11 | Tuduhan Aneh

3.3K 283 31
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Selesai makan siang, mereka berempat pun segera berniat meninggalkan restoran tersebut. Romi dan Kahlil meninggalkan meja yang mereka tempati setelah Dandi selesai membayar di kasir. Zulkarnain dan Meilani sudah pergi lebih dulu menuju ke rumah korban. Mereka berdua jelas harus mencari tahu apakah anggota keluarga korban sudah pulang atau belum. Karena bagaimana pun, ada hal yang harus ditanyakan oleh pihak kepolisian terkait kematian Junarto. Risa masih berada di depan restoran karena menunggui Dandi yang sedang membayar di kasir. Setelah Dandi keluar, ia pun segera menyamai langkah dengan pria itu.

"Eh? Kamu masih di sini, Dek Risa? Kenapa tidak pergi duluan bersama Mei dan Pak Zul?" tanya Dandi, yang tampak terkejut dengan keberadaan Risa.

"Aku enggak mau Mas Dandi ngambek kalau sampai ditinggal sendirian," jawab Risa.

Dandi pun tertawa pelan usai mendengar jawaban itu. Ia kemudian berjalan bersisian bersama Risa, sementara Romi dan Kahlil ada di belakang mereka tanpa mereka sadari. Kahlil jelas merasa cemburu saat melihat Risa jalan berdua dengan Dandi saat itu. Namun dirinya sadar, bahwa ia tidak berhak melarang wanita itu untuk jalan berdua dengan seseorang. Risa bukan miliknya lagi seperti dulu. Dia sudah bukan siapa-siapa bagi Risa yang masih merasa sakit hati dengan apa yang pernah ia lakukan di masa lalu.

"Mana mungkin aku ngambek hanya karena ditinggal jalan sendirian? Aku bukan anak kecil sehingga harus ngambek padamu," ujar Dandi.

"Itu alasanku saja, Mas. Barusan aku bingung mau jawab apa, karena Mas Dandi tiba-tiba memberikan pertanyaan dadakan. Makanya aku menjawab asal seperti itu," jelas Risa.

"Jadi artinya, kamu memang sengaja menungguku di depan restoran tadi?"

Risa pun mengangguk seadanya, lalu kembali diam saja seperti biasa. Dandi tahu kalau Risa sudah terbiasa diam dalam banyak kesempatan. Wanita itu jarang sekali bicara jika tidak diajak bicara lebih dulu. Namun kali itu ia merasa cukup senang, karena Risa sengaja menunggunya agar mereka bisa berjalan bersama menuju ke Desa Banyumanik. Risa bahkan tidak merasa malu untuk mengakui hal itu di hadapannya, sehingga Dandi terus saja tersenyum meski kini mereka tidak lagi saling bicara.

Zulkarnain tampak melambaikan tangan ke arah Risa dan Dandi. Pria itu memanggil mereka agar segera mendekat ke rumah korban. Meilani terlihat sedang menenangkan seseorang ketika Dandi dan Risa tiba di sana. Romi dan Kahlil berhenti di dekat pagar rumah Kahlil, lalu memperhatikan keadaan rumah korban yang baru saja meninggal kemarin.

"Ada apa, Zul?" tanya Risa.

"Terornya terjadi lagi," jawab Zulkarnain, sambil menunjuk ke arah bunga mawar putih berlumuran darah yang tergeletak di lantai teras rumah itu.

Dandi mendekat ke arah Meilani bersama Zulkarnain. Istri korban tampak begitu shock sehingga butuh ditenangkan. Risa mendekat ke arah bunga mawar putih yang berlumur darah di teras rumah itu setelah memakai sarung tangan lateks miliknya. Kahlil dan Romi sama-sama memperhatikannya, lebih dari mereka memperhatikan keadaan yang terasa mencekam.

"Maaf, Bu Riana. Bisakah Bu Riana jelaskan pada kami mengenai apa yang terjadi?" pinta Zulkarnain.

Riana berusaha menyeka airmatanya sambil terus menatap ke arah bunga mawar putih berlumur darah yang kini sedang diperiksa oleh Risa.

"Kami baru saja pulang dari rumah Kakek dan Nenek Almarhum Suamiku. Kakek dan Nenek dari Almarhum Suamiku itu ikut ke sini, karena mereka ingin menemani kami selama dalam masa berkabung. Saat kami tiba, sama sekali tidak ada apa-apa di teras rumah ini. Tapi setelah kami masuk ke dalam rumah dan menutup pintu, tiba-tiba saja ada yang mengetuk tiga kali dari luar. Aku dan Putriku beranjak ke depan bersama-sama, karena berpikir bahwa itu adalah tamu yang hendak melayat seperti kemarin. Tapi saat kami membuka pintu, sama sekali tidak ada orang di teras dan pada lantai teras kami kembali menemukan bunga mawar berdarah itu seperti yang ditemukan oleh Suamiku kemarin pagi. Putriku sekarang ada di dalam bersama Kakek dan Nenek buyutnya. Dia juga ketakutan seperti aku saat melihat bunga mawar berdarah itu," jelas Riana.

Risa menatap bunga mawar putih yang berlumuran darah tersebut dari jarak yang begitu dekat. Bau amis darah jelas lebih tercium daripada aroma bunga mawar putih tersebut. Risa menatap kelopak bunga mawar yang ia pegang saat itu, lalu menemukan sebuah garis kecil berwarna kecokelatan yang sama persis dengan bunga yang ia hirup aromanya di rumah milik Nyai Kenanga, tadi. Sejenak ia berpikir keras tentang persamaan antara bunga mawar putih yang dipakai untuk meneror itu dengan bunga mawar yang ia hirup aromanya. Akal sehatnya seketika memperdebatkan sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan di depan orang lain.

Seorang laki-laki tua keluar dari rumah itu, lalu menatap penuh amarah ke arah bunga mawar putih berlumur darah yang sedang diperiksa oleh Risa.

"Teror mawar berdarah itu pasti ulah dari Nyai Kenanga! Perempuan itu adalah salah satu pengguna ilmu hitam, sehingga dia bahkan bisa menghilang tanpa jejak dari Desa ini!" tuduh laki-laki tua itu dengan suaranya yang nyaring.

Warga yang berada di sekitar rumah tersebut bisa mendengar tuduhan yang mendadak dilayangkan kepada Nyai Kenanga. Seketika Risa pun menoleh ke arah laki-laki tua itu sambil tetap memegangi bunga mawar putih berlumur darah tadi. Laki-laki tua yang tak lain adalah Sutejo, mendadak membolakan kedua matanya ketika menatap wajah Risa yang memiliki kemiripan dengan Nyai Kenanga.

"Ka--kamu ... kamu ma--masih hi--hidup?" tanya Sutejo, dengan ekspresi takut yang tak bisa disembunyikan.

Dandi segera beranjak mendekat ke arah Risa dan berdiri di sampingnya.

"Maaf, apa maksud anda membawa-bawa nama Nyai Kenanga dalam teror yang terjadi di teras rumah Almarhum cucu anda? Apakah anda mengenal Nyai Kenanga sebelumnya?" tanya Risa.

Risa tak peduli jika Sutejo sedang ketakutan saat melihat wajahnya yang memiliki kemiripan dengan Nyai Kenanga. Ia tidak bisa menerima tuduhan tidak berdasar yang Sutejo katakan tentang Nyai Kenanga. Entah kenapa ia merasa tidak suka saat mendengar Sutejo berkata hal yang buruk soal Nyai Kenanga.

"Ka--kamu ... kamu siapa? Ke--kenapa wa--wajah kamu bisa mi--mirip sekali de--dengan wa--wajah Nyai Kenanga?" Sutejo terus berjalan mundur sampai menabrak pintu rumah.

Riana tampak merasa aneh dengan tingkah laku Kakek Almarhum suaminya tersebut. Tidak biasanya Sutejo merasa ketakutan seperti itu di depan banyak orang. Biasanya Sutejo selalu menjaga martabatnya sebagai orang terpandang.

"Mbah Tejo ... tidak usah bawa-bawa nama Nyai Kenanga lagi! Nyai Kenanga itu orang baik dan semua yang pernah mengenalnya tahu akan hal itu. Tidak pantas jika Nyai Kenanga sampai dituduh dengan hal-hal buruk begitu oleh sampeyan!" seru salah satu warga yang tampaknya seusia dengan Sutejo, dari halaman rumahnya sendiri.

Kahlil dan Romi merasa kebingungan dengan situasi yang sedang terjadi saat itu. Mereka mencoba bertanya pada Zulkarnain soal maksud pertanyaan Sutejo pada Risa, dan Zulkarnain pun hanya bisa mengirimkan lukisan Nyai Kenanga yang tadi sempat ia foto menggunakan ponsel. Seketika kedua pria itu terkejut setengah mati, karena wajah Nyai Kenanga memang sangat mirip dengan wajah Risa.

* * *

TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang