53 | Penggalian

2.6K 250 11
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE PERHARI
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW

* * *

Para anggota kepolisian yang akan membantu proses penggalian langsung diarahkan oleh Dandi ke halaman belakang rumah milik Nyai Kenanga. Ia dan Zulkarnain berkoordinasi agar kegiatan mereka saat itu tidak menarik perhatian para warga Desa Banyumanik. Hal itu dilakukan untuk mencegah Sutejo ataupun Juminah mengetahui soal jasad Nyai Kenanga yang akan segera diangkat dari tempat di mana Sutejo menguburkannya dua puluh lima tahun lalu. Romi kini kembali bertugas memantau rumah Sutejo dari rumah Rumsiah, yang jauh lebih jelas jangkauan pantaunya.

Risa dan Meilani keluar dari kamar masing-masing setelah selesai memakai seragam kerja mereka. Mereka jelas harus hadir dengan penampilan seperti biasanya, agar tidak ada yang mengira bahwa mereka sedang sengaja tidak menghadiri hari kerja.

"Kita ini termasuk wanita yang sat-set sat-set, ya, ternyata. Pagi-pagi buta masih pakai celana training dan hoodie, enggak sampai beberapa jam berganti pakai kebaya, dan akhirnya enggak sampai menjelang waktu sore kita sudah kembali berseragam seperti biasanya," bisik Meilani.

"Iya, kamu benar. Saking sat-set sat-setnya, kamu bahkan pakai sepatu boots sebelah dan sepatu pantofel sebelah," tanggap Risa, sambil menunjuk ke arah kaki Meilani.

Meilani kini menatap ke arah yang sama dan langsung menepuk keningnya. Wanita itu segera berlari menuju kamarnya kembali dengan terburu-buru untuk melepas sepatu pantofel dan memasang pasangan sepatu boots miliknya. Biasanya Risa akan langsung menertawai hal seperti itu jika keadaan sedang berjalan normal. Namun saat itu, pikiran Risa hanya tertuju pada taman bunga mawar putih kesayangan Nyai Kenanga yang sebentar lagi akan segera digali untuk mengangkat jasad Nyai Kenanga dari bawah tanah.

"Sa? Kamu sudah siap?" tanya Meilani, setelah mengganti sepatunya.

"Aku harus selalu siap, Mei. Sesedih apa pun aku atas kejadian buruk yang menimpa Nyai Kenanga dua puluh lima tahun lalu, aku tetap harus menghadapi semuanya agar Nyai Kenanga bisa mendapatkan kebebasan dan keadilan," jawab Risa. "Oh ya, setelah semuanya terbongkar nanti, tolong temani aku untuk menceritakan semuanya pada Bu Riana dan juga Putrinya, Alika. Mereka berhak mendapat penjelasan soal teror mawar berdarah yang terjadi dan merenggut nyawa Almarhum Kepala Keluarga mereka. Sumpah Nyai Kenanga di masa lalu terhadap laki-laki sinting itu yang menyebabkan Kepala Keluarga mereka harus membayar perbuatan laki-laki sinting itu di masa lalu. Sumpahnya akan terus berjalan, jika Nyai Kenanga tidak juga mendapatkan kebebasannya."

"Ya, tentu saja, Sa. Aku pasti akan menemani kamu untuk memberikan penjelasan pada Bu Riana dan Alika. Sekarang sebaiknya kita keluar. Mari kita membersamai Mas Dandi yang akan memberikan arahan kepada para anggota kepolisian yang akan membantu penggalian taman bunga mawar putih kesayangan Nyai Kenanga," ajak Meilani.

Kedua wanita itu pun segera berjalan keluar dari rumah Nyai Kenanga menuju ke halaman belakang. Panji sudah berada di teras belakang bersama Kumala, Asih, dan Rumsiah. Yatno berdiam di teras depan untuk berjaga-jaga, siapa tahu ada kabar dari Romi soal Sutejo yang mendadak keluar rumah. Sutejo jelas tidak boleh sampai tahu kalau jasad Nyai Kenanga tengah berusaha digali, karena akan ada kemungkinan Sutejo dan Juminah melarikan diri dari Desa Banyumanik jika sampai tahu.

"Jadi ... pertama-tama yang akan kita lakukan sebelum melakukan penggalian pada taman itu adalah memindahkan satu-persatu pohon-pohon bunga mawar dari sana secara hati-hati. Jangan sampai ada satu pohon pun yang terpotong dari akarnya. Pohon-pohon bunga mawar itu sangat penting untuk dijaga, karena akan ikut dijadikan bukti ketika nanti kita adakan olah TKP setelah menangkap pelaku pembunuhan terhadap korban yang dikubur secara tidak layak di bawah taman bunga itu. Apa kalian semua paham? Apakah masih ada yang tidak dimengerti?" tanya Dandi.

Salah seorang anggota Polisi mengangkat tangannya tak lama kemudian.

"Apakah pelaku sudah diketahui identiasnya saat ini, Komandan?"

"Identitas pelaku sudah diketahui. Kita hanya perlu menggali tempat jasad korban dikuburkan. Ada bukti yang juga harus di temukan dari bawah taman bunga itu. Aku sendiri yang akan mencari buktinya setelah jasad korban ditemukan," jawab Risa, mewakili Dandi.

Setelah mendapat jawaban, para anggota Polisi yang akan segera melakukan penggalian mulai memindahkan pohon-pohon bunga mawar putih dengan penuh kehati-hatian. Dandi ikut serta dalam usaha tersebut, sementara Risa dan Meilani mengarahkan tempat di mana pohon-pohon bunga mawar putih itu harus ditempatkan setelah dicabut bersama akar yang masih tertempel tanah pada bagian bawahnya. Hal itu dilakukan untuk mencegah pohon-pohon bunga itu mati akibat dicabut dari tempatnya hidup selama ini.

Perasaan Panji masih berkecamuk dan sama sekali belum benar-benar tenang. Ia tidak sabar ingin segera membuktikan bahwa semua yang Risa ceritakan mengenai kilasan masa lalu yang diperlihatkan oleh Nyai Kenanga adalah benar adanya. Kumala terus menggenggam tangan Panji untuk memberinya kekuatan, ketika akan menghadapi saat-saat paling ditunggu. Wanita itu juga sama berharapnya seperti Panji, bahwa apa yang Risa katakan adalah benar, bahwa jasad Nyai Kenanga benar-benar ada di bawah taman bunga mawar putih itu dan bisa segera ditemukan. Ia dulu juga adalah warga Desa Banyumanik sebelum diusir oleh kedua orangtuanya setelah diceraikan akibat tidak bisa memberi anak. Ia mengenal Nyai Kenanga, sama seperti kebanyakan warga lain mengenalnya. Ia tahu persis bagaimana dulu Panji mencari keberadaan Nyai Kenanga selama tiga tahun penuh, hingga akhirnya menyerah dan pergi sambil membawa luka yang tidak pernah sembuh.

"Insya Allah sebentar lagi semuanya akan benar-benar selesai, Pak. Kita akan menemukan Nyai Kenanga dan akan memakamkannya dengan layak," bisik Kumala.

"Itu yang sedang aku pikirkan, Bu. Akan dimakamkan di mana Kenanga pada akhirnya nanti jika memang dia selama ini dikubur oleh Sutejo di taman bunga mawar putih kesayangannya? Apakah dia akan suka jika pada akhirnya akan dimakamkan di tempat pemakaman umum? Dia sangat menyukai semua bunga mawar putih yang ada di taman itu. Sehingga ketika sudah tiada pun, dia tetap merawatnya hingga taman itu ditemukan oleh Risa melalui aroma bunga-bunga mawar yang selalu segar. Aku akan mengikhlaskan kepergiannya, Bu, seperti yang Risa inginkan. Tapi aku masih saja merasa tidak ingin jauh darinya. Padahal seharusnya aku sadar, bahwa kini kami sudah benar-benar tidak bisa bersama apa pun alasannya," ungkap Panji, jujur dari lubuk hatinya yang terdalam.

Penggalian pada taman bunga mawar milik Nyai Kenanga pun dimulai. Dandi terus memimpin dan ikut dalam usaha penggalian itu. Zulkarnain terus memantau sebagai Kepala Desa di Desa Banyumanik. Sosok Nyai Kenanga sendiri kini tampak tengah tersenyum ke arah Risa yang juga tengah menatapnya. Perpisahan itu akan benar-benar terjadi. Baik itu sosok Nyai Kenanga maupun Risa, keduanya tahu bahwa tidak akan ada lagi yang sama setelah jasad Nyai Kenanga dimakamkan secara layak.

* * *

TEROR MAWAR BERDARAH (SUDAH TERBIT)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang