rakha sambil megang pundaknya.

"Kha, lepas dong. Bisa nggak sih ngomong nggak usah sambil gituan," ucap Naura kesel. Rakha akhirnya lepasin tangannya.

"Yaudah, gue temenin aja di sini," kata Rakha cuek.

"Nggak usah. Lo pulang aja, supir lo udah nungguin tuh," balas Naura, nggak enak kalau Rakha harus nemenin.

"Gak." Rakha tetep cool.

Tiba-tiba, sekelompok preman datang. Mereka godain Naura, bahkan ada yang megang pipinya dan mau ngambil HP-nya. Untung Rakha gercep.

"Hee, berani sama cewek lo!" bentak Rakha.

"Diam lo!" sahut preman.

"Kha, tolong gue," lirih Naura, matanya berkaca-kaca ketakutan.

"Lawan gue sini kalau berani!" ucap Rakha sambil maju, ngajak preman ke tempat lebih lapang.

"Lo punya nyali apa nggak?" tantang preman.

Tanpa banyak mikir, Rakha langsung ngehajar mereka. Tinju demi tinju keluar. Nggak lama, preman-preman itu babak belur dan kabur.

"Berani jangan sama cewek!" tegas Rakha. Dia langsung balik ke Naura.

"Lo nggak papa, Nau?" tanya Rakha cuek tapi jelas-jelas perhatian.

"Gue nggak papa. Lo sendiri gimana, Kha?" tanya balik Naura.

"Rakha kok jago banget ya berantem. Oh iya, dia kan anak geng motor yang dark-dark gitu," batin Naura sambil usap air matanya.

"Gue nggak papa kok," jawab Rakha.

"Itu supir gue. Makasih ya, Kha, udah bantuin gue sama nemenin tadi," ucap Naura sambil jalan ke mobil.

"Iya, sama-sama, Nau," sahut Rakha lalu ngambil tasnya dan jalan ke mobilnya sendiri.

***
Lanjut?

Vote 💖🤍

Commen 🤍💚

Ada yang gengsi untuk mengungkap perasaan nya nih.

DAFI STEVANO✨

RADEN RAKHA DANISWARAH 💐
ELISA NAURA EBALEND 💐

Rakha (End)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang