- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Risa meminta Dandi dan Meilani untuk duduk sebentar di restoran hotel yang mereka datangi, setelah bertemu dengan Riana dan Alika. Kali itu Risa memesan Ice Americano dengan double shot, sementara Dandi dan Meilani sama-sama memesan Espresso. Mereka duduk bertiga pada satu meja yang berada di dekat dinding kaca restoran itu. Meilani jelas tak lupa memesan dua Almond Croissant sebagai cemilan yang akan membuatnya bisa menikmati secangkir Espresso.
"Ayam goreng empat potong dan sayur tauge dua mangkuk tampaknya tidak benar-benar bisa memuaskan lambung kamu, ya, Mei? Masih lapar?" tanya Dandi.
"Jangan mengungkit-ungkit makan siang kita tadi, Mas Dandi. Yang mendapat dua potong dada ayam goreng siang tadi itu 'kan Mas Dandi, bukan aku," jawab Meilani, sambil melirik sengit ke arah Dandi.
Dandi pun langsung setuju untuk tidak membahas soal ayam goreng lagi. Risa pun hanya tersenyum sambil mengambil foto Meilani menggunakan ponselnya. Ia membuat story WhatsApp dengan caption yang akan membuat Meilani mengalami stress tingkat kabupaten. Setelah ia selesai membuat status WhatsApp itu, ia pun segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu mulai membicarakan yang harus dibicarakan.
"Aku akan terus menggali sedalam mungkin soal Mbah Tejo. Ada kemungkinan bahwa dia sebenarnya tahu atau mungkin juga terkait dengan menghilangnya Nyai Kenanga dari Desa Banyumanik, dua puluh lima tahun lalu," ujar Risa.
"Hm, iya. Aku jelas setuju dengan kecurigaanmu itu. Setelah tahu soal hal yang Lika dengar secara langsung dari mulut Mbah Tejo, bahwa dia sengaja pergi dari Desa Banyumanik bertahun-tahun lalu bersama Istrinya bukan untuk merantau, rasanya dia memang patut kita selidiki lebih jauh. Terlebih, karena sosok Nyai Kenanga sendirilah yang sengaja mengirimkan teror mawar berdarah ke teras rumahnya selama tiga hari berturut-turut," sahut Meilani, tak bisa menyembunyikan keantusiasannya.
Sebuah pesan masuk ke ponsel Meilani dan tampaknya itu adalah pesan dari Zulkarnain. Sayangnya, Meilani sedang tidak mau menanggapi hal tersebut dan lebih memilih langsung membalik layar ponselnya ke arah meja yang sedang mereka tempati.
"Ya, itu jelas terdengar sangat berpotensi jika kita menaruh rasa curiga ke arah Mbah Tejo. Nyai Kenanga tidak akan menerornya, jika hilangnya dia dari Desa Banyumanik tidak terkait dengan Mbah Tejo. Terlebih ... kita sudah dengar sendiri bahwa dimasa lalu Mbah Tejo memang pernah menginginkan Nyai Kenanga tapi kalah oleh kesetiaan Nyai Kenanga terhadap Panji Satriaji yang selalu ditunggu kepulangannya," tambah Dandi.
Risa pun tertawa sejenak setelah meminum Ice Americano miliknya. Hal itu jelas membuat Meilani dan Dandi langsung menatap ke arahnya sambil memasang ekspresi penuh tanya.
"Lucu sekali Mbah tua satu itu. Merantau hanyalah alasan yang dia gunakan di depan kedua orangtuanya agar diizinkan pergi dari Desa Banyumanik. Hanya alasan semata, agar dia tidak perlu tinggal di Desa Banyumanik lagi. Dia takut akan sesuatu terkait Nyai Kenanga dan dia tidak mau kalau sampai Nyai Kenanga benar-benar membalas dendam kepadanya serta kepada anak-cucunya seperti sumpah yang sudah Nyai Kenanga ucapkan terakhir kali. Garis bawahi itu dalam catatanmu, Mei, bahwa Mbah Tejo mendengar sumpah yang Nyai Kenanga ucapkan terakhir kali. Sudah sangat jelas, bahwa dia memang terkait dengan hilangnya Nyai Kenanga dari Desa Banyumanik," Risa benar-benar sangat fokus pada Sutejo.
Meilani pun segera menggaris bawahi keterangan dari Alika pada bagian tentang Sutejo mendengar sumpah Nyai Kenanga terkahir kali.
"Hm ... aku jadi penasaran, bagaimana ekspresinya jika dia melihatku memakai pakaian yang sama seperti pakaian Nyai Kenanga terakhir kalinya dua puluh lima tahun lalu. Apakah dia akan langsung merasa shock? Merasa ketakutan? Apakah dia akan langsung lari dari hadapanku?" Risa tampak penasaran.
Meilani dan Dandi jelas kaget dengan apa yang baru saja Risa utarakan di hadapan mereka. Wanita itu bahkan tersenyum miring, seakan tengah benar-benar merencanakan niatannya.
"Dek Risa ... memangnya kamu tahu Nyai Kenanga memakai pakaian seperti apa pada saat terakhir kali dia berada di Desa Banyumanik? Bukankah hal itu bisa kita ketahui kalau seandainya kita menemukan ... ya ... jasadnya, entah di manapun itu," Dandi bertanya dengan berat hati dan sedikit ragu-ragu saat mengungkit soal jasad Nyai Kenanga.
Risa pun menatap ke arahnya dan benar-benar tersenyum seperti biasanya.
"Mas Dandi, selama dua hari terakhir ini aku selalu melihat sosok Nyai Kenanga di rumahnya. Aku jelas tahu pakaian apa yang dipakainya terakhir kali, karena seperti itulah dia terlihat olehku selama dua hari terakhir ini," jelas Risa.
"Oh!" Meilani teringat sesuatu. "Kebaya sederhana berwarna putih buram dan kain jarik yang dominan berwarna cokelat, 'kan?"
"Iya, itu benar. Kamu sempat melihat sosok Nyai Kenanga pagi tadi, saat Nyai Kenanga sedang mengirimkan teror ke rumah Mbah Tejo, bukan? Seperti itulah pakaiannya terakhir kali yang dikenakan oleh Nyai Kenanga sebelum menghilang dari Desa Banyumanik," jawab Risa.
"Menurutmu kita bisa dapatkan semua pakaian yang persis seperti itu, Mei?" tanya Dandi, yang jadi punya keinginan untuk mencoba niatan Risa.
Meilani dan Risa kini saling menatap satu sama lain, setelah mendengar pertanyaan dari Dandi.
"Mas Dandi memikirkan niatanku soal memancing ketakutan Mbah Tejo terhadap Nyai Kenanga?" tanya Risa.
"Iya. Kamu benar, Dek. Aku memang sedang memikirkan niatanmu tadi. Aku rasa, niatanmu itu jelas sangat tepat jika ingin membuat Mbah Tejo membuka topengnya sendiri. Saat dia merasa ketakutan, dia akan mulai melakukan apa pun untuk menutupi semua kejahatannya di masa lalu terhadap Nyai Kenanga," jawab Dandi, apa adanya.
"Wah ... bukankah itu jadi terdengar seakan kita akan membantu Nyai Kenanga meneror Mbah Tejo?" celetuk Meilani sambil tertawa pelan.
"Setidaknya kita tidak mengirimkan teror mawar berdarah ke teras rumahnya. Lagi pula kalau aku ada di posisi Nyai Kenanga dan bisa membalas dendam pada Mbah Tejo, maka aku jelas akan lebih memilih membanjiri rumahnya dengan darah di mana-mana. Termasuk di dinding dan atap rumah," balas Risa, mengungkapkan pikiran liarnya soal balas dendam.
Dandi pun akhirnya tertawa begitu lepas usai mendengar rencana gila Risa jika menempati posisi Nyai Kenanga. Meilani hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala setelah mendengar semua itu.
"Sudah ... sudah ... sebaiknya kita segera pergi ke Pasar Johar sekarang juga, jika memang ingin melengkapi pakaian yang Risa butuhkan untuk cosplay menjadi Nyai Kenanga," ajak Meilani.
"Oke. Ayo kita berburu di Pasar Johar," Risa langsung setuju.
Dandi segera mengikuti langkah kedua wanita itu dan keluar dari restoran. Mereka benar-benar akan mencoba hal yang tadi Risa pikirkan soal memancing ketakutan Sutejo.
"Eh ... nanti rambutku harus ditata seperti rambutnya Nyai Kenanga juga ya," pinta Risa.
"Iyalah, jelas! Masa pakaianmu persis seperti Nyai Kenanga, tapi rambutmu justru ditata seperti model yang berjalan di panggung New York Fashion Week? Enggak nyambung!" omel Meilani, terpancing untuk mengeluarkan ceramah ke arah Risa.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)
Horror[COMPLETED] Pekerjaannya di Kantor Polisi belum benar-benar selesai, namun AKP Risa Arimbi harus mendapat pekerjaan tambahan akibat adanya teror yang menyerang Desa Banyumanik, Kota Semarang. Teror tersebut terjadi disertai adanya korban meninggal...
