- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Risa masih diam saja meski sudah melihat dan mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Sutejo maupun Juminah. Wanita itu sedang memikirkan bagaimana caranya agar ia bisa segera membongkar semuanya, termasuk membongkar taman bunga di halaman belakang untuk mengangkat jasad Nyai Kenanga yang dikubur oleh Sutejo di sana. Dandi bisa menangkap kegelisahan di wajah Risa, sehingga dirinya mulai mempertanyakan sesuatu yang jelas hanya bisa dijawab oleh Risa seorang. Karena ia tahu, sosok Nyai Kenanga begitu mempercayai Risa lebih dari apa pun.
"Dek," panggilnya, pelan.
Risa pun menoleh saat mendengar suara Dandi dan merasakan genggaman tangannya yang begitu hangat. Ia berupaya tersenyum, namun ia juga sadar bahwa senyumnya kali itu tidak akan bisa membuat Dandi teralihkan dari rasa penasarannya.
"Kamu sudah tahu bahwa Mbah Tejo adalah pembunuh Nyai Kenanga, dan kamu juga sudah tahu bahwa Istrinya Mbah Tejo adalah orang yang menyaksikan kalau Suaminya membunuh Nyai Kenanga. Benar begitu? Itukah yang diperlihatkan Nyai Kenanga padamu semalam, saat kamu pingsan setelah menghirup aroma bunga mawar putih di halaman belakang?" tanya Dandi.
Risa kini tampak menatap ke arah Romi yang masih ada di dalam kamar itu.
"Bicara saja, Sa. Aku sudah sering dengar Mbah Asih dan Mbah Putriku membicarakan soal kemampuan kedua matamu untuk melihat hal yang tidak bisa dilihat manusia pada umumnya. Aku juga sudah tahu bahwa kamu sering melihat sosok Nyai Kenanga di rumah ini. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari aku, jika Mbah Putriku sering membicarakan hal itu bersama Mbah Asih di rumahnya," ujar Romi, agar Risa tidak ragu-ragu berbicara meski dirinya ada di hadapannya.
"Aku enggak lagi mengkhawatirkan itu, Rom," balas Risa.
"Terus? Kalau kamu tidak mengkhawatirkan hal itu, kenapa kamu melihat ke arahku?" heran Romi.
"Aku sedang menatap ke arah Nyai Kenanga yang sejak tadi berada di belakangmu."
Romi pun langsung melipir ke arah Zulkarnain berada. Ia jelas tidak mau menghalang-halangi Risa yang mungkin akan berkomunikasi dengan Nyai Kenanga.
"Nyai," lirih Risa, seraya tersenyum dengan kedua mata berkaca-kaca.
Sosok Nyai Kenanga pun tersenyum ke arah Risa.
"Bagaimana pun aku berusaha untuk menutupinya, pada akhirnya Mbah Panji akan tetap tahu, bukan?" tanya Risa.
Sosok itu mengangguk pelan dan tetap tersenyum untuk membuat Risa tidak merasa semakin bersedih.
"Aku jelas tidak punya jalan lain 'kan, Nyai? Bagaimana pun, akhirnya aku harus menceritakan segalanya pada Mbah Panji dengan jujur, meski akhirnya Mbah Panji akan merasa sangat marah dan terluka. Tapi jika itu adalah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh untuk segera membebaskan dirimu dari tempatmu terjebak selama dua puluh lima tahun terakhir, maka aku akan melakukannya. Aku akan menemui Mbah Panji dan membicarakan semua hal yang terjadi padamu terakhir kalinya sebelum ... dia merenggut nyawamu. Akan aku usahakan, Nyai, agar Mbah Panji tidak meluapkan amarahnya pada orang itu. Aku akan berusaha sekuat yang aku mampu untuk membuatnya menahan emosi. Insya Allah," janji Risa.
Sekejap kemudian, sosok Nyai Kenanga pun kembali menghilang dari kamar itu. Risa pun segera menatap ke arah Dandi dan Meilani.
"Mas Dandi dan Mei harus bersiap. Saat aku menceritakan semuanya pada Mbah Panji, kalian berdua harus segera menyusun rencana untuk mengangkat jasad Nyai Kenanga dan membawanya ke laboratorium forensik untuk melakukan autopsi terhadap jasadnya," pinta Risa, sambil menyeka airmatanya.
"Kamu sudah tahu di mana Nyai Kenanga dikuburkan oleh Mbah Tejo?" tanya Zulkarnain.
Risa pun mengangguk.
"Sudah, Zul. Aku sudah tahu sejak semalam, karena Nyai Kenanga memperlihatkan padaku seluruh rangkaian kejadiannya sampai akhir. Aku ... itulah alasannya kenapa semalam aku hanya bisa menangis tanpa mengatakan apa-apa. Semuanya terlalu brutal untuk aku ceritakan. Tapi sekarang, mau tidak mau, aku tetap harus menceritakannya. Terutama kepada Mbah Panji," jawab Risa.
Semua orang terdiam di tempatnya masing-masing. Mereka jelas tidak bisa membayangkan bagaimana yang Risa saksikan dari kejadian yang menimpa Nyai Kenanga, jika Risa menyebut rangkaian kejadian itu adalah kejadian yang brutal. Risa jelas tidak mungkin berbohong mengenai hal yang dilihatnya. Ekspresi Risa sendiri tampak begitu sangat terluka dan dipenuhi kesedihan. Meski tidak ada ikatan apa-apa di antara Risa dan Nyai Kenanga, namun yang pasti, Risa tampak sangat sakit hati setelah tahu segalanya tentang kejadian yang menimpa Nyai Kenanga dimasa lalu.
"Ayo ... sebaiknya kita segera saja menemui semua orang di ruang tamu, agar aku bisa segera bicara pada Mbah Panji," ajak Risa.
Mereka pun segera keluar dari kamar itu. Dandi terus menguatkan Risa dan meyakinkannya, bahwa bicara jujur pada Panji jelas adalah keputusan yang sudah benar-benar tepat.
"Mbah Kakung akan sangat marah jika kamu justru tidak memberi tahu apa-apa kepadanya. Percayalah, Mbah Kakung akan sangat berterima kasih kalau mau mau jujur kepadanya. Dia pasti akan memenuhi keinginanmu, untuk tidak meluapkan amarahnya," bisik Dandi, yang kemudian diakhiri dengan sebuah kecupan hangat di pipi kanan Risa.
Risa pun memantapkan diri untuk benar-benar mengatakan semuanya kepada Panji. Ia yakin, bahwa Dandi jelas benar soal Panji yang justru akan merasa marah jika ia tidak memberi tahu yang sebenarnya. Dengan segenap keberanian yang ia miliki, kini dirinya bersimpuh di hadapan Panji untuk memohon lebih dulu sebelum bercerita.
"Katakan, Nak, ada apa? Kenapa kamu sampai harus bersimpuh seperti ini di hadapan Mbah?" tanya Panji.
Risa terus menundukkan kepalanya dan tidak berani menatap ke arah wajah Panji tanpa berurai airmata.
"Maaf, Mbah Kakung. Ada hal yang harus aku sampaikan pada Mbah Kakung terkait dengan peristiwa yang diperlihatkan oleh Nyai Kenanga kepadaku, semalam. Tapi ... sebelumnya aku ingin meminta Mbah Kakung berjanji, bahwa setelah Mbah Kakung mendengar semuanya, Mbah Kakung tidak boleh meluapkan amarah terutama pada orang yang aku sebut namanya nanti. Karena jika sampai hal itu terjadi, Nyai Kenanga tidak akan pernah bisa bebas dari tempatnya terjebak selama ini. Dia tidak akan bisa pergi dengan tenang. Dia akan tersiksa selamanya jika tahu bahwa Mbah Kakung tidak mengikhlaskan kepergiannya. Maukah Mbah Kakung berjanji seperti yang aku minta?" tanya Risa.
Panji seharusnya melayangkan protes karena dirinya terus dilarang meluapkan amarah atas apa yang menjadi sebab menghilangnya Nyai Kenanga. Namun mendengar alasan mengapa Risa sampai memintanya sambil bersimpuh, jelas tidak bisa ia abaikan. Ia jelas harus mengikhlaskan kepergian Nyai Kenanga, meskipun sebenarnya hal itu adalah perkara yang berat. Namun jika dirinya terus menahan Nyai Kenanga di rumah yang saat ini menjadi tempatnya terjebak, ia akan menjadi sosok yang paling egois dimata Nyai Kenanga.
"Baiklah, Nak. Insya Allah Mbah tidak akan melupakan amarah terhadap siapapun, termasuk kepada orang yang namanya akan kamu sebut," janji Panji, sambil menggenggam tangan Kumala untuk meminta dikuatkan.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)
Terror[COMPLETED] Pekerjaannya di Kantor Polisi belum benar-benar selesai, namun AKP Risa Arimbi harus mendapat pekerjaan tambahan akibat adanya teror yang menyerang Desa Banyumanik, Kota Semarang. Teror tersebut terjadi disertai adanya korban meninggal...
